OPINI

Dari Kerinci ke OKU Selatan: Warisan Kopi Indonesia untuk Dunia

Petani kopi harus mengubah pola pikir—dari sekadar "tanam dan tunggu" menjadi "merawat secara berkala" dengan hati.

Editor: Lisma Noviani
YouTube Tribun Sumsel
KOPI SUMSEL -- Foto bersama Pemimpin Redaksi Sriwijaya Post dan Tribun Sumsel, Yudie Thirzano (kanan) dan Kepala Kanwil DJPb Sumsel, Rahmadi Murwanto Ak., MAcc., MBA, Ph.D, Direktur PT Agro Tropica Nusantara Emma Fatma dan Dosen Studi D-IV Akuntansi Sektor Publik PKN STAN, Khusnaini, S.S.T., Ak., M.A.B. (Dosen di Program STudi D-IV Akuntansi Sektor Publik PKN STAN) dalam podcast membahas "Cerita Kopi OKUS : Antara Harapan, Tantangan dan Peran Semua Pihak". 

Mengapa OKUS? Data BPS tahun 2023 menunjukkan bahwa kabupaten ini menyumbang produksi kopi tertinggi di Sumatera Selatan, mencapai 62.279 ton per tahun. Jika harga kopi di tingkat petani Rp50.000 per kilogram saja, potensi uang yang beredar lebih dari Rp3 triliun—hampir dua kali lipat APBD OKUS. Angka yang fantastis.

Namun ironisnya, ketika kami membaca laporan tentang kondisi petani kopi di OKUS, kami seperti melihat masa lalu Kerinci belasan tahun silam. Petani mengeluhkan harga kopi yang merosot meskipun ekspor sedang digencarkan.

Kopi petik merah jenis Robusta hanya dihargai Rp43.000 per kilogram, sementara Arabika hanya Rp35.000 per kilogram. Padahal, harga pernah menyentuh angka Rp75.000. 

Ini adalah penyakit kronis yang sama persis dengan yang dulu kami hadapi di Kerinci dulu: petani selalu menjadi price taker, bukan price maker. Mereka tidak punya daya tawar karena rantai pasok yang panjang dan praktik tengkulak yang masih dominan. 

Menerjemahkan Pengalaman Kerinci ke dalam Pemberdayaan Petani di OKUS

Dari pengalaman dua dekade, kami merumuskan tiga tantangan utama yang harus diatasi jika kita ingin mereplikasi kesuksesan Kerinci di OKUS:

Pertama, masalah produktivitas dan kualitas. Rata-rata produktivitas petani kopi di OKUS masih sekitar 1,5 Ton green bean asalan per hektare setahun. Ini masih di bawah potensi maksimal yang bisa dicapai dengan teknik budidaya yang baik. Selain itu, keterbatasan alat pengering (dryer) dan kendala cuaca membuat banyak petani terpaksa menjual hasil panen dengan kadar air yang tidak ideal.

Kedua, masalah kelembagaan dan akses pasar. Sebagai contoh, Petani Mekakau Ilir mengeluhkan bahwa 80 persen penduduk di daerahnya berkebun kopi, tetapi hasilnya kerap dijual ke Lampung tanpa identitas daerah. Padahal, ditemukan varietas lokal bernama "Melancar" yang berpotensi menjadi ikon Kopi Mekakau Ilir. Varietas ini belum terdaftar dan tersertifikasi, sehingga rawan diklaim daerah lain.

Ketiga, masalah kelangkaan pupuk subsidi. Banyak petani kesulitan mendapatkan pupuk subsidi meskipun memiliki kartu tani. Akibatnya, mereka terpaksa membeli pupuk nonsubsidi dengan harga mahal.

Langkah Konkret: Membawa Ruh Kerinci ke Bumi Serunting Sakti

Pemerintah Kabupaten OKUS tampaknya serius menggarap sektor kopi. Dalam penyusunan Raperda APBD 2026, Pemerintah daerah menyatakan akan meningkatkan kapasitas petani kopi melalui pelatihan dan pendampingan. Upaya pemerintah dalam hal ini patut diapresiasi.

 Langkah pertama yang perlu dilakukan berdasarkan pengalaman dari Kerinci: pendampingan tidak cukup dilakukan satu atau dua kali pelatihan, lalu selesai. Model yang berhasil adalah pendampingan berkelanjutan—dari hulu ke hilir, dari masa tanam hingga pascapanen dan pemasaran.

Bersama dengan Tim, kami berkomitmen untuk menjadi bagian dari solusi Petani kopi di OKUS. Rencananya, kami akan memulai dengan program percontohan di salah satu kecamatan sentra kopi. Pendekatannya sama seperti di Kerinci:

Pertama, masuk ke kehidupan petani secara personal – Bukan sebagai "pengusaha besar", tetapi sebagai mitra, mendengar keluhan, dan mencari solusi dengan duduk bersama petani.

Kedua, memberikan pelatihan teknis bertahap – Dimulai dari hal paling mendasar: teknik pembuatan lubang tanam, pemupukan berkala, dan yang terpenting, disiplin petik merah.

Ketiga, memberikan jaminan pasar dengan harga transparan – Petani harus tahu persis berapa nilai kopi mereka di pasar ekspor. Ini adalah fondasi kepercayaan yang tidak bisa ditawar. Skema ini sudah terbukti berhasil meningkatkan partisipasi petani di Kerinci. Kami yakin, dengan pendekatan yang sama, OKU Selatan bisa melampaui angka tersebut.

Peran Pemerintah yang Sangat Krusial

Pengalaman kami mengajarkan bahwa pendampingan tidak bisa dilakukan sendiri oleh swasta. Pemerintah memiliki peran yang sangat krusial. Dalam rencana pemberdayaan di OKU Selatan, kami berharap pemerintah daerah dapat memainkan peran strategis dalam tiga hal:

Sumber: Tribun Sumsel
Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved