Mata Lokal Desa

Perahu Ketek, Bukan Sekadar Alat Transportasi Tapi Jantung Kehidupan Warga Perairan OKI

Perahu ketek menjadi denyut nadi kehidupan masyarakat perairan Desa Simpang Tiga, Kecamatan Tulung Selapan, Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI).

Tayang:
TRIBUNSUMSEL.COM/WINANDO DAVINCHI
PERAHU KETEK -- Proses pembuatan perahu ketek di Desa Simpang Tiga, Kecamatan Tulung Selapan, Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), Provinsi Sumatera Selatan. Denyut nadi kehidupan masyarakat di kawasan ini tidak lepas dari kehadiran perahu ketek. 

TRIBUNSUMSEL.COM KAYUAGUNG -- Di tengah derasnya arus sungai di Desa Simpang Tiga, Kecamatan Tulung Selapan, Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), Provinsi Sumatera Selatan, denyut nadi kehidupan masyarakat tidak lepas kehadiran perahu ketek.

Bagi warga yang tinggal di kawasan perairan seperti Tulung Selapan, Air Sugihan, Sungai Menang dan Cengal, perahu kayu bermesin ini bukan sekadar alat transportasi, melainkan urat nadi yang menghubungkan dengan dunia luar.

Perahu ketek menjadi saksi bisu perjalanan mencari nafkah di laut, ajang silaturahmi dan mobilisasi sehari-hari.

Di balik setiap perahu ketek yang gagah melintasi sungai, tersimpan keahlian para perajin lokal yang diwariskan secara turun-temurun.

Keahlian ini telah menjadi identitas sekaligus sumber penghidupan bagi masyarakat setempat.

Salah satu sosok yang setia melestarikan warisan ini Suherman, seorang perajin asal Desa Simpang Tiga.

Baca juga: Semangat Pendayung Muda Asal OKI Siap Bertarung di Lomba Perahu Bidar Palembang

Suherman menceritakan, proses pembuatan satu unit perahu ketek membutuhkan waktu sekira 10 hari. Prosesnya dimulai pemilihan bahan baku yang tak bisa sembarangan. 

Hanya menggunakan kayu meranti merah kering yang melewati proses pengeringan selama seminggu.

"Panjang kayu harus sesuai, berkisar 4 sampai 5 meter. Untuk satu badan perahu ketek, bisa dibutuhkan hingga 60 keping kayu," ujar Suherman dihubungi pada Jum'at (8/8/2025) siang.

Setelah badan perahu rampung, proses selanjutnya adalah pemasangan mesin. Berbagai jenis mesin digunakan, salah satunya mesin engkol diesel tipe 1115 pk.

"Tahap akhir adalah pengecatan. Saya memakai cat khusus merek kuda terbang, yang pengeringannya memakan waktu 1 hingga 2 hari," ungkapnya.

Menurutnya, kualitas perahu ketek buatannya telah dikenal luas. Diakui keahliannya secara turun-temurun dan kini telah berbuah manis, minat masyarakat yang tinggi membuat antrean pemesan terus mengular.

"Alhamdulillah pesanan banyak sekali masuk. Bahkan, sekarang dapat satu ketek harus menunggu sampai satu tahun karena pesanan sudah mengantre," pungkasnya.

Dijelaskan dia, satu unit perahu ketek dibanderol dengan harga yang bervariasi, mulai dari Rp 8 juta hingga Rp 40 juta, tergantung spesifikasi yang diminta pemesan.

Harga sepadan dengan kualitas dan keahlian dicurahkan dalam setiap pengerjaannya.

"Memelihara potensi lokal seperti ini tanggung jawab bersama, demi masa depan desa yang berakar kuat pada kekayaan tradisi dan kearifan lokal," pungkasnya.

 

 

Baca artikel menarik lainnya di Google News

Ikuti dan bergabung di saluran WhatsApp Tribunsumsel

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved