Liputan Khusus Tribun Sumsel
LIPSUS: Penantang Petahana Tebar Janji, Kandidat Cagub Tes Ombak, Bupati hingga Mantan Pejabat -1
Pilgub Sumsel sekitar 16 bulan lalu, tak sedikit tokoh masyarakat mulai berani tampil meramaikan bursa bakal Calon Gubernur periode 2024-2029.
TRIBUNSUMSEL.COM, PALEMBANG - Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) serentak khususnya Pemilihan Gubernur (Pilgub) Sumatera Selatan masih tergolong lama, sekitar 16 bulan lagi.
Tetapi sekitar 1 tahun terakhir tak sedikit tokoh masyarakat di Sumsel yang mulai berani tampil meramaikan bursa bakal calon Gubernur periode 2024 - 2029, yang siap menantang Gubernur dan Wagub Sumsel saat ini Herman Deru - Mawardi Yahya.
Beberapa nama tersebut, di antaranya Dr H Heri Amalindo Bupati PALI saat ini, Eddy Santana Putra anggota DPR RI yang juga mantan Walikota Palembang, Ishak Mekki anggota DPR RI sekaligus mantan Wagub Sumsel, Anto Bambang Utoyo yang merupakan Putra Jenderal (Purn) Bambang Utoyo, hingga mantan Kapolda Aceh Irjen Pol (Purn) Rio S Djambak dan Walikota Lubuklinggau SN Prana Putra Sohe.
Pengamat politik dari Forum Demokrasi Sriwijaya (ForDes) Bagindo Togar Butar Butar mengatakan, meskipun Pilgub cukup lama namun kandidat mencoba "tes ombak" untuk diterima masyarakat, dengan janji- janji politik, yang nantinya menghadapi Gubernur saat ini.
"Artinya, bakal paslon Petahana (saat ini) akan berhadapan dengan lebih dari 1 bakal paslon Gubernur, " kata Bagindo kepada Tribun Sumsel baru baru ini.
Dijelaskan Bagindo, nama-nama yang beredar saat ini pastinya memiliki kelebihan dan kekurangan, serta pengalaman sehingga berani untuk maju di Pilgub.
"Semua tokoh di atas punya pengalaman terbaik di bidang masing- masing, artinya alasan mereka untuk meningkatkan jabatan karir politik di bidang pemerintahan. Apalagi Jabatan Gubernur Provinsi Sumsel sungguh strategis dan menggiurkan, baik dari sisi potensi kekayaan sumber daya alam, SDM da geografisnya. Atau secara ekonomi, sosial d politik punya posisi tawar cukup tinggi di negeri ini, " tandasnya.

Meski begitu, para kandidat yang ada pastinya memerlukan 'kendaraan' politik, untuk bisa berkompetisi di Pilkada, sehingga partai politik saat ini masih berjuang untuk meraih kursi DPRD, sambil menunggu popularitas dan elektabilitas para kandidat yang akan diusung kelak.
"Hasil Pileg Februari 2024 lah menjadi the real factor sebagai persyaratan utama, yang dikorelasikan dengan tingkat popularitas plus elaktablitas sosok para tokoh yang berharap lolos, serta didukung secara resmi oleh Parpol atau koalisi antar parpol, " paparnya.
Untuk bisa diusung dalam Pilgub Sumsel, pasangan kandidat harus memiliki minimal 20 persen atau 15 kursi di DPRD Provinsi, atau 25 persen suara hasil Pemilu legislatif 2024 nanti.
"Nah, hampir seluruh Parpol Peserta Pemilu over optimis akan memperoleh kursi 15 sampai 20 dalam Pileg Nanti. Padahal untuk mendapatkan hasil Pileg seperti itu sungguh sangat tidak mudah, di tengah beratnya tantangan juga realitas friksi kompetisi politik yang tak terduga. Artinya bila hasil komposisi perolehan suara dalam Pileg Tidak seperti yang dicanangkan oleh para elite Parpol. Maka peluang terjadinya formasi Balon Gubernur Sumsel semakin terbuka terjadi perubahan, " tandasnya.
Sejumlah kandidat balongub mengaku siap berkompetisi dalam Pilgub Sumsel November 2024, sebut saja Bupati Penukal Abab Lematang Ilir (PALI) H Heri Amalindo yang gencar melakukan safari politik ke daerah- daerah di Sumsel, dengan berjanji akan meneruskan kepemimpinan Gubernur Sumsel sebelumnya Alex Noerdin.
Beberapa program itu seperti sekolah dan berobat gratis yang di bawah kepemimpinan Herman Deru - Mawardi Yahya saat ini dihapuskan. Termasuk juga bantuan bagi desa - desa yang ada di Sumsel.
Heri Amalindo menjelaskan program sekolah dan berobat gratis agar masyarakat Sumsel semakin sejahtera.
Heri Amalindo menjelaskan, pendidikan sangat penting menjadi prioritas di Sumsel di samping berbagai infrastruktur fisik. Sebab, pendidikan merupakan investasi bagi generasi bangsa dan akan merubah kehidupan sosial masyarakat ke depan.
"Kenapa saya ingin maju karena yang pertama tentunya di 2024 itu, saya sebagai bupati PALI 2 periode itu habis selesai. Kedua kami juga ingin berpartisipasi terhadap Sumatera Selatan ini, untuk katakanlah memajukan Sumsel dengan pembangunan yang merata, " kata Heri Amalindo saat berkunjung ke Graha Tribun Sumsel beberapa waktu lalu.
Mengingat dari kacamata dirinya, Sumsel yang terdiri dari 17 kabupaten kota ini, dirasa kurang bersinergi, kurang membaur satu sama lain untuk mengangkat nama Sumsel selama ini.
"Sumsel ada 17 kabupaten kota, notabanenya 17 kabupaten kota ini harus bagus, harus baik. Seperti yang disampaikan Presiden pertama kita Bung Karno, Jakarta itu sebagai ibu kota tidak akan terang oleh obor di Jakarta, tapi dia bisa terang oleh republik ini, karena lilin-lilin yang ada. Artinya kabupaten kota ini harus bagus, harus baik, harus terintegrasi, sehingga membawa nama Sumsel itu menjadi lebih baik, " jelasnya.
Mantan Kepala PU Bina Marga (BM) era Gubernur Alex Noerdin ini pun merasa dirinya, masih melihat proses yang ada sebelum memastikan di kontestasi Pilgub Sumsel nanti, dengan melihat hasil di lapangan.
"Kalau pede (Percaya Diri) pasti tidak maju. Artinya pede dak pede itu kan berjalan sambil melihat peluang," papar Heri Amalindo.
Dijelaskan Heri, ia mengibaratkan akan ikut berkontestasi di Pilgub Sumsel sama seperti dirinya berkebun.
Orang yang berkebun belum pasti akan berhasil mendapatkan hasil yang diharapkan. Namun, berkebun juga harus ada tahapan yang dilalui untuk bisa berhasil.
"Tidak ada orang yang memastikan kita berkebun akan berhasil, tapi dengan satu syarat berhasil jika bersungguh-sungguh, kebun dijaga, diperlihara, ditanam, dirawat, ngajak orang ramai- ramai dan bersama-sama InsyaAllah berhasil. Jadi pede atau tidak pede itu tergantung yang kita perbuat dan lakukan, kalau kita tidur saja mau nyalon Gubernur itu pedenya berlebihan," ucapnya.
Heri tak menampik jika saat ini dirinya kesana kemari (roadshow), minta tolong dan minta bantu dengan bersilaturahmi ke petinggi parpol dan sejumlah pihak, lebih untuk mewujudkan kebersamaan yang dibangun.
Mengingat, mau jadi Gubernur itu tentunya tidak ringan, dengan memimpin 17 Kabupaten/ kota se Sumsel.
"Artinya berat, dan berat ini bisa bergotong-royong. Jadi kalau bergotong royong sehingga semua menjadi ringan, karena saling menolong, ini menolong sedikit ini, menolong sedikit ini kan bisa tercapai, Jadi kami bersungguh, kita bersilaturahmi juga bisa menyatukan dari kawan-kawan yang lain, mungkin yang selama ini kita jarang bertemu dengan ada kegiatan ini, saya mau mencalonkan untuk menjadi gubernur, artinya bisa nyambung lagi tali silaturahmi, jadi yang paling benar itu silaturahmi, " terangnya.
Wakil Ketua DPD Partai Demokrasi Indonesia (PDI) Perjuangan provinsi Sumsel bidang Urusan Komunikasi antar Parpol ini mengungkapkan, bersilaturahmi itu sangat penting, selain untuk kebersamaan juga sebagai jaringan dirinya kedepan bertarung di Pilgub Sumsel kalau memang layak. Mengingat apa yang telah diperbuatnya di Kabupaten PALI selama ini yang daerah tertinggal sudah maju, sehingga perlu di perluas lagi lingkupnya.
Fokus Pileg
Sementara Mantan Wakil Gubernur Sumatera Selatan (Sumsel) Ishak Mekki mengaku, meski namanya mencuat dan siap maju dalam Pilgub Sumsel 2024, dirinya saat ini fokus dalam pemilu legislatif (Pileg) 2024.
Ishak Mekki yang sekarang duduk sebagai anggota DPR RI dapil I Sumsel, mendapat perintah partai untuk maju Pileg dan mengantarkan kader Partai Demokrat duduk di legislatif, yang hasil Pileg akan jadi barometer untuk menentukan kader maju di Pilkada (Pemilihan Kepala Daerah).
“Kita fokus pada pileg dululah, karena pemilihan kepala daerah itu masih jauh,” kata Ishak.
Mantan Bupati Ogan Komering Ilir (OKI) ini tak mempermasalahkan sejumlah nama tokoh-tokoh yang asal Sumsel yang akan berkiprah memperebutkan kursi Senayan dari Dapil Sumsel I. Sebab menurutnya, semakin banyak tokoh yang ikut serta dalam pileg khususnya DPR RI seperti Walikota Palembang Harnojoyo, Walikota Lubuklinggau SN Prana Putra Sohe, mantan Gubernur Sumsel Herman Deru yaitu M Yaser dan sebagainya bukan berarti membuat dirinya pesimis.
“Semakin banyak yang maju akan semakin baik, di Sumsel ada 8 juta rakyat. Nantinya, rakyat dapat memilih mana yang lebih baik, dan kursi yang kita perebutkan juga banyak. Demokrat sendiri, bisa jadi kebagian 2 kursi untuk dapil 1,” ungkapnya.
Ia juga menyebut dalam pemilihan legislatif, tidak hanya bermodal dengan nama besar saja. Namun, rakyat lebih tahu dan lebih pintar untuk memilih.
Jadi, lanjut Ishak apa yang sudah diberikan maupun disumbangkan untuk rakyat dan daerah, akan menjadi tolak ukur bagi masyarakat Sumatera Selatan untuk menentukan pilihan mereka.
"Tergantung dari calonnya gimana nanti, tunjukkan apa yang sudah diperbuat, apa yang dilakukan untuk rakyat, karena sudah diamanatkan undang-undang anggota DPR itu kan untuk memperjuangkan kesejarahan di masyarakat," paparnya.
Ishak Mekki sejauh ini masih fokus untuk melanjutkan dan memperjuangkan pembangunan insfrastruktur di Sumsel, khususnya di daerah-daerah yang masih minim pembangunan atau perbaikan.
“Jadi pembangunan infrastruktur merupakan modal utama pemerintah untuk menurunkan kemiskinan yang ada di Sumsel. Jadi tidak hanya jalan negara saja yang diperhatikan terlebih jalan Provinsi, jalan kota dan kabupaten. Jika semua akses jalan sudah baik, maka perekonomian juga akan mengikuti,” tandasnya.
Siap Maju Pilgub
Mantan Wali Kota Pelembang dua periode Edy Santana Putra (ESP) menyatakan siap untuk maju pada Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Gubernur 2024 mendatang. Namun, dia siap maju jika DPP Partai Gerindra menunjuknya.
"Keputusan DPP (pencalonan). Insya Allah (maju) saya siap," kata anggota DPR RI dari Partai Gerindra ini.
Ia mengatakan, jika dirinya tidak dipilih untuk maju Pilkada 2024 mendatang, masih ada kader-keder lain seperti, Mawardi, bupati dan wakil bupati. Sambungnya, Gerindra pada Pilkada 2024 mendatang harus bisa merebut posisi Gubernur Sumsel
"Yang jelas, kita Partai Gerindra tidak kekurangan kader. Ada Pak Wawardi (Wakil Gubernur Sumsel), ada saya dan yang lain, wakil-wakil bupati, ada bupati juga ini modal dasarnya kita. Gerindra harus merebut Gubernur Provinsi Sumsel," tegasnya.
Sebelum ada keputusan dari DPP untuk pencalonan pada Pilkada 2024, Edy mengaku dirinya masih akan mencalonkan diri sebagai anggota DPR RI. Jika terpilih, dan dirinya direstui DPP maju untuk pilkada maka kursinya akan diberikan kepada yang lain.
"Sebelum ada pencalonan saya ikut dulu (Caleg DPR RI) untuk memperbesar suara, dan juga menunggu siapa yang akan dimajukan. Kalau saya dapat kursi, bisa saya berikan ke yang lain. Kalau yang lain (dimajukan pilkada) saya terus DPR RI jadi semua dapat, bagi-bagi. Kalau ditunjuk saya siap," ujarnya.
Lihat Dukungan Masyarakat
Sementara, putra Jenderal Anumerta (Purn) Bambang Utoyo yaitu Anto Bambang Utoyo mengungkapkan, sosok pemimpin Sumatera Selatan (Sumsel) ke depan dalam Pilgub 2024, harus yang betul-betul membangun Sumsel, dan jangan hanya berpikiran duit.
Sebab yang mapan memang memiliki modal finansial sendiri, sehingga jika kelak ia memimpin tidak berpikiran untuk mengembalikan modal atau bayar utangan.
"Kito ingin masukan untuk Sumsel, dan ternyata banyak yang ingin ikut pilkada Sumsel kedepan. Termasuk saya lihat ada dan dengar calon baru, salah satunya bapak H Rio Jambak yang memiliki segudang prestasi, " kata Anto.
Dijelaskan Anto, dengan banyaknya nama- nama kandidat yang akan ikut berkompetisi di Pilkada Sumsel, menjadikan masyarakat memiliki pilihan untuk pemimpinnya 5 tahun kedepan.
"Ya, kalau saya menilainya semakin banyak kandidat semakin bagus, sehingga masyarakat bisa memilih pemimpinnya yang terbaik, " paparnya.
Anto sendiri mengaku siap ambil bagian dalam kontestasi Pilkada Sumsel kelak, apabila mendapat dukungan masyarakat.
"InsyaAllah, kalau memang ada dukungan. Baik dari partai politik, terutama masyarakat provinsi Sumatera Selatan pada umumnya," jelas Anto.
Dia melihat provinsi Sumsel perlu perubahan dan arah pembangunan juga harus jelas. Karena itu, ia berharap Sumsel kedepan akan tumbuh berkembang.
"Kalaupun nantinya saya dipilih rakyat dalam memajukan Sumsel, bukan hanya pada visi dan misi saya saja. Ekspetasi tersebut harus dicanangkan serta saya jalankan. Sehingga rakyat Sumsel sejahtera," bebernya.
Apalagi menurutnya semua masyarakat tahu, Sumsel kaya akan sumberdaya alam, yang seharusnya bisa dimanfaatkan untuk kesejahteraan rakyat.
"Jadi yang kita harapkan tidak hanya segelintir pengusaha serta perusahaan negara saja menikmatinya. Sumsel juga harus ikut menikmati. Dengan banyaknya sumberdaya alam, tak hanya perekonomian akan bergulir. Namun pengangguran akan dapat dikurangi. Dan saya serius dalam hal ini," paparnya.
Menurut putra bungsu komandan peperangan 5 Hari 5 Malam di Palembang, Jenderal Bambang Utoyo dan almarhumah Hj Siti Nurani, dirinya yakin semua kandidat pasti ingin memajukan Sumsel.
"Pastinya selain saya, mereka juga punya keinginan untuk memajukan Sumsel, jadi mereka ingin maju di pilkada Sumsel 2024 nanti, " ucapnya.
Ia pun tak menampik, jika saat ini Sumsel sudah agak ketinggalan dari sebelumnya.
"Sekarang ini perhatian kurang terhadap daerah-daerah. Jalan kota saja rusak, apalagi yang daerah. Sekarang kita berpikir mumpung masih ada waktu. Ya silahkan saja yang muda-muda maju, dan punya visi misi ke depan bagi daerah ini," ucap Anto yang menjabat Waketum II Pengprov Perbakin Sumsel.
Dijelaskan pria kelahiran Palembang, 28 Agustus 1958, para kandidat yang hendak bertarung nanti, jangan hanya memberikan janji manis saja, tetapi harus bisa merealisasikan janji politiknya apabila kelak memimpin.
Melihat jejak Anto yang kerap berpenampilan rambut cepak, bersuara garang tapi sangat humoris ini memang tidaklah seperti kakak-kakaknya seperti H Indra Bambang Utoyo yang berkiprah menjadi politisi di jajaran Ketua DPP Partai Golkar dan mantan Ketua DPRD Provinsi Sumsel, mantan anggota DPR RI H Wasista "Tony" Bambang Utoyo.
"Kita berharap, Sumsel ke depan ada perubahan dan maju, jangan hanya dalam misi dan visi saat kampanye saja dicanangkan, tetapi tidak dijalankan atau lupa saat memimpin. Sebagai anak pejuang saya tidak akan gentar menghadapi siapapun. Tetapi jadi atau tidak, tentu itu keputusan Allah SWT, " pungkasnya.
Sohe Pilih Pileg
Sementara SN Prana Putra Sohe saat disinggung apakah dirinya berkeinginan maju di Pilgub Sumsel mendatang karena sudah hampir dua periode menjabat Walikota, Nanang mengaku dirinya belum pantas saat ini.
"Kalau melihat daripada emosi ke daerahnya, mau saja karena orang Bumi Silampari untuk hari ini belum ada yang pernah menjabat sebagai Gubernur atau Wakil Gubernur di Sumatera Selatan, meski ada yang pernah mencalon tapi tidak jadi. Tapi kan semuanya bagi saya harus melihat ukuran-ukuran dulu, nah ukuran pertama juga saya belum pernah melakukan survei itu dan saya lihat juga di survei-survei suara saya juga tidak terlalu tinggi. Jadi saya lebih baik memilih mencalonkan sebagai anggota DPR RI, mengingat Pilkada juga setelah pelaksanaan Pileg, " pungkasnya.
Pilkada atau Pilgub Sumsel sendiri akan dilaksanakan pada 27 November 2024. Sementara jabatan Gubernur dan Wakil Gubernur Sumsel Herman Deru- Mawardi Yahya akan berakhir pada 1 Oktober 2023. (arf)
Baca berita lainnya langsung dari google news
Silakan gabung di Grup WA TribunSumsel
Liputan Khusus Tribun Sumsel
Lipsus Tribun Sumsel Calon Gubernur
Calon Gubernur Sumsel 2024
mata lokal menjangkau indonesia
Aku Lokal Aku Bangga
Lokal Bercerita
Tribunsumsel.com
Pemilik Kafe Kopi di Palembang Tertolong Momen Buka Bersama, Harga Kopi Tembus Rp 52 Ribu Per Kg -3 |
![]() |
---|
Harga Kopi Rp 52 Ribu Per Kg Termahal Sepanjang Sejarah, Kini Ramai-ramai Beli Emas -2 |
![]() |
---|
LIPSUS : Bisnis Kafe Kopi Gulung Tikar, Harga Kopi Tembus Rp 52 Ribu Per Kg -1 |
![]() |
---|
Pajak Hiburan 40-75 Persen Berlaku Bakal Matikan Usaha, GIPI Sumsel Ajukan Gugatan ke MK -2 |
![]() |
---|
LIPSUS: Pengunjung Karaoke Kaget Tarif Naik, Pajak Hiburan 40-75 Persen Berlaku -1 |
![]() |
---|
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.