Berita OKI

Sentuh Rp7.000 per Kilogram, Ini Pemicu Lonjakan Harga Gabah di Kecamatan SP Padang OKI

Harga beli padi di Kecamatan Sirah Pulau (Sp) Padang, Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) pecah

Tayang:
Penulis: Winando Davinchi | Editor: Moch Krisna
Tribunsumsel.com/Winando Davinchi
PABRIK PENGGILINGAN PADI : Harga beli padi di pabrik Desa Tanjung Alai, Kecamatan Sirah Pulau (Sp) Padang, Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) tertinggi sepanjang 2026 dengan menembus angka Rp 7.000 per kilogram. 

Ringkasan Berita:
  • Harga beli padi di Kecamatan SP Padang OKI mencapai rekor tertinggi Rp 7.000 per kilogram pada Mei 2026
  • Kenaikan harga ini tidak menguntungkan pemilik pabrik karena stok gabah petani sedang kosong menjelang panen raya
  • Pasokan padi ke penggilingan menurun drastis hingga 50 persen dibandingkan kondisi normal
  • Harga diprediksi akan kembali normal ke kisaran Rp 6.000 saat memasuki musim panen raya serentak

 

TRIBUNSUMSEL.COM KAYUAGUNG – Harga beli gabah di Kecamatan Sirah Pulau (Sp) Padang, Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) pecah rekor tertinggi sepanjang tahun 2026 dengan menembus angka Rp7.000 per kilogram.

Ironisnya, momen harga selangit ini justru membuat para pemilik pabrik penggilingan gigit jari. Sebab, meroketnya harga padi ini diiringi dengan kondisi stok gabah dari para petani yang justru tengah kosong melompong jelang masa panen raya. Anomali ini pun dikeluhkan oleh pengusaha kilang padi setempat.

Hamdani, salah seorang pemilik pabrik padi di Desa Tanjung Ali, Kecamatan SP Padang, membenarkan kenaikan harga ini merupakan yang tertinggi dalam beberapa waktu terakhir.

"Biasanya saya membeli padi harga antara Rp6.200-Rp6.500 per kg.
Tetapi sejak awal bulan Mei ini naik tinggi mencapai Rp7.000 per kilo, atau ini yang paling mahal di tahun 2026 ini," ujar Hamdani saat ditemui di lokasi pabriknya pada Rabu (20/5/2026) siang.

Namun, Hamdani menjelaskan harga Rp7.000 per kg tidak berlaku mutlak. Nilai tertinggi itu hanya diberikan ke petani yang bersedia mengantarkan langsung hasil panen mereka ke pabriknya.

Bila pabrik yang harus menjemput bola ke area persawahan, harganya akan turun cukup signifikan karena terpotong biaya operasional.

"Harga segitu Rp7.000 kalau petani mengantarkan padi secara langsung ke pabrik. Bila kami yang mengambil ke lokasi sawah, harganya berkisar Rp6.000 per kg. Karena dipotong ongkos panggul untuk menaikkan dan menurunkan padi, ditambah lagi ongkos kendaraan," ungkap dia mendetail.

Meski saat ini harga jual sedang sangat menggiurkan bagi petani, kenyataan di lapangan berkata lain. Padi yang diperoleh pihak pabrik justru sangat minim.

"Hal ini terjadi lantaran sebagian besar wilayah persawahan OKI baru saja memasuki musim tanam dan belum masuk masa panen raya," ungkapnya.

Dampaknya, halaman penjemuran padi milik Hamdani yang biasanya penuh, kini terlihat kosong. Penurunan pasokan dirasakan hingga sentuh 50 persen. "Sekarang kami lagi sulit mendapat padi. Biasanya dalam sekali proses penjemuran, halaman pabrik saya bisa menampung sampai 15 ton. Tapi sekarang cuma ada barang 7,5 ton saja yang diperoleh dalam satu bulan," keluhnya dengan nada lesu.

Kondisi harga selangit diperkirakan tidak akan bertahan lama. Hamdani memprediksi, harga padi akan berangsur turun dan kembali ke angka normal di musim panen raya.

Ketika panen serentak terjadi, stok gabah di tingkat petani otomatis akan melimpah ruah, dan hukum pasar pun akan berlaku.

"Bakal turun lagi harganya kalau sudah musim panen raya. Biasanya kembali normal Rp6.000-Rp6.200 per kg untuk di daerah kita ini. Sekarang bisa mahal murni karena barangnya memang susah didapatkan," pungkasnya.

(*)

Sumber: Tribun Sumsel
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved