Mata Lokal Desa
Mengenal Tari Lading Khas Tempirai PALI, Jadi Simbol Pelawanan Perempuan Pada Jaman Penjajahan Dulu
Mengingat pada zaman itu Indonesia belum merdeka dan masih dalam ancaman kekejaman penjajahan.
Penulis: Apriansyah Iskandar | Editor: Slamet Teguh
Ditambahkan Abdul Muthalib, pakar budaya asal Tempirai, kecamatan Penukal Utara, ia juga mengatakan bahwa Tari Lading sudah ada sejak zaman penjajahan Belanda.
Dimana, nenek moyang marga Tempirai pada saat itu termotivasi untuk mengisi acara lewat seni dilengkapi senjata tajam.
"Selain itu, ada mantra sebelum menari. Dan mantra itu tidak sembarang orang yang bisa menggunakannya. Tari Lading juga memiliki dua peran, yaitu untuk mengisi acara dan menjaga diri serta membunuh para musuh,"kata dia.
Ia juga mengatakan tarian lading sendiri memiliki ciri khas menggunakan benda tajam sejenis pisau dengan panjang 30 centimeter.
Tentunya hal tersebut membuat gerakan tarian ini sangat ekstrim, karena pisau yang digunakan memang asli benda tajam yang ditusukkan dibagian kepala ataupun perut dengan cara bagian runcing pada pisau diarahkan langsung menyentuh pada kulit penari.
"Yang lebih khas lagi dari tarian ini, tari lading ini tidak bisa ditarikan oleh sebarangan orang, harus ditarikan oleh perempuan yang memiliki keturunan langsung dari Desa Tempirai, baik keturunan orang tua laki-laki ataupun orang tua perempuan,"ujarnya.
Dijelaskan nya, ragam gerak yang terdapat pada tari Lading meliputi gerak pembuke dudok, gerak melangkah Lading, gerak Lading di lidah atau ucap mantra, gerak Lading di perut, gerak Lading di lengan, gerak Lading di pelipis mata dan gerak lading di silang.Selain itu, tarian ini memiliki 3 (tiga) gerak penghubung yaitu, gerak begenjot, gerak berputar dan gerak mentang.
"Gerak tari Lading menggambarkan tentang pembelaan diri kaum perempuan dari bahaya yang sewaktu-waktu datang, yang menunjukkan bahwa kaum perempuan itu tidak lemah, dia juga berani membela diri dan gerak tari Lading juga menggambarkan bahwa kaum perempuan itu bisa diandalkan,"ujar Abdul Mutholib.
Sementara untuk musik atau iringan tari lading.disebut seluang mudik. Iringan seluang mudik digunakan untuk mengiringi lagu ataupun tarian dengan tempo cepat dan suasana gembira.
Karena tari Lading diciptakan dengan tempo yang cepat maka untuk musik atau iringannya menggunakan seluang mudik.
Seluang bagi masyarakat Sumatera Selatan merupakan ikan kecil yang biasa hidup di sungai atau rawa, ikan seluang dikenal sebagai ikan kecil yang sangat lincah.
Sementara mudik dapat diartikan perjalanan. Iringan seluang mudik bertempo cepat karena menggambarkan kelincahan ikan seluang yang bergerak di dalam air.
Tari Lading ditampilkan menggunakan musik atau iringan secara langsung yang dimainkan oleh 6 (orang) pemusik, dua laki-laki dan empat perempuan,
untuk mengiringi musik atau iringan tari lading memiliki beberapa Instrumen atau alat-alat musik yang digunakan yaitu biola, Keyboard, Gong, Gong Kecil dan Gendang.
"Tari lading juga memiliki suatu musik atau iringan yang didalamnya berisikan bait-bait pantun yang isinya disesuaikan pada acara-acara tertentu," terangnya.
Sedangkan untuk tata rias dan busana tari ladingmenggunakan rias korektif.Tidak ada aturan khusus dalam tata rias penari.
KWT Mekar Arum Desa Karang Manik OKU Timur Kembangkan Usaha Bibit Cabai, Raih Omzet Jutaan |
![]() |
---|
Pemdes Peracak Jaya OKU Timur Perbaiki Jalan Desa Demi Sukseskan Jalan Sehat HUT ke-80 RI |
![]() |
---|
Warga OKI Ubah Pelepah Kelapa Sawit Jadi Kerajinan Tirai Bernilai Seni, Diwariskan Turun Temurun |
![]() |
---|
Perahu Ketek, Bukan Sekadar Alat Transportasi Tapi Jantung Kehidupan Warga Perairan OKI |
![]() |
---|
Ronda Malam Kembali Dihidupkan Warga Tulang Bawang OKU Timur, Bangun Rasa Aman Lewat Kebersamaan |
![]() |
---|
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.