OPINI

Dari Kerinci ke OKU Selatan: Warisan Kopi Indonesia untuk Dunia

Petani kopi harus mengubah pola pikir—dari sekadar "tanam dan tunggu" menjadi "merawat secara berkala" dengan hati.

Editor: Lisma Noviani
YouTube Tribun Sumsel
KOPI SUMSEL -- Foto bersama Pemimpin Redaksi Sriwijaya Post dan Tribun Sumsel, Yudie Thirzano (kanan) dan Kepala Kanwil DJPb Sumsel, Rahmadi Murwanto Ak., MAcc., MBA, Ph.D, Direktur PT Agro Tropica Nusantara Emma Fatma dan Dosen Studi D-IV Akuntansi Sektor Publik PKN STAN, Khusnaini, S.S.T., Ak., M.A.B. (Dosen di Program STudi D-IV Akuntansi Sektor Publik PKN STAN) dalam podcast membahas "Cerita Kopi OKUS : Antara Harapan, Tantangan dan Peran Semua Pihak". 

Oleh: Sukianto Lusli dan Emma Fatma

(Pimpinan PT Agro Tropica Nusantara dan Tim Pemberdayaan Petani Kopi OKU Selatan)

TRIBUNSUMSEL.COM -- Kami adalah salah satu anggota Tim yang diajak oleh Tim Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Perbendaharaan (DJPbn) Sumsel bersama Tim Politeknik Keuangan Negara (PKN) STAN, Bank Indonesia (BI) Sumsel untuk melakukan asesmen kepada petani dan kebun kopi di Desa Gunung Raya Ogan Komering Ulu Selatan (OKUS) Provinsi Sumatera Selatan.

Asesmen ini sebagai tahap awal rencana program pemberdayaan petani kopi di OKUS. Hasil asesmen menunjukkan bahwa kualitas kopi OKUS secara alami cukup baik, namun masih perlu sentuhan teknis dan manajerial.

Terkait dengan program pemberdayaan kopi, kami telah melakukan program itu sejak 20 tahun lalu. Dua puluh tahun bukanlah waktu yang singkat untuk berkutat dalam hiruk-pikuk biji kopi.

Kami memulainya bukan di ruang ber-AC yang penuh dengan sampel green bean, tetapi di kebun-kebun terpencil Kerinci, Jambi. Melainkan diawali hanya bersama sepuluh orang petani yang masih meraba-raba harapan.

Kini, setelah satu dekade telah menembus pasar ekspor ke Eropa, Mesir, dan Jepang sejak 2014, kami semakin yakin: kopi Indonesia tidak hanya soal rasa, tetapi juga tentang keadilan dan ketekunan.


Akar dari Segalanya: Pendampingan yang Dimulai dari Nol

Tahun-tahun pertama pendampingan di Kerinci diawali dari kegagalan. Ya, kegagalan demi kegagalan dalam meyakinkan dan membimbing petani bahwa sebatang kopi tidak bisa diperlakukan seperti sekedar tanaman tetapi ia sebagai “makhluk hidup” dan “perlu” mengajaknya berbicara sebagai sahabat kehidupan. 

Bimbingan kami mulai dari hal paling mendasar: bagaimana membuat lubang tanam yang benar. Tampak sepele, namun dari situlah akar kualitas ditanam. Petani harus mengubah pola pikir—dari sekadar "tanam dan tunggu" menjadi "merawat secara berkala" dengan hati. Proses ini memang tidak seperti membalik telapak tangan, tetapi dengan konsistensi perlahan membuahkan hasil panen yang baik.

Tahapan pascapanen adalah medan uji yang sesungguhnya. Trial and error menjadi menu harian. Berapa kali biji kopi gagal fermentasi, berapa kali kadar air meleset. Namun, dari kegagalan itulah kami menemukan standar produksi yang kini menjadi rujukan ekspor premium.

Hambatan terbesar pendampingan adalah meyakinkan petani untuk berubah. Pada akhirnya, angka-angka berbicara lebih nyaring dibandingkan seribu bujukan. Dari awalnya 10 orang, kini ada sekitar 750 petani yang bergabung.

 Mengapa? Karena mereka melihat sendiri perbandingannya: keuntungan dari bertani kentang kalah telak dengan kopi. Dengan lahan hanya 0,5 hektare (sekitar 1.000 batang), petani binaan kami yang disiplin melakukan "petik merah"—hanya memetik buah yang benar-benar matang—bisa menghasilkan hingga 3 ton kopi dalam satu bulan. Itu adalah lompatan ekonomi yang tak terbantahkan.

Kunci kepercayaan petani adalah transparansi harga. PT Agro Tropica Nusantara tidak pernah bermain harga di belakang. Kami membuka seluruh informasi pasar, mengikuti perkembangan harga internasional, dan memastikan petani tahu persis berapa nilai jerih payah mereka.

 Ini sangat kontras dengan praktik tengkulak yang kerap menekan harga serendah mungkin. Ketika petani merasa dilindungi secara ekonomi, mereka akan menjaga kualitas seperti menjaga harga dirinya sendiri.


Membaca Peta Kopi Nasional: Mengapa OKUS Menjadi Prioritas

Dari pengalaman di Kerinci, kami belajar bahwa model pendampingan yang berhasil tidak boleh berhenti di satu daerah. Kini, mata kami tertuju pada Kabupaten OKUS, Sumatera Selatan.

Sumber: Tribun Sumsel
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved