OPINI
Kesabaran Berdemokrasi
Bahkan para ahli meyakinkan bahwa demokratisasi sejatinya adalah a never-ending process, proses yang tidak akan pernah berakhir.
Itulah sebabnya, di masa sebelum Orde Baru, keluarga-keluarga di Indonesia memiliki jumlah anak yang relatif banyak tapi dengan kualitas pendidikan yang rendah.
Pemerintah Orde Baru sejak awal tahun 1970an memperkenalkan kebijakan Keluarga Berencana (KB) dengan mengusung nilai ‘dua anak cukup’.
Tujuan umumnya adalah untuk menekan tingkat kelahiran penduduk Indonesia dan menghasilkan kualitas sumberdaya manusia yag lebih baik.
Sasaran dari kebijakan ini, yang dilaksanakan oleh Pemerintah Orde Baru dengan cukup keras, adalah suami istri muda atau pasangan usia subur (PUS).
Hasilnya, menurut data dari Bank Dunia, memang terjadi penurunan angka kelahiran per perempuan di Indonesia, dari rata-rata 5,22 kelahiran pada tahun 1973 menjadi rata-rata 2,15 kelahiran pada tahun 2022.
Artinya, kebijakan Pemerintah mengusung nilai ‘dua anak cukup’, dan menanggalkan nilai ‘banyak anak banyak rezeki’, berhasil dengan baik.
Yang perlu digarisbawahi, keberhasilan ini baru bisa diraih setelah melalui proses sosialisasi dan internalisasi selama lima puluh tahun!
Kita bisa menambahkan contoh-contoh lain tentang kecenderungan melonggarnya nilai keutamaan berkeluarga atau keutamaan memiliki anak di kalangan anak-anak muda sekarang ini (childfree).
Tapi yang ingin dikemukakan di sini tetap sama, bahwa perubahan nilai membutuhkan waktu yang lama dan proses berkelanjutan. Ini berarti bahwa, pada tingkat makro seperti masyarakat dan bangsa, dibutuhkan konsistensi usaha dan kesabaran dalam menunggu hasil yang diharapkan.
Dalam konteks demokrasi, ada beberapa nilai dasar yang niscaya.
Nilai-nilai dasar ini bersumber dari pengertian tentang individualisme sebagai nilai inti dari demokrasi.
Berbeda dengan pengertian awam selama ini, individualisme berarti keyakinan dasar bahwa ‘akal saya dan pengalaman hidup saya adalah sumber kebenaran yang utama bagi saya”.
Dengan pengertian seperti ini, seseorang yang menghayati nilai individualisme, dalam menjalani hidupnya, tidak akan mengandalkan bantuan orang tua, saudara-saudara, penguasa, bahkan kitab suci sekali pun.
Tentang apa yang baik dan benar, itu semata-mata adalah hasil olah pikir dan kompilasi pengalaman dari individu yang bersangkutan.
Sebagaimana akan dijelaskan berikut ini, tidaklah tepat apabila individualisme disamakan dengan egoisme atau sikap mementingkan diri sendiri.
| Hujan tak Pernah Ingkar Janji, Butuh Keberanian dalam Mengubah Pengelolaan Kota Terkait Banjir |
|
|---|
| Dari Kerinci ke OKU Selatan: Warisan Kopi Indonesia untuk Dunia |
|
|---|
| Purbaya Effect di Tengah Tiga Kegelapan Ekonomi |
|
|---|
| Pemberlakuan PP TUNAS: Memutus Rantai Adiksi, Menjemput Masa Kecil yang Hilang |
|
|---|
| Ekonomi Pasca Ramadan 2026, Tren Mudik dari Tahun ke Tahun, dan Ketidakpastian Ekonomi Global |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/sumsel/foto/bank/originals/Dr-Zulfikri-Suleman-MA-Pengamat-Politik-dari-Universitas-Sriwijaya.jpg)