citizen jounalism
Statistik Bukan Sekadar Angka, Melainkan Fondasi Pembangunan Daerah
Pernahkah kita menyadari, betapa hidup kita selalu dipenuhi angka? Sejak lahir, angka sudah melekat pada diri kita: berat badan dan panjang
TRIBUNSUMSEL.COM -- Pernahkah kita menyadari, betapa hidup kita selalu dipenuhi angka? Sejak lahir, angka sudah melekat pada diri kita: berat badan dan panjang tubuh yang dicatat bidan, usia yang menandai perjalanan hidup, hingga angka rapor yang menentukan prestasi di sekolah. Dalam keseharian pun, angka hadir di setiap langkah: harga beras di pasar, kilometer yang ditempuh menuju kantor, sampai saldo rekening yang kerap kita intip. Angka-angka tersebut bukan sekadar hitungan, namun catatan perjalanan hidup yg dpt digunakan untuk merencanakan langkah selanjutnya.
Ketika angka-angka itu dikumpulkan, diolah, dan disajikan dalam bentuk data, muncullah sesuatu yang kita kenal sebagai statistik. Sayangnya, di titik inilah banyak orang mulai merasa berjarak. Statistik kerap dipandang dingin, kering, hanya deretan tabel dan grafik yang rumit. Banyak yang menganggapnya urusan teknis belaka, jauh dari denyut kehidupan masyarakat. Padahal, di balik setiap angka sesungguhnya tersimpan cerita: tentang keluarga yang berjuang keluar dari kemiskinan, tentang anak-anak yang membutuhkan akses pendidikan lebih baik, hingga tentang daerah yang berusaha membangun infrastruktur demi kesejahteraan warganya. Statistik bukan angka tanpa jiwa; ia adalah cermin realitas sekaligus penuntun arah.
Provinsi Sumatera Selatan menjadi salah satu contoh bagaimana statistik memiliki peran strategis dalam pembangunan daerah. Dengan luas wilayah lebih dari 86,77 ribu kilometer persegi dan jumlah penduduk mencapai lebih dari 8,9 juta jiwa, daerah ini menghadapi tantangan pembangunan yang tidak sederhana. Isu kemiskinan, ketimpangan, pengangguran, kualitas pendidikan, kesehatan, hingga kebutuhan infrastruktur selalu menjadi agenda penting pemerintah. Semua isu ini memerlukan rujukan yang jelas dan terukur agar kebijakan yang diambil tidak hanya sekadar respons jangka pendek, tetapi juga berkelanjutan. Dalam konteks inilah statistik hadir sebagai fondasi.
Ambil contoh persoalan kemiskinan. Data BPS Sumatera Selatan mencatat bahwa tingkat kemiskinan provinsi pada Maret 2025 berada di kisaran 10,15 persen sedangkan pada tahun 2024 sebesar 10,97 persen. Angka ini bukan sekadar persentase yang tercatat dalam laporan, tetapi menggambarkan jutaan jiwa yang menghadapi keterbatasan dalam memenuhi kebutuhan dasar. Angka tersebut juga menjadi tolok ukur bagi pemerintah dalam merumuskan program pengentasan kemiskinan, menentukan besaran anggaran bantuan sosial, hingga merancang program pemberdayaan ekonomi masyarakat. Tanpa statistik, bagaimana mungkin kebijakan dapat menyasar tepat kepada mereka yang membutuhkan?
Lebih jauh, statistik juga membantu membaca arah kesejahteraan masyarakat. Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Sumatera Selatan pada tahun 2024 tercatat sebesar 73,84 naik 0,90 persen dari tahun sebelumnya. Peningkatan ini menandakan adanya kemajuan di aspek pendidikan, kesehatan, dan pendapatan. Namun, statistik juga menunjukkan bahwa IPM beberapa kabupaten masih jauh tertinggal dari kota besar seperti Palembang. Fakta ini mengingatkan bahwa pembangunan tidak boleh hanya berorientasi pada capaian rata-rata provinsi, tetapi harus memperhatikan kesenjangan antarwilayah.
Statistik juga menjadi kunci dalam membaca dinamika ketenagakerjaan. Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) Sumatera Selatan pada Agustus 2024 tercatat sebesar 3,86 persen, sedikit menurun dibanding tahun sebelumnya. Sektor pertanian masih menjadi penyerap tenaga kerja terbesar sebesar 45,30 persen , diikuti perdagangan sebesar 16,88 persen, dan industri pengolahan sebesar 5,97 persen. Angka ini sekaligus memberi sinyal bahwa transformasi ekonomi sedang berlangsung: sektor tradisional tetap dominan, tetapi sektor modern mulai tumbuh dan menyerap tenaga kerja baru. Tanpa data statistik, sulit bagi pemerintah menentukan kebijakan pelatihan kerja, kurikulum vokasi, atau arah investasi industri.
Dari sisi ekonomi makro, pertumbuhan ekonomi Sumatera Selatan pada tahun 2024 mencapai 5,03 persen. Angka ini cukup stabil di tengah ketidakpastian global. Sektor pertambangan dan industri pengolahan memberi kontribusi terbesar, diikuti perdagangan dan pertanian. Statistik semacam ini penting untuk membaca arah masa depan: sektor mana yang harus diperkuat agar menyerap lebih banyak tenaga kerja, serta bagaimana strategi diversifikasi agar ekonomi tidak hanya bergantung pada komoditas alam. Dengan data, pemerintah dapat menimbang keputusan berbasis bukti, bukan sekadar intuisi.
Namun, tantangan besar dalam pemanfaatan statistik terletak pada rendahnya literasi data. Tidak semua pemangku kebijakan maupun masyarakat umum memahami betul bagaimana membaca dan menggunakan data dengan benar. Masih ada anggapan bahwa statistik adalah urusan BPS semata, sementara tugas pemerintah hanya menjalankan program. Padahal, pembangunan tanpa statistik ibarat berlayar tanpa kompas. Melimpahnya data di era digital pun tidak menjamin kualitas keputusan. Justru, di tengah derasnya arus informasi, data yang akurat, mutakhir, dan dapat dipertanggungjawabkan menjadi semakin penting.
Sumatera Selatan sesungguhnya memiliki peluang besar untuk melangkah lebih maju.
Letaknya yang strategis di Pulau Sumatera, sumber daya alam yang melimpah, serta dukungan infrastruktur seperti Tol Trans Sumatera dan pengembangan Pelabuhan Tanjung Carat menjadikan provinsi ini sebagai salah satu pusat pertumbuhan potensial. Akan tetapi, peluang itu bisa hilang bila tidak diikuti dengan perencanaan berbasis statistik. Investasi yang masuk perlu diarahkan sesuai dengan potensi daerah, dan itu membutuhkan data tentang ketersediaan tenaga kerja, daya beli masyarakat, serta kebutuhan industri.
Demikian pula pembangunan sektor pendidikan harus berlandaskan data tentang angka partisipasi sekolah (APS) yang pada tingkat SMA/SMK di Sumatera Selatan masih sekitar 70,80 persen. Tanpa statistik, pembangunan sektor ini bisa berjalan tanpa arah.
Selain itu, perubahan iklim menjadi tantangan nyata yang harus diantisipasi. Sumatera Selatan dikenal sebagai salah satu lumbung pangan dan energi nasional. Produksi padi pada tahun 2024 mencapai lebih dari 2,91 juta ton, cukup untuk menopang kebutuhan pangan regional. Namun, ancaman banjir, kekeringan, dan kebakaran hutan berulang kali mengganggu keberlanjutan sektor ini. Statistik curah hujan, luas lahan terbakar, hingga fluktuasi produksi pertanian penting untuk menyusun strategi ketahanan pangan dan lingkungan. Angka-angka itu pada akhirnya berkaitan langsung dengan harga beras di pasar, pendapatan petani, bahkan daya beli masyarakat.
Oleh karena itu, yang perlu dilakukan bukan hanya mengumpulkan data, tetapi juga menjadikan statistik sebagai bagian dari budaya. Pemerintah daerah, akademisi, media, hingga masyarakat sipil harus sama-sama meningkatkan literasi data. Media massa, khususnya, memiliki peran strategis dalam menyajikan data secara lebih sederhana dan mudah dipahami oleh publik. Ketika masyarakat semakin terbiasa membaca data, maka partisipasi mereka dalam mengawasi jalannya pembangunan akan semakin kuat. Statistik bukan lagi milik segelintir orang, melainkan milik bersama yang harus dimanfaatkan untuk kepentingan daerah.
Menjadikan statistik sebagai sahabat pembangunan berarti mengubah paradigma dari sekadar mengumpulkan angka menjadi menghidupkan makna di baliknya. Angka-angka itu bicara tentang kondisi nyata, tentang peluang sekaligus tantangan. Statistik bukan hanya menilai keberhasilan pembangunan melalui capaian ekonomi, tetapi juga memotret sejauh mana keadilan sosial terwujud dan kesejahteraan merata. Ia adalah bahasa universal pembangunan yang dapat diterjemahkan menjadi kebijakan, program, dan tindakan nyata.
Sumatera Selatan membutuhkan fondasi statistik yang kuat agar setiap kebijakan yang diambil benar-benar berpihak kepada masyarakat. Statistik memberi arah ke mana pembangunan harus berjalan, sekaligus menjadi cermin untuk menilai keberhasilan maupun kekurangannya. Di balik setiap angka ada manusia yang hidup, ada keluarga yang menanti kesejahteraan, dan ada cita-cita daerah untuk tumbuh lebih baik. Karena itu, mari kita maknai statistik bukan sekadar angka, tetapi sebagai denyut nadi pembangunan yang menentukan masa depan Sumatera Selatan.
Dalam momentum Hari Statistik Nasional yang diperingati setiap 26 September, mari kita bersama-sama meneguhkan komitmen untuk menjadikan statistik sebagai sahabat pembangunan. Selamat Hari Statistik Nasional 2025, semoga data yang akurat dan terpercaya selalu menjadi pijakan bagi terwujudnya Sumatera Selatan yang Maju Terus Untuk Semua
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/sumsel/foto/bank/originals/Heryani-SST-Statistisi-Ahli-Madya-BPS-Kota-Lubuk-Linggau.jpg)