Mata Lokal Desa
Mengenal Tari Lading Khas Tempirai PALI, Jadi Simbol Pelawanan Perempuan Pada Jaman Penjajahan Dulu
Mengingat pada zaman itu Indonesia belum merdeka dan masih dalam ancaman kekejaman penjajahan.
Penulis: Apriansyah Iskandar | Editor: Slamet Teguh
"Iya, tari ini hanya bisa dibawakan oleh kaum perempuan. Pada zaman kolonial Belanda dahulu, Tari Lading dimaknai bahwa perempuan tidak boleh dianggap lemah oleh siapapun termasuk ketika zaman penjajahan Belanda dulu," terang mantan Kades Tempirai Selatan itu.
Dalam melakukan tarian ini, menurut Nurjannah, semakin tajam lading itu, maka semakin tumpul pula lading itu di badan penari. Semakin besar daya tekanan yang dikeluarkan penari saat menancapkan dan memutar-mutarkan lading itu maka semakin tidak akan terasa nyeri (sakit) di badan.
Dikarenakan sebelum melakukan tarian, properti lading sudah dibacakan mantra atau doa-doa oleh para guru (maestro) tari lading.
Bukan hanya itu, para penari juga sudah diajarkan sebuah mantra atau doadoa pada saat menarikan tari Lading dalam gerakan membaca mantra. Agar Lading itu tidak melukai para penari.
"Tari Lading ini ditarikan oleh perempuan yan berjumlah 5 (lima) orang penari dengan menggunakan properti masing-masing 2 buah Lading, satu dipegang ditangan kanan dan yang satu dipegang ditangan kiri,"ujarnya.
Pada saat melakukan gerakan tarian, kedua Lading tersebut ditancapkan pada bagian tubuh penari, lalu ditekan dan gagang ladingnya diputar-putarkan hingga membentuk sebuah lingkaran. Bagian tubuh yang ditancapkan Lading yaitu bagian perut, lengan, dan pelipis mata.
"Sebagai orang biasa jika menancapkan lading di bagian-bagian tersebut, ditekan lalu diputar-putar sudah pasti beresiko akan terluka. Akan tetapi, hal tersebut tidak terjadi apa-apa pada para penari tari lading. karena sebelum melakukan tarian tari lading, properti lading sudah dibacakan mantra atau doadoa oleh para guru (maestro) tari Lading,"ungkapnya.
Baca juga: Tari Setabik, Tari Tradisional Asal Muba Resmi Tercatat Sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia
Baca juga: Mengenal Tari Mapak Raje, Tari Menyambut Kedatangan Tamu Acara, Diciptakan Oleh Nasrullah Tahun 2005
Seni pertunjukan Tari Lading ini tetap bertahan dan berkembang dalam kehidupan masyarakat Desa Tempirai.
Pertunjukan tari lading ini dahulu menjadi tari yang sangat populer di kalangan masyarakat desa Tempirai.
Saat ini tari lading masih digunakan masyarakat dalam berbagai acara, seperti acara pernikahan, pentas hiburan/tontonan, pertunjukan, dan media pendidikan.
Nurjannah juga mengatakan bahwa saat ini sudah banyak modifikasi gerakan tarian yang ditampilkan.
Kendati sudah dimodifikasi, namun peroperti yang digunakan tetap menggunakan lading atau pisau tajam.
"Seiring perkembangan zaman, sudah banyak gerakan tarian yang berubah. Namun, tetap menggunakan pisau sebagai gerakan tariannya," tuturnya.
Meskipun saat ini tidak susah dalam mencari generasi penerus para penari, namun Ia tetap berharap agar para generasi muda khususnya dari Desa Tempirai bisa menjaga dan melestarikannya.
"Pesan kami kepada para generasi muda untuk menjaga dan melestarikannya agar tidak habis dan dilupakan. Serta berharap agar menjadi lebih baik lagi,"ucapnya.
KWT Mekar Arum Desa Karang Manik OKU Timur Kembangkan Usaha Bibit Cabai, Raih Omzet Jutaan |
![]() |
---|
Pemdes Peracak Jaya OKU Timur Perbaiki Jalan Desa Demi Sukseskan Jalan Sehat HUT ke-80 RI |
![]() |
---|
Warga OKI Ubah Pelepah Kelapa Sawit Jadi Kerajinan Tirai Bernilai Seni, Diwariskan Turun Temurun |
![]() |
---|
Perahu Ketek, Bukan Sekadar Alat Transportasi Tapi Jantung Kehidupan Warga Perairan OKI |
![]() |
---|
Ronda Malam Kembali Dihidupkan Warga Tulang Bawang OKU Timur, Bangun Rasa Aman Lewat Kebersamaan |
![]() |
---|
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.