OPINI
Menakar Kesalehan Sosial Sebagai Rapor Utama Pendidikan: Refleksi Hardiknas 2026
Di sinilah urgensi mengubah paradigma Hardiknas: dari sekadar mengejar "Rapor Akademik" menuju "Rapor Kemanusiaan".
Oleh: Prof. Dr. Amilda, M.A
Guru Besar UIN Raden Fatah Palembang
TRIBUNSUMSEL.COM -- Tanggal 2 Mei, Negara kita memperingati Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) sebagai momentum refleksi atas capaian intelektual bangsa. Namun, di tengah spektrum digitalisasi pendidikan yang masif, kita masih terjebak pada fetishisme angka.
Keberhasilan pendidikan kerap kali hanya dikuantifikasi melalui nilai ujian, indeks prestasi, atau peringkat sekolah. Pemutakhiran kurikulum yang terjadi berkali-kali di negara ini nampaknya masih belum mampu merubah mindset berfikir.
Sistem pendidikan kita saat ini seakan sedang memproduksi "robot-robot pintar" yang tuna rungu terhadap penderitaan sesamanya. Jika kita mengagungkan nilai 100 di atas kertas rapor sementara pemiliknya abai melihat sampah berserakan di depan mata atau diam saat melihat ketidakadilan, maka pendidikan tersebut telah gagal secara fundamental.
Data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) Indonesia (2024-2025) menunjukkan bahwa limbah rumah tangga di area urban (yang memiliki akses pendidikan lebih baik) tetap menjadi penyumbang sampah terbesar yang tidak terkelola dengan baik. Ini membuktikan bahwa kurikulum sains tentang lingkungan tidak otomatis berubah menjadi perilaku "saleh secara lingkungan".
Padahal, jika kita menilik dalam perspektif Pendidikan Islam esensi dari tarbiyah bukan sekadar transfer of knowledge melainkan transfer of value yang bermuara pada kesalehan sosial. Karena itu, memberi Batasan pada makna tarbiyah hanya pada dimensi kognitif saja adalah bentuk sekularisasi terselubung. Ketika pendidikan dipisahkan dari ruh dan pengabdian sosial, maka yang terjadi adalah terpisahnya manusia dari hakikat penciptaannya.
Paradoks Intelektual: Pintar Saja Tidak Cukup
Beberapa tahun terakhir, fenomena bullying, intoleransi, hingga krisis empati di kalangan pelajar semakin meningkat. Ini merupakan sinyal bahwa ada mata rantai yang terputus antara kecerdasan intelektual dan perilaku sosial.
Selain itu banyak Lembaga pendidikan merasa sudah "Islami" dengan peraturan sekolah yang mewajibkan salat berjamaah atau hafalan surat pendek bagi siswa. Namun, faktanya seringkali ritual ini berhenti di masjid sekolah.
Pendidikan Islam seharusnya bersifat transformatif. Kesalehan sosial adalah "tes DNA" bagi keimanan seseorang. Jika seorang pelajar mengaku beradab namun aktif menebar fitnah dan bullying di medsos, maka sesungguhnya telah terjadi malpraktik pada proses tarbiyah di sekolah. Kesalehan ritual yang tidak melahirkan kesalehan sosial adalah kemunafikan yang dilembagakan
Dalam Islam, Sistem pendidikan yang sehat harus mampu memicu "kegelisahan sosial". Siswa tidak sekadar diajar untuk lulus ujian, tapi dilatih empati saat melihat kemunkaran dan merasa bertanggung jawab untuk memberi solusi.
Secara epistemologis, Imam Al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin menegaskan bahwa ilmu yang tidak melahirkan perbaikan akhlak adalah ilmu yang tidak bermanfaat. Ilmu bukan sekadar kumpulan data yang tersimpan di memori seperti hard drive computer, tetapi Ilmu memiliki "ruh" dan "tujuan".
Ruh dari ilmu adalah Kesadaran spiritual dan keikhlasan, sementara tujuan dari ilmu secara ontologis memiliki tujuan spesifik meliputi : Al-’Ubudiyyah: yakni membawa seseorang makin mengenal pencipta-Nya, Ma’rifatullah:
Semakin cerdas seseorang, seharusnya ia semakin merasa kecil di hadapan semesta, bukan malah sombong, Tazkiyatun Nafs: pensucian jiwa, Jika seseorang belajar psikologi, tujuannya bukan untuk memanipulasi orang lain, melainkan untuk memahami dan memperbaiki jiwanya sendiri, dan Rahmatan lil 'Alamin: Inilah yang disebut dengan Kesalehan Sosial.
Tujuan akhir ilmu adalah menjadi solusi bagi problematika kemanusiaan. Ilmu kedokteran tujuannya menyembuhkan, ilmu ekonomi tujuannya menyejahterakan, dan ilmu agama tujuannya mendamaikan. Kecerdasan tanpa moralitas akan melahirkan “penjahat”.
hari pendidikan nasional 2026
Hardiknas 2026
Menakar Kesalehan Sosial Sebagai Rapor Utama Pend
Tribunsumsel.com
Tribunnews.com
| Hujan tak Pernah Ingkar Janji, Butuh Keberanian dalam Mengubah Pengelolaan Kota Terkait Banjir |
|
|---|
| Dari Kerinci ke OKU Selatan: Warisan Kopi Indonesia untuk Dunia |
|
|---|
| Purbaya Effect di Tengah Tiga Kegelapan Ekonomi |
|
|---|
| Pemberlakuan PP TUNAS: Memutus Rantai Adiksi, Menjemput Masa Kecil yang Hilang |
|
|---|
| Ekonomi Pasca Ramadan 2026, Tren Mudik dari Tahun ke Tahun, dan Ketidakpastian Ekonomi Global |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/sumsel/foto/bank/originals/opini-refleksi-hardiknas.jpg)