OPINI

Purbaya Effect di Tengah Tiga Kegelapan Ekonomi

Dalam situasi ini, Indonesia menghadapi tiga kegelapan ekonomi: tekanan utang negara, kurs rupiah yang tak menentu, dan lonjakan harga minyak global.

|
Editor: Lisma Noviani
LISMA/GRAFIS/CANVA
PURBAYA EFFECT -- Ilustrasi penulis opini Hasan Ashari, Mahasiswa Doktor Perbanas Institute tentang Purbaya Effect dalam 3 Kegelapan Ekonomi 

Oleh: Hasan Ashari

Mahasiswa Program Doktor Perbanas Institute

TRIBUNSUMSEL.COM -- Ramadhan telah berlalu. Kita saat ini berada di pertengahan Bulan Syawal. Bulan Syawal adalah bulan ke-10 dalam kalender Hijriah yang bermakna "peningkatan.”

Untuk mengalami peningkatan, hal pertama yang harus dilakukan orang yang beragama adalah melakukan perenungan.

Ya, bulan ini adalah bulan perenungan tentang segala hal, termasuk nasib perekonomian bangsa ini.  
Dalam Al-Qur’an, kisah Nabi Yunus adalah pelajaran tentang kesadaran di titik paling gelap.

Ketika berada dalam tiga kegelapan—malam, laut, dan perut ikan—ia menyadari keterbatasannya dan berdoa: “Laa ilaaha illaa anta, subhaanaka innii kuntu minaz-zaalimin.” 

Dari kesadaran itulah jalan keluar datang. Metafora atas “kesadaran” ini terasa relevan bagi ekonomi Indonesia hari ini.

Konflik geopolitik di Timur Tengah yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran telah mengguncang pasar energi global.

Gangguan di Selat Hormuz—jalur sekitar 20 persen pasokan minyak dunia—mendorong harga minyak melonjak hingga menembus USD112.42 per barel (4 April 2024). Dampaknya langsung terasa: inflasi global meningkat, pasar keuangan bergejolak, dan tekanan terhadap negara berkembang semakin besar.

Dalam situasi ini, Indonesia menghadapi tiga kegelapan ekonomi: tekanan utang negara, kurs rupiah yang tak menentu, dan lonjakan harga minyak global.

Pertama, tekanan terhadap utang negara semakin terlihat ketika lembaga pemeringkat seperti Moody’s dan Fitch Rating di bulan Februari dan Maret lalu menurunkan outlook Indonesia menjadi negatif.

Revisi outlook dipengaruhi oleh pandangan akan risiko dari penurunan kepastian kebijakan, yang apabila berlanjut dapat berimplikasi terhadap kinerja perekonomian. Hal Ini menandakan ruang fiskal semakin terbatas dan disiplin kebijakan menjadi sorotan utama pasar.


Kedua, volatilitas kurs. Rupiah yang telah menyentuh lebih dari Rp17.000 per dolar AS mencerminkan pergeseran sentimen global. Pelemahan ini tidak hanya meningkatkan biaya impor, tetapi juga memperberat beban utang luar negeri.

Ketiga, harga minyak. Sebagai net importer energi, Indonesia sangat rentan. Dengan harga minyak yang telah melampaui USD100 per barel, tekanan terhadap subsidi energi dan inflasi menjadi semakin nyata.

Di tengah tekanan ini, peran Purbaya Yudhi Sadewa sebagai Menteri Keuangan menjadi krusial. Ia tidak hanya mengelola APBN, tetapi juga menjaga kepercayaan pasar terhadap stabilitas ekonomi Indonesia.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved