Polemik Bus Mahasiswa Unsri

Polemik Moda Angkutan Mahasiswa Unsri, Damri Terbatas, Bus Kaleng Dilarang Masuk Kampus

Beberapa waktu belakangan ini polemik moda angkutan massal untuk mahasiswa Universitas Sriwijaya (Unsri), kembali mencuat.

TRIBUNSUMSEL.COM/AGUNG DWIPAYANA
TURUNKAN MAHASISWA - Bus DAMRI menurunkan mahasiswa di kampus Unsri Indralaya, Kamis (28/8/2025) pagi. Armada bus DAMRI dirasa kurang, sementara bus kaleng dilarang masuk kampus. 

TRIBUNSUMSEL.COM, INDRALAYA - Beberapa waktu belakangan ini polemik moda angkutan massal untuk mahasiswa Universitas Sriwijaya (Unsri), kembali mencuat.

Mahasiswa merasa armada angkutan umum terbatas, sementara ada puluhan ribu mahasiswa yang memerlukan kendaraan umum untuk mobilitas.

Khususnya mobilitas mahasiswa dari Palembang menuju kampus Unsri Indralaya di Ogan Ilir, maupun sebaliknya.

Puncaknya pada Rabu (27/8/2025) siang, ratusan mahasiswa menggelar aksi mendesak agar ada solusi terkait persoalan ini.

"Memang ada bus DAMRI tapi armadanya kurang. Kami sering berdesakan, malah sering tidak kebagian saat pulang kuliah," kata salah seorang mahasiswa bernama Rendi, Kamis (28/8/2025).

Saat armada bus DAMRI dirasa kurang, bus kaleng justru dilarang masuk kampus Unsri di Indralaya.

Baca juga: Pengadaan Sewa Kendaraan Dinas Pemkab Ogan Ilir, Upaya Efisiensi Anggaran

Mahasiswa meminta agar bus kaleng diperbolehkan masuk terminal di dalam kampus agar memudahkan mobilitas mahasiswa.

"Kalau terlambat kuliah karena tidak kebagian bus, khawatir berdampak pada perkuliahan dan nilai akademik kami tidak bagus," ujar Rendi.

Mahasiswa Semester V Prodi Ekonomi Pembangunan Fakultas Ekonomi Unsri ini mengungkapkan persoalan armada bus dialaminya sejak tahun pertama kuliah.

Rendi dan mahasiswa Unsri lainnya berharap ada solusi konkret mengingat Unsri sebagai salah satu perguruan tinggi negeri terkemuka di Indonesia.

Sehingga penanggulangan masalah transportasi massal untuk mahasiswa harus dilakukan secara cepat dan tepat.

"Kampus kebanggaan (Unsri) harus punya solusi karena kami ingin menuntut ilmu tanpa terhambat hal teknis seperti ini," ucap Rendi.

Terpisah, Rektor Unsri Prof. Dr. Taufiq Marwa dan Wakil IV lProf. Dr. Joni Arliansyah menyampaikan bahwa sangat peduli dan memikirkan kebutuhan transportasi umum bagi mahasiswa. 

Dijelaskannya, beberapa angkutan seperti bus kaleng yang beroperasi di Terminal Unsri berusia tua.

Kelayakan angkutan ini jadi salah satu pertimbangan Unsri menjamin keselamatan perjalanan mahasiswanya. 

"Kita tidak melarang angkutan bus masuk. Siapapun yang siap menyediakan angkutan yang layak bagi mahasiswa, silakan. Hal ini semata sebagai tanggung jawab moral untuk menyediakan angkutan bagi mahasiswa kami," jelas Taufiq diwawancarai terpisah.

Unsri telah menggandeng Dinas Perhubungan (Dishub) Sumatera Selatan untuk mengecek kelaikan tiap armada yang akan beroperasi di lingkungan Unsri. 

Setelah melakukan uji kelaikan, kendaraan angkutan yang dinyatakan laik akan mendapat stiker khusus untuk beroperasi di kampus Unsri. 

"Kebijakan ini sudah dimulai sejak tanggal 11 Agustus lalu. Ternyata, di hari itu hanya ada enam kendaraan yang mengecek dan cuma tiga yang dinyatakan laik," terang Taufiq.

Beberapa yang belum memenuhi kelaikan tidak bisa masuk ke Unsri. 

"Sesuai hasil rapat, kami beri kesempatan lagi agar bus-bus itu melakukan uji kelaikan dari Dishub. Jika selesai, nanti dibuat daftar bus yang boleh masuk," jelas Taufiq.

 

 

Baca artikel menarik lainnya di Google News

Ikuti dan bergabung di saluran WhatsApp Tribunsumsel

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved