OPINI
Euforia Bulan Ramadhan: Antara Ibadah dan Gaya Konsumsi yang Berlimpah
Ujian terberat Ramadhan modern bukan lagi sekadar menahan lapar dan dahaga, tetapi justru menahan diri dari gelombang konsumsi yang menggoda
Seolah ada pertentangan, di satu sisi, geliat ekonomi sangat dibutuhkan, terutama bagi masyarakat kecil yang menggantungkan hidup pada momen seperti ini. Peningkatan pendapatan bisnis bisa berarti kelangsungan usaha dan penghidupan bagi banyak keluarga.
Di sisi lain, perilaku konsumtif yang berlebihan mengaburkan makna latihan pengendalian diri. Kita terjebak dalam lingkaran: berpuasa menahan lapar, lalu berbuka dengan pola konsumsi yang justru boros dan terkadang mubazir.
Ironisnya pula iklan-iklan yang mengaitkan kebahagiaan Ramadhan dengan produk tertentu secara halus menggeser nilai spiritual menjadi nilai material. Bukannya persiapan hati, yang dipersiapkan malah daftar belanja yang panjang.
Jangan Terjebak Konsumerisme
Lalu, bagaimana menyikapinya? Kesadaran kritis sebagai konsumen adalah kuncinya. Menggunakan teori perilaku konsumen untuk memahami diri sendiri: apakah belanja kita didorong oleh kebutuhan nyata, atau sekadar pengaruh sosial dan emosi sesaat? Menyusun prioritas belanja berdasarkan kebutuhan, bukan keinginan yang diciptakan iklan.
Oleh karena itu untuk menyiasatinya masyarakat bisa menciptakan "trend" baru. Misalnya, dengan lebih mengutamakan buka puasa sederhana namun bermakna, berbagi dengan yang kurang mampu, atau mengalokasikan dana yang biasa untuk belanja berlebih pada sedekah atau kegiatan sosial. Dengan begitu, sirkulasi ekonomi tetap berjalan, tetapi diiringi dengan nilai kebajikan.
Pada akhirnya Ramadhan mengajak kita untuk menemukan keseimbangan. Antara mendukung perekonomian dan tidak terjebak konsumerisme. Antara menikmati rezeki yang ada dan tetap bersyukur dengan yang sederhana. Antara memenuhi target kerja dan menjaga kekhusyukan ibadah.
Mungkin ujian terberat Ramadhan modern bukan lagi sekadar menahan lapar dan dahaga dari terbit hingga tenggelamnya matahari, tetapi justru menahan diri dari gelombang konsumsi yang menggoda di setiap waktu.
Kesadaran akan hal ini adalah langkah awal untuk menjadikan Ramadan kembali pada khittahnya: sebagai bulan tarbiyah (pendidikan) untuk menjadi manusia yang lebih baik, bukan sekadar konsumen yang konsumtif.
Marilah kita menyambut Ramadhan dengan penuh sukacita, namun dengan kesadaran penuh. Menjadikan setiap tarikan napas di bulan ini sebagai ibadah, termasuk dalam cara kita membelanjakan rezeki. Dengan demikian peningkatan pendapatan bisnis bagi sektor usaha bisa sejalan dengan peningkatan kualitas spiritual masyarakat, dan geliat konsumsi justeru mendukung kekhusyukan dalam beribadah. Selamat menyambut bulan penuh berkah, dengan hati yang ikhlas dan jiwa yang tenang. (*)
Baca juga: Doa Menyambut Ramadan Allahumma Sallimni Ila Ramadhan Wa Sallim Li Ramadhan Mohon 3 Hal kepada Allah
Baca juga: OPINI - Peluang Ekonomi dalam Budaya Gen Z, Americano tak Sepahit Menjadi Pengangguran
Baca juga: Efisiensi Anggaran, Kidung Ekonomi tak Ubah Seperti Asap Belerang Gunung Bromo
Baca juga: Jelang Ramadan, Harga Emas Antam Hari ini di Palembang Makin Anjlok, Rabu 18 Februari 2026
euforia bulan ramadhan
Ramadan 1447 H
Ramadan 2026
Opini Tribun Sumsel
Euforia Bulan Ramadhan Antara Ibadah dan Gaya Kons
Aslamia Rosa unsri
Tribunsumsel.com
Tribunnews.com
| Otonomi Daerah di Persimpangan Jalan: Seperempat Abad Sejak Berlaku UU tentang Pemerintah Daerah |
|
|---|
| Menakar Kesalehan Sosial Sebagai Rapor Utama Pendidikan: Refleksi Hardiknas 2026 |
|
|---|
| Hujan tak Pernah Ingkar Janji, Butuh Keberanian dalam Mengubah Pengelolaan Kota Terkait Banjir |
|
|---|
| Dari Kerinci ke OKU Selatan: Warisan Kopi Indonesia untuk Dunia |
|
|---|
| Purbaya Effect di Tengah Tiga Kegelapan Ekonomi |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/sumsel/foto/bank/originals/opini-euforia-ramadan.jpg)