Mata Lokal Desa
Warga OKI Ubah Pelepah Kelapa Sawit Jadi Kerajinan Tirai Bernilai Seni, Diwariskan Turun Temurun
Wilayah Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) dikenal sebagai salah satu lumbung perkebunan kelapa sawit terbesar di Provinsi Sumatera Selatan.
Penulis: Winando Davinchi | Editor: Slamet Teguh
TRIBUNSUMSEL.COM, KAYUAGUNG -- Wilayah Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) dikenal sebagai salah satu lumbung perkebunan kelapa sawit terbesar di Provinsi Sumatera Selatan.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2020, dari total 17.071 km⊃2; luas wilayah OKI, 412.720 hektar di antaranya lahan perkebunan sawit.
Tak hanya buahnya, setiap bagian pohon sawit termasuk pelepah daun, miliki nilai ekonomis tinggi.
Meski menghadapi tantangan upah yang rendah dan sistem penjualan dinilai belum menguntungkan, ketekunan para perajin ini membuktikan bahwa pelepah sawit bukan sekadar limbah, melainkan bahan baku berharga yang dapat meningkatkan perekonomian lokal.
Di tengah dominasi industri kelapa sawit, sekelompok perajin di Desa Mukti Sari, Kecamatan Lempuing Jaya berhasil menyulap pelepah sawit jadi kerajinan tirai atau "bidai" yang bernilai seni dan fungsional.
Usaha kerajinan ini menjadi bukti nyata kreativitas masyarakat dalam memanfaatkan sumber daya alam di sekitar mereka.
Keterampilan menganyam tirai dari pelepah sawit ini bukanlah hal baru bagi warga Desa Mukti Sari.
Sanah, salah satu perajin senior mengaku kerajinan ini sudah turun-temurun diwariskan dalam keluarganya.
Ia sendiri telah menganyam tirai sejak kecil dan kini keahliannya telah diturunkan kepada anaknya.
"Sejak saya masih kecil, sudah puluhan tahun lalu, saya sudah belajar menganyam tirai. Sekarang anak saya pun sudah meneruskan," ujarnya saat diwawancarai pada Minggu (10/8/2025) sore.
Hampir setiap rumah di desa ini, menurut Sanah, memiliki anggota keluarga yang bekerja sebagai perajin.
Lokasi desa yang dikelilingi oleh perkebunan sawit membuat bahan baku utama, yaitu pelepah sawit, sangat mudah didapatkan.
Namun, profesi sebagai perajin tirai ini menghadapi tantangan. Para perajin tidak menjual langsung hasil karyanya ke konsumen.
Mereka hanya bertugas menganyam, dan tirai yang sudah jadi akan diambil oleh pengepul. Sistem ini membuat upah yang diterima perajin sangat minim.
"Kami hanya buruh saja. Ada pengepul yang datang mengambil tirai. Upah yang saya terima hanya Rp 5.000 per lembar," keluh Sanah.
Baca juga: Keahlian Diwariskan Secara Turun-Temurun, Rumah Kayu Bongkar Pasang di Ogan Ilir Tembus Pasar Dunia
Baca juga: Usaha Turun Temurun, Pengrajin Atap Daun Nipah di Sumsel Berharap Sentuhan Pemerintah
KWT Mekar Arum Desa Karang Manik OKU Timur Kembangkan Usaha Bibit Cabai, Raih Omzet Jutaan |
![]() |
---|
Pemdes Peracak Jaya OKU Timur Perbaiki Jalan Desa Demi Sukseskan Jalan Sehat HUT ke-80 RI |
![]() |
---|
Perahu Ketek, Bukan Sekadar Alat Transportasi Tapi Jantung Kehidupan Warga Perairan OKI |
![]() |
---|
Ronda Malam Kembali Dihidupkan Warga Tulang Bawang OKU Timur, Bangun Rasa Aman Lewat Kebersamaan |
![]() |
---|
Mengenal Larung Telaga, Tradisi Warga Sugihwaras Musi Rawas, Digelar di Muharram di Danau Gegas |
![]() |
---|
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.