OPINI

Dari Kerinci ke OKU Selatan: Warisan Kopi Indonesia untuk Dunia

Petani kopi harus mengubah pola pikir—dari sekadar "tanam dan tunggu" menjadi "merawat secara berkala" dengan hati.

Editor: Lisma Noviani
YouTube Tribun Sumsel
KOPI SUMSEL -- Foto bersama Pemimpin Redaksi Sriwijaya Post dan Tribun Sumsel, Yudie Thirzano (kanan) dan Kepala Kanwil DJPb Sumsel, Rahmadi Murwanto Ak., MAcc., MBA, Ph.D, Direktur PT Agro Tropica Nusantara Emma Fatma dan Dosen Studi D-IV Akuntansi Sektor Publik PKN STAN, Khusnaini, S.S.T., Ak., M.A.B. (Dosen di Program STudi D-IV Akuntansi Sektor Publik PKN STAN) dalam podcast membahas "Cerita Kopi OKUS : Antara Harapan, Tantangan dan Peran Semua Pihak". 

Pertama, mempermudah akses perjalanan dan perizinan. Banyak sentra kopi di OKU Selatan yang terisolasi dengan infrastruktur jalan yang buruk. Ini menghambat distribusi hasil panen dan meningkatkan biaya logistik.

Kedua, memfasilitasi sertifikasi dan branding kopi lokal. Varietas lokal seperti "Melancar" di Mekakau Ilir harus segera didaftarkan dan disertifikasi agar memiliki identitas resmi. Dengan branding yang kuat, kopi OKU Selatan bisa menembus pasar premium, baik nasional maupun internasional.

Ketiga, memastikan ketersediaan pupuk subsidi dan alat pengolahan pascapanen. Kelangkaan pupuk adalah masalah serius yang harus segera diatasi. Selain itu, bantuan alat pengering mekanis (dryer) akan sangat membantu petani mengatasi kendala cuaca dan menjaga kualitas biji kopi.


Penutup: Kopi adalah Cermin Peradaban

Dari Kerinci hingga OKU Selatan, dari Indonesia ke dunia—kopi adalah cermin peradaban. Ketika petani kecil di kaki Gunung Kerinci bisa menghasilkan biji yang dinikmati di kafe-kafe Tokyo, Kairo dan Amerika, itu bukan sekadar transaksi dagang. Itu adalah martabat yang dibangun setangkai demi setangkai.

Kami percaya OKU Selatan memiliki potensi yang tidak kalah dengan Kerinci. Dengan dukungan geografis yang ideal, varietas lokal yang khas, dan semangat petani yang tinggi, tidak ada alasan bagi kopi OKU Selatan untuk tidak mendunia.

 Namun, semua itu hanya akan terwujud jika ada kolaborasi yang erat antara petani, pengusaha, dan pemerintah. Jika hal ini dijaga bersama, ia akan menjadi warisan yang tak ternilai—dari Kerinci ke OKU Selatan, dari Indonesia ke dunia.(*)

Baca juga: Purbaya Effect di Tengah Tiga Kegelapan Ekonomi

Baca juga: Kopi Tebat Benawa, Kolaborasi PT Pusri Kembangkan Hasil Tani di Gunung Dempo Pagar Alam

Baca juga: Dorong Hilirisasi, Kemenperin Siap Sulap Kopi Pagar Alam Jadi Produk Industri Unggulan

Baca juga: OPINI - Beli Hasil Panen Sampai Pasar Ekspor: Model Baru Pemberdayaan Nelayan dan Petani 

Sumber: Tribun Sumsel
Halaman 3/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved