Berita OKI

Menolak Punah, Pengrajin Gerabah di Kedaton OKI Tetap Eksis, Dijual Hingga ke Luar Daerah

Di kawasan ini, kerajinan gerabah bukan sekadar mata pencaharian, melainkan napas sejarah yang dipercaya telah ada sejak era Kerajaan Sriwijaya.

Penulis: Winando Davinchi | Editor: Slamet Teguh
Tribunsumsel.com/Winando Davinchi
GERABAH - Pengrajin gerabah yang telah ada sejak puluhan tahun silam di Kelurahan Kedaton, Kecamatan Kayuagung, Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), Sumatera Selatan pada Senin (27/4/2026) pagi. 

Ringkasan Berita:
  • Kerajinan gerabah di Kedaton, OKI, tetap bertahan di tengah gempuran peralatan modern dan menjadi warisan sejak era Kerajaan Sriwijaya.
  • Perajin seperti Ali yang telah menjalani usaha selama puluhan tahun mampu memproduksi ratusan gerabah tiap pekan dengan proses tradisional yang bergantung pada cuaca.
  • Meski berpenghasilan terbatas, gerabah Kedaton tetap diminati hingga luar daerah, dan para perajin berharap tradisi ini tidak punah.

 

TRIBUNSUMSEL.COM, KAYUAGUNG - Di tengah gempuran perabotan dapur berbahan plastik dan logam yang kian modern, kepulan asap pembakaran tanah liat di Kelurahan Kedaton, Kecamatan Kayuagung, Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), Sumsel seolah tak pernah padam.

Di kawasan ini, kerajinan gerabah bukan sekadar mata pencaharian, melainkan napas sejarah yang dipercaya telah ada sejak era kejayaan Kerajaan Sriwijaya.

Dengan bermodalkan tanah liat, pasir, dan keterampilan tangan, masyarakat setempat secara turun-temurun terus merawat warisan leluhur tersebut.

Salah satu sosok yang masih setia menjaga tradisi itu adalah Ali. Ia merupakan generasi ketiga di keluarganya yang menggantungkan hidup dari kerajinan gerabah.

"Saya masih ingat, sejak kecil sudah diajarkan oleh orangtua untuk membuat gerabah. Sekarang saya sudah masuk generasi ketiga, dan usaha ini sudah saya jalani selama 50 tahun," tutur Ali saat ditemui, Senin (27/4/2026) pagi.

Dari gumpalan tanah dan pasir, tangan terampil Ali dan perajin lainnya mampu menghasilkan sekitar 10 jenis perabotan rumah tangga, mulai dari kendi, celengan (tabung uang), gentong, tuyu, tungku, singkup hingga tutup anglo.

Ali menuturkan, proses pembuatan gerabah kerap menjadi momen kebersamaan keluarga.

"Biasanya, keluarga besar secara bersama-sama mengisi waktu di siang hari untuk membuat," ujarnya.

Proses pembuatannya pun tidak instan. Dimulai dengan menebarkan tanah liat di atas meja, mencampurnya dengan pasir, lalu diinjak-injak hingga kalis. Setelah dibentuk, gerabah dijemur di bawah terik matahari selama kurang lebih satu minggu.

"Setelah kering, tungku atau tutup masak diberi warna dan dianginkan. Terakhir, gerabah dimasukkan ke tempat pembakaran. Setelah 2 hingga 3 hari dan warnanya menguning, barulah api dipadamkan," jelas Ali.

Baca juga: Tak Digerus Zaman, Tungku Tanah Liat Masih Eksis di Musi Rawas, Dijual Hingga Luar Daerah

Baca juga: Kampung Gerabah Palembang, Bertahan di Tengah Gempuran Modernisasi Untuk Menjaga Api Warisan

Bagi para perajin, cuaca menjadi faktor penentu utama dalam proses produksi. Aktivitas pembuatan sangat bergantung pada panas matahari.

Bersama tiga pekerja lainnya, Ali mampu memproduksi puluhan tutup masak dan sekitar 10 tungku per hari.

"Dalam seminggu kami bisa menghasilkan sekitar 300 gerabah. Jika terjual semua, bisa memperoleh Rp 300.000 hingga Rp 500.000," paparnya.

Harga yang ditawarkan pun terjangkau. Gerabah mainan anak seperti ulekan kecil, tungku, dan kuali dijual Rp 2.000 hingga Rp 5.000 per buah.

Sumber: Tribun Sumsel
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved