OPINI
Kesabaran Berdemokrasi
Bahkan para ahli meyakinkan bahwa demokratisasi sejatinya adalah a never-ending process, proses yang tidak akan pernah berakhir.
Kalau tetap ingin dicarikan padanannya dalam bahasa Indonesia, istilah ‘keakuan’ mungkin bisa digunakan.
Pengertian tentang individualisme seperti di atas memiliki implikasi yang amat penting dalam hubungannya dengan orang lain.
Maksudnya, misalnya, apabila si A menganggap bahwa hidup dan masa depannya hanya ditumpukan pada daya pikir dan pengalaman hidupnya, si A ini harus mengakui juga bahwa bagi si B yang utama adalah akal dan pengalamannya juga.
Selanjutnya, si B juga harus mengakui bahwa bagi si C yang terpenting bagi hidupnya adalah juga akal dan pengalaman hidupnya.
Begitu seterus sehingga secara keseluruhan dalam masyarakat yang terdiri dari individu penganut-penganut individualisme tumbuh sikap saling menghargai yang dikenal dengan toleransi.
Dengan demikian, toleransi adalah salah satu nilai utama dalam tatanan demokrasi.
Selanjutnya, pengertian tentang individualisme seperti di atas juga menghasilkan nilai turunan yang tidak kurang pentingnya, sikap mandiri, berdikari alias berdiri di kaki sendiri.
Logikanya, apabila seseorang, di satu pihak, tidak percaya pada kebenaran-kebenaran yang bersumber dari luar dirinya, dalam menuntun hidupnya, di pihak lain, dia dengan sendirinya hanya akan mengandalkan hasil dari usaha-usahanya sendiri.
Seiring dengan ini muncul dalam dirinya tentang pentingnya nilai ‘kerja keras’ karena tidak ada orang yang ingin gagal dalam menjalani hidupnya.
Dapat dikemukakan, toleransi, mandiri dan kerja keras adalah sekumpulan nilai dasar dalam demokrasi di samping beberapa nilai yang lain. Sekumpulan nilai itu oleh C.A. Leeds (1975) disebut The democratic temper atau Montesquieu menyebutnya the spirit of the laws.
Beberapa nilai dasar demokrasi ini dalam praktek politik kemudian menghasilkan perilaku politik demokratis seperti - dalam kasus pilkada, misalnya - antipolitik uang, menerima kekalahan, mengucapkan selamat kepada pemenang, menghindari kegaduhan dan lain-lain.
Bukan hal yang kebetulan bahwa kita akan menemukan perilaku politik dari nilai-nilai tersebut di negara-negara demokrasi Barat yang bersumber dari individualisme.
Dalam konteks tulisan ini, kita akan menyinggung nilai-nilai kesabaran dan ketekunan.
Penjelasannya juga bersumber dari pengertian tentang individualisme seperti telah dijelaskan di atas.
Maksudnya, apabila kita renungkan secara mendalam, sikap toleransi atau menghargai keakuan orang lain sejatinya berarti mengakui bahwa setiap orang bisa benar sekaligus bisa salah.
| Hujan tak Pernah Ingkar Janji, Butuh Keberanian dalam Mengubah Pengelolaan Kota Terkait Banjir |
|
|---|
| Dari Kerinci ke OKU Selatan: Warisan Kopi Indonesia untuk Dunia |
|
|---|
| Purbaya Effect di Tengah Tiga Kegelapan Ekonomi |
|
|---|
| Pemberlakuan PP TUNAS: Memutus Rantai Adiksi, Menjemput Masa Kecil yang Hilang |
|
|---|
| Ekonomi Pasca Ramadan 2026, Tren Mudik dari Tahun ke Tahun, dan Ketidakpastian Ekonomi Global |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/sumsel/foto/bank/originals/Dr-Zulfikri-Suleman-MA-Pengamat-Politik-dari-Universitas-Sriwijaya.jpg)