OPINI

Efisiensi Anggaran, Kidung Ekonomi tak Ubah Seperti Asap Belerang Gunung Bromo 

Data pertumbuhan ekonomi Indonesia yang baru dirilis menunjukkan ekonomi tumbuh sebesar 5,11% pada tahun 2025, dan kemiskinan turun menjadi 8,25%.  

Tayang:
Editor: Lisma Noviani
LISMA/GRAFIS/CANVA
OPINI EFISIENSI ANGGARAN -- Penulis Dosen FE Unsri Sukantor, SE, M.Si 

Oleh:  Dr. Sukanto, S.E., M.Si

  • Pengamat Ekonomi 
  • Dosen Jurusan Ekonomi Pembangunan FE UNSRI

TRIBUNSUMSEL.COM -- Sejak lebih dari setahun silam pada saat diskusi di ruang kecil bersama teman teknokratik, sembari tertawa dan berlalu penulis berseloroh kalau efisiensi akan menemukan jalannya sendiri.

 Alasannya cukup menggelitik “toh nanti akan berjalan sebagaimana mestinya” seperti yang diungkapkan ekonom klasik, dimana akan selalu terjadi penyesuaian dari setiap kemelut yang terjadi.

Ungkapan itu awalnya tidak dimaknai serius namun menyimak data kinerja pembangunan sepanjang 2025 seperti pertumbuhan ekonomi dan kemiskinan yang mencatatkan capaian gemilang di saat efisiensi besar-besaran, sepertinya guyonan tadi ada benarnya.

Publikasi BPS menggambarkan kalau pertumbuhan ekonomi dan kemiskinan melesat dan berada dalam koridor yang telah ditetapkan. Penulis pun bergumam, jangan-jangan efisiensi yang dilakukan pemerintah pusat memang sesuatu hal yang memang penting yang menyebabkan pemerintah daerah mulai kreatif melakukan realokasi, dan prioritas anggaran dengan tepat, atau boleh jadi semua capaian tersebut karena peran sektor swasta dan masyarakat sebagai penggerak ekonomi yang semakin resilience.

Tentu masih banyak gumam dengan segala kemungkinan, namun yang jelas efisiensi masih dibarengi ekonomi tumbuh melesat dan kemiskinan meluncur bak menuruni jurang Gunung Bromo. Kemungkinan-kemungkinan tadi membutuhkan renungan yang mendalam.


Teori Ekonomi Klasik, Efisiensi Menemukan Jalan yang Benar?

Dalam teori ekonomi klasik yang dimotori oleh Adam Smith dengan salah satu asumsi dasarnya yaitu campur tangan/peran pemerintah dalam ekonomi tidak besar sehingga mekanisme pasar (invisible hand) dianggap paling efisien.

Bercermin dari efisiensi masif dengan pengurangan anggaran lebih dari 30 persen sepanjang tahun 2025, awalnya sebagian orang khawatir akan berdampak terhadap kinerja ekonomi, melalui program-program pemerintah yang cenderung berkurang.

Seperti disebutkan sebelumnya, pemerintah sedang gencar-gencarnya melakukan efisiensi di berbagai bidang, dan digeser ke program stategis nasional (ProSN) akibatnya beberapa pos belanja pemerintah secara kuantitas berkurang.

Diketahui, selama ini memang belanja pemerintah “dianggap” menjadi bagian penting dalam mengerakan ekonomi melalui berbagai program yang pro-poor, pro-job, dan pro-growth. 

Namun demikian, melirik data ekonomi tumbuh mengesankan tadi, efisiensi yang sedang dilakukan sepertinya memiliki daya ungkit cukup baik. Hal ini tercermin dari belanja pemerintah yang masih tumbuh signifikan. Oleh karena itu, perlu ditelisik apakah pertumbuhan ekonomi dan pengurangan kemiskinan yang terjadi saat efisiensi super ketat tersebut sebuah paradox.

Setidaknya ada beberapa kondisi yang bisa menguatkan mengapa pertumbuhan ekonomi masih tinggi di saat dilakukan efisiensi, yaitu :

Pertama, dalam permodelan ekonomi dikenal adanya lag, bisa jadi terdapat lag antara program pemerintah dengan pertumbuhan ekonomi, dimana secara sederhana dimaknai program-program pemerintah sebelum terjadi efisiensi berdampak di tahun berikutnya.

Kedua, tidak pula bisa dipungkiri, sebagian besar pertumbuhan ekonomi didorong oleh konsumsi masyarakat dengan proporsi lebih dari 60?ri total PDB atau PDRB, artinya kalau konsumsi tumbuh 5 % saja pertumbuhan ekonomi bisa tumbuh sebesar 3 % , selebihnya merupakan kontribusi investasi, pengeluaran pemerintah, dan ekspor neto.

Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved