OPINI

Amplifikasi Debat Pilkada di Era Media Sosial

Alih-alih memperdalam pemahaman pemilih terhadap calon, amplifikasi debat di media sosial justru bisa memunculkan distorsi, di mana potongan-potongan

Editor: Weni Wahyuny
Dokumentasi pribadi
M.H. Thamrin Ketua Jurusan Ilmu Komunikasi FISIP Unsri 

Pemilih lebih mungkin membentuk opini berdasarkan potongan konten yang mereka lihat di media sosial, yang bisa jadi hanya sebagian kecil dari diskusi yang lebih kompleks dan bermakna.

Bagi para calon, amplifikasi yang tidak utuh menjadi tantangan serius juga. 

Potongan debat yang dipublikasikan di media sosial dapat dipelintir atau dipotong untuk membingkai calon secara negatif. 

Di tengah tantangan ini, para calon harus merespons dengan strategi komunikasi yang lebih matang. 

Salah satu pendekatan yang dapat diambil adalah dengan mengelola narasi pasca debat dengan cermat, memastikan bahwa pesan-pesan utama tetap menonjol dan tidak hilang dalam amplifikasi yang manipulatif. 

Kampanye modern membutuhkan pengelolaan narasi lintas platform. 

Tim kempanye perlu memahami dinamika penyebaran informasi di berbagai platform digital dan harus mampu mengelola dampak dari amplifikasi yang tidak terkontrol.

Akhirnya, kita dapat simpulkan bahwa amplifikasi debat di media sosial adalah fenomena yang tidak bisa dihindari dalam kampanye politik modern. 

Meskipun memberikan peluang untuk memperluas jangkauan informasi, amplifikasi yang tidak utuh dapat menciptakan narasi yang bias atau manipulatif. 

Para calon perlu merancang strategi komunikasi yang responsif untuk menjaga agar pesan dari debat tetap utuh dan akurat. 

Di sisi lain, pemilih juga perlu lebih waspada dalam menerima informasi yang tersebar di media sosial. 

Untuk itu, pemilih juga perlu lebih berhati-hati dalam menerima potongan-potongan konten debat yang tersebar di media sosial. 

Keterlibatan pemilih dalam mencari informasi yang utuh sangat penting untuk memastikan bahwa mereka membuat keputusan yang benar-benar berdasarkan pada informasi yang akurat dan kontekstual. (*)

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

Berita Populer

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved