Mata Lokal Desa

Warga OKI Ubah Pelepah Kelapa Sawit Jadi Kerajinan Tirai Bernilai Seni, Diwariskan Turun Temurun

Wilayah Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) dikenal sebagai salah satu lumbung perkebunan kelapa sawit terbesar di Provinsi Sumatera Selatan.

Penulis: Winando Davinchi | Editor: Slamet Teguh
Tribunsumsel.com/ Winando Davinchi
TIRAI PELEPAH KELAPA SAWIT - Warga OKI Ubah Pelepah Kelapa Sawit Jadi Kerajinan Tirai Bernilai Seni, Diwariskan Turun Temurun, Minggu (10/8/2025). 

TRIBUNSUMSEL.COM, KAYUAGUNG -- Wilayah Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) dikenal sebagai salah satu lumbung perkebunan kelapa sawit terbesar di Provinsi Sumatera Selatan.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2020, dari total 17.071 km⊃2; luas wilayah OKI, 412.720 hektar di antaranya lahan perkebunan sawit.

Tak hanya buahnya, setiap bagian pohon sawit termasuk pelepah daun, miliki nilai ekonomis tinggi. 

Meski menghadapi tantangan upah yang rendah dan sistem penjualan dinilai belum menguntungkan, ketekunan para perajin ini membuktikan bahwa pelepah sawit bukan sekadar limbah, melainkan bahan baku berharga yang dapat meningkatkan perekonomian lokal.

Di tengah dominasi industri kelapa sawit, sekelompok perajin di Desa Mukti Sari, Kecamatan Lempuing Jaya berhasil menyulap pelepah sawit jadi kerajinan tirai atau "bidai" yang bernilai seni dan fungsional.

Usaha kerajinan ini menjadi bukti nyata kreativitas masyarakat dalam memanfaatkan sumber daya alam di sekitar mereka.

Keterampilan menganyam tirai dari pelepah sawit ini bukanlah hal baru bagi warga Desa Mukti Sari.

Sanah, salah satu perajin senior mengaku kerajinan ini sudah turun-temurun diwariskan dalam keluarganya. 

Ia sendiri telah menganyam tirai sejak kecil dan kini keahliannya telah diturunkan kepada anaknya.

"Sejak saya masih kecil, sudah puluhan tahun lalu, saya sudah belajar menganyam tirai. Sekarang anak saya pun sudah meneruskan," ujarnya saat diwawancarai pada Minggu (10/8/2025) sore.

Hampir setiap rumah di desa ini, menurut Sanah, memiliki anggota keluarga yang bekerja sebagai perajin.

Lokasi desa yang dikelilingi oleh perkebunan sawit membuat bahan baku utama, yaitu pelepah sawit, sangat mudah didapatkan.

Namun, profesi sebagai perajin tirai ini menghadapi tantangan. Para perajin tidak menjual langsung hasil karyanya ke konsumen. 

Mereka hanya bertugas menganyam, dan tirai yang sudah jadi akan diambil oleh pengepul. Sistem ini membuat upah yang diterima perajin sangat minim.

"Kami hanya buruh saja. Ada pengepul yang datang mengambil tirai. Upah yang saya terima hanya Rp 5.000 per lembar," keluh Sanah.

Baca juga: Keahlian Diwariskan Secara Turun-Temurun, Rumah Kayu Bongkar Pasang di Ogan Ilir Tembus Pasar Dunia

Baca juga: Usaha Turun Temurun, Pengrajin Atap Daun Nipah di Sumsel Berharap Sentuhan Pemerintah

Halaman
12
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved