OPINI

Generasi Pemburu Diskon Era Digital: Canggih Teknologi Namun Cermat Berbelanja

Di era digital ini, generasi baru telah muncul yang terampil menggunakan teknologi dan memanfaatkannya untuk menemukan penawaran produk terbaik.

Editor: Lisma Noviani
LISMA/GRAFIS/CANVA
PEMBURU DISKON -- Ilustrasi berburu diskon, menjadi fenomena dan gaya berbelanja di era digital yang banyak digandrungi generasi sekarang. 

Oleh :  Dr. Aslamia Rosa, SE, M.Si   

(Dosen Jurusan Manajemen, Fakultas Ekonomi Unsri)         
     

TRIBUNSUMSEL.COM, PALEMBANG -- Pada pukul 23:50, Astrid (26) sudah duduk nyaman dengan dua gawai di sisi kiri dan kanannya. Jari-jarinya siap berselancar di atas layar.

Flash sale kini menjadi momen yang ditunggu-tunggu oleh banyak anak muda Indonesia. Astrid akan “bertempur” dalam sepuluh menit ke depan untuk mendapatkan diskon terbatas untuk produk skincare impiannya.

Hal-hal seperti ini sudah berkali-kali terjadi sekarang. Di era digital ini, generasi baru telah muncul yang terampil menggunakan teknologi dan memanfaatkannya untuk menemukan penawaran produk terbaik.

Mereka adalah generasi yang gemar memburu diskon secara digital—pembeli muda ini berusaha menggunakan setiap celah teknologi untuk mendapatkan hasil maksimal dari belanjanya, meski mereka ini bukanlah kaum yang pelit dan miskin.

Banyak dari mereka adalah pekerja kantoran dengan gaji yang baik atau mahasiswa dengan uang yang cukup untuk kebutuhan mereka. Namun, bagi mereka, kepuasan tidak datang dari harga barang yang tinggi, tetapi dari kemampuan untuk mendapatkan barang berkualitas tinggi dengan harga yang jauh lebih rendah dari harga pasar.

Perilaku ini menandai pergeseran pemikiran yang menarik. Jika generasi sebelumnya mengukur status sosial berdasarkan kemampuan membeli barang mahal, generasi “pemburu diskon” ini membangun kebanggaan dari kecerdasan finansial.

Membagikan tangkapan layar transaksi misal dengan kata-kata “dapat 50 persen, cashback 30 persen, ongkir gratis!” di media sosial kini, dan ini dianggap sebagai sebuah prestasi.

Mereka merasa bangga ketika dapat mengatakan, “Saya membeli sepatu original ini hanya dengan 200.000, padahal harga gerai-gerai 1 juta. “Untuk mencapai tingkat efisiensi tersebut, mereka mengandalkan senjata utama mereka yaitu teknologi. Generasi ini adalah “warga digital” sejati. Mereka tahu betul cara memaksimalkannya. 

Ketika notifikasi flash sale diaktifkan di beberapa toko online, forum-forum diskusi seperti grup WhatsApp, Facebook bahkan kanal Telegram mulai ramai membicarakan informasi diskon dan ini menjadi bacaan wajib mereka.

Sehingga mereka tahu persis kapan waktu terbaik untuk membeli tiket pesawat, hari apa situs e-commerce tertentu memberikan cashback ganda, dan program-program diskon produk lainnya.

Kalau dipikir lagi sebenarnya teknologi yang canggih ini justru dapat menekan angka konsumtif. Banyak orang bahkan pemerhati pemasaran digital melewatkan paradoks ini. Ketika kita mendengar “anak digital”, kita sering berpikir tentang anak manja yang mudah terpengaruh oleh iklan.

Akan tetapi, mereka justru setiap hari mendengar tentang harga dan promosi, mereka sangat mengerti apa yang dimaksud dengan harga wajar untuk sebuah produk. Mereka tidak akan dengan mudah membeli tas seharga 600.000 karena mereka tahu harga akan turun 40 persen minggu depan di situs e-commerce lain.

Wajah Baru Konsumerisme

Di saat Ramadhan ini fenomena “war takjil online” adalah salah satu contohnya. Alih-alih membeli makanan di pinggir jalan, banyak anak muda yang memesan takjil melalui jasa pesan antar. Bukan karena malas, tapi karena ada adanya diskon ongkir, sehingga mereka mendapatkan takjil dengan harga yang menurut mereka lebih murah dibandingkan membelinya langsung, dan mudah diantar ke rumah. 

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved