Liputan Khusus Tribun Sumsel
LIPSUS: Penantang Petahana Tebar Janji, Kandidat Cagub Tes Ombak, Bupati hingga Mantan Pejabat -1
Pilgub Sumsel sekitar 16 bulan lalu, tak sedikit tokoh masyarakat mulai berani tampil meramaikan bursa bakal Calon Gubernur periode 2024-2029.
"Kenapa saya ingin maju karena yang pertama tentunya di 2024 itu, saya sebagai bupati PALI 2 periode itu habis selesai. Kedua kami juga ingin berpartisipasi terhadap Sumatera Selatan ini, untuk katakanlah memajukan Sumsel dengan pembangunan yang merata, " kata Heri Amalindo saat berkunjung ke Graha Tribun Sumsel beberapa waktu lalu.
Mengingat dari kacamata dirinya, Sumsel yang terdiri dari 17 kabupaten kota ini, dirasa kurang bersinergi, kurang membaur satu sama lain untuk mengangkat nama Sumsel selama ini.
"Sumsel ada 17 kabupaten kota, notabanenya 17 kabupaten kota ini harus bagus, harus baik. Seperti yang disampaikan Presiden pertama kita Bung Karno, Jakarta itu sebagai ibu kota tidak akan terang oleh obor di Jakarta, tapi dia bisa terang oleh republik ini, karena lilin-lilin yang ada. Artinya kabupaten kota ini harus bagus, harus baik, harus terintegrasi, sehingga membawa nama Sumsel itu menjadi lebih baik, " jelasnya.
Mantan Kepala PU Bina Marga (BM) era Gubernur Alex Noerdin ini pun merasa dirinya, masih melihat proses yang ada sebelum memastikan di kontestasi Pilgub Sumsel nanti, dengan melihat hasil di lapangan.
"Kalau pede (Percaya Diri) pasti tidak maju. Artinya pede dak pede itu kan berjalan sambil melihat peluang," papar Heri Amalindo.
Dijelaskan Heri, ia mengibaratkan akan ikut berkontestasi di Pilgub Sumsel sama seperti dirinya berkebun.
Orang yang berkebun belum pasti akan berhasil mendapatkan hasil yang diharapkan. Namun, berkebun juga harus ada tahapan yang dilalui untuk bisa berhasil.
"Tidak ada orang yang memastikan kita berkebun akan berhasil, tapi dengan satu syarat berhasil jika bersungguh-sungguh, kebun dijaga, diperlihara, ditanam, dirawat, ngajak orang ramai- ramai dan bersama-sama InsyaAllah berhasil. Jadi pede atau tidak pede itu tergantung yang kita perbuat dan lakukan, kalau kita tidur saja mau nyalon Gubernur itu pedenya berlebihan," ucapnya.
Heri tak menampik jika saat ini dirinya kesana kemari (roadshow), minta tolong dan minta bantu dengan bersilaturahmi ke petinggi parpol dan sejumlah pihak, lebih untuk mewujudkan kebersamaan yang dibangun.
Mengingat, mau jadi Gubernur itu tentunya tidak ringan, dengan memimpin 17 Kabupaten/ kota se Sumsel.
"Artinya berat, dan berat ini bisa bergotong-royong. Jadi kalau bergotong royong sehingga semua menjadi ringan, karena saling menolong, ini menolong sedikit ini, menolong sedikit ini kan bisa tercapai, Jadi kami bersungguh, kita bersilaturahmi juga bisa menyatukan dari kawan-kawan yang lain, mungkin yang selama ini kita jarang bertemu dengan ada kegiatan ini, saya mau mencalonkan untuk menjadi gubernur, artinya bisa nyambung lagi tali silaturahmi, jadi yang paling benar itu silaturahmi, " terangnya.
Wakil Ketua DPD Partai Demokrasi Indonesia (PDI) Perjuangan provinsi Sumsel bidang Urusan Komunikasi antar Parpol ini mengungkapkan, bersilaturahmi itu sangat penting, selain untuk kebersamaan juga sebagai jaringan dirinya kedepan bertarung di Pilgub Sumsel kalau memang layak. Mengingat apa yang telah diperbuatnya di Kabupaten PALI selama ini yang daerah tertinggal sudah maju, sehingga perlu di perluas lagi lingkupnya.
Fokus Pileg
Sementara Mantan Wakil Gubernur Sumatera Selatan (Sumsel) Ishak Mekki mengaku, meski namanya mencuat dan siap maju dalam Pilgub Sumsel 2024, dirinya saat ini fokus dalam pemilu legislatif (Pileg) 2024.
Ishak Mekki yang sekarang duduk sebagai anggota DPR RI dapil I Sumsel, mendapat perintah partai untuk maju Pileg dan mengantarkan kader Partai Demokrat duduk di legislatif, yang hasil Pileg akan jadi barometer untuk menentukan kader maju di Pilkada (Pemilihan Kepala Daerah).
Liputan Khusus Tribun Sumsel
Lipsus Tribun Sumsel Calon Gubernur
Calon Gubernur Sumsel 2024
mata lokal menjangkau indonesia
Aku Lokal Aku Bangga
Lokal Bercerita
Tribunsumsel.com
Pemilik Kafe Kopi di Palembang Tertolong Momen Buka Bersama, Harga Kopi Tembus Rp 52 Ribu Per Kg -3 |
![]() |
---|
Harga Kopi Rp 52 Ribu Per Kg Termahal Sepanjang Sejarah, Kini Ramai-ramai Beli Emas -2 |
![]() |
---|
LIPSUS : Bisnis Kafe Kopi Gulung Tikar, Harga Kopi Tembus Rp 52 Ribu Per Kg -1 |
![]() |
---|
Pajak Hiburan 40-75 Persen Berlaku Bakal Matikan Usaha, GIPI Sumsel Ajukan Gugatan ke MK -2 |
![]() |
---|
LIPSUS: Pengunjung Karaoke Kaget Tarif Naik, Pajak Hiburan 40-75 Persen Berlaku -1 |
![]() |
---|
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.