OPINI
Euforia Bulan Ramadhan: Antara Ibadah dan Gaya Konsumsi yang Berlimpah
Ujian terberat Ramadhan modern bukan lagi sekadar menahan lapar dan dahaga, tetapi justru menahan diri dari gelombang konsumsi yang menggoda
Oleh : Dr. Aslamia Rosa, SE, M.Si
Dosen Jurusan Manajemen, Fakultas Ekonomi Universitas Sriwijaya (Unsri)
TRIBUNSUMSEL.COM -- Bulan Ramadhan tak sekadar datang sebagai tamu agung yang dinanti kehadirannya. Ia hadir dengan keistimewaan yang melekat pada setiap detiknya : pintu ampunan dibuka lebar, dan pahala ditingkatkan. Namun di tengah nuansa spiritual yang yang seharusnya menaungi kesadaran umat, euphoria Ramadhan justru menjelma dalam wujud yang jauh lebih kasat mata.
Beberapa sebelum bulan Ramadhan tiba spanduk-spanduk, iklan televisi dan digital, dan pajangan toko sudah lebih dulu "berpuasa" dari kata-kata biasa—semua diganti dengan frasa "Ramadhan Sale", "Berburu Takjil", atau "Persiapan Lebaran dari Sekarang".
Ada semacam ritme masyarakat yang bergeser; selain mempersiapkan hati, kita juga disergap oleh persiapan yang sifatnya sangat material. Semua itu menjadikannya suguhan visual yang meriah sekaligus membentuk persepsi kolektif bahwa menyambut Ramadhan berarti bersiap secara materi.
Pergeseran ritme sosial ini halus namun nyata, di antara persiapan hati yang sunyi, namun pada saat yang bersamaan kita digiring pada gemuruh konsumsi yang serba kasatmata.
Masyarakat dengan segala dinamika sosial dan ekonominya seakan larut dalam euforia Ramadhan yang terkonstruksi di pasar.
Perilaku Konsumtif Masyarakat
Tak dapat dipungkiri ikut campurnya industri dalam ruang spiritual menciptakan sebuah gelombang kebiasaan baru yaitu : Ramadhan bukan hanya tentang menahan lapar dan dahaga, tetapi juga tentang menjadi bagian dari sesuatu yang ramai dalam hal busana hingga makanan dan minuman. Konsumen, pengusaha, pedagang, influencer hingga konten kreator larut dalam narasi ini.
Akibatnya semangat Ramadhan yang semula bersifat personal dan reflektif perlahan terkikis oleh hasrat kolektif untuk memiliki, membeli dan mengkonsumsi barang-barang yang disuguhkan di pasar.
Di satu sisi, peningkatan pendapatan bisnis pada periode ini adalah fakta yang tak terbantahkan. Penjualan makanan pokok, kurma, sirup, hingga kebutuhan dapur melonjak drastis.
Pasar tradisional sampai mal-mal besar mencatat omzet yang mungkin hampir setara dengan beberapa bulan biasa. Oleh karenanya bagi pelaku usaha, Ramadhan adalah anugerah ekonomi, momentum untuk menutup kerugian sekaligus mencetak laba maksimal.
Selama bulan Ramadhan, setelah berpuasa seharian perilaku konsumtif masyarakat pun menjelma dalam pola yang unik. Ada semacam "balas dendam" setelah seharian menahan lapar dan dahaga. Bukan sekadar membeli untuk berbuka, tetapi membeli dalam jumlah dan variasi yang kerap melebihi kebutuhan.
Selanjutnya teori perilaku konsumen dari perspektif psikologis sosial bisa menjelaskan fenomena ini, di mana Ramadhan menciptakan "kelompok referensi" baru, contohnya dengan munculnya tren takjil kekinian atau hidangan buka puasa mewah di media sosial mendorong individu untuk meniru (bandwagon effect) agar merasa menjadi bagian dari komunitas.
Tak hanya itu, relevansi teori motivasi Maslow menjadi menarik untuk kita renungkan. Setelah kebutuhan fisiologis (lapar, haus) ditahan berjam-jam, muncul dorongan kuat untuk memenuhinya bahkan cenderung berlebihan berlebihan saat waktu berbuka tiba.
Fenomena ini bisa dimaknai sebagai sebuah bentuk aktualisasi diri— sebuah upaya menunjukkan kemampuan diri melalui gaya konsumsi. Belum lagi faktor emosional yang turut bermain; tidak sedikit yang berbelanja untuk mendapatkan perasaan senang dan penghargaan diri setelah seharian berpuasa, sebuah pola yang kerap menjadi celah yang dimanfaatkan secara strategis oleh para pelaku usaha dalam menjaring konsumen.
Puasa Adalah Menahan Nafsu
Di tengah hiruk-pikuk ini, kita perlu diingatkan kembali pada esensi Ramadhan sebagai bulan untuk melatih kesederhanaan, pengendalian diri, dan pendekatan diri kepada Tuhan. Ibadah puasa sejatinya adalah momentum untuk mengelola hawa nafsu, termasuk nafsu konsumtif yang sering kali tak terkendali. Kekhusyukan dalam beribadah—seperti tarawih, tadarus, atau sekadar merenung—menuntut ketenangan jiwa yang justru bisa tercerai-berai oleh agenda "belanja kebutuhan Ramadhan" yang berusaha memenuhi keinginan.
euforia bulan ramadhan
Ramadan 1447 H
Ramadan 2026
Opini Tribun Sumsel
Euforia Bulan Ramadhan Antara Ibadah dan Gaya Kons
Aslamia Rosa unsri
Tribunsumsel.com
Tribunnews.com
| Otonomi Daerah di Persimpangan Jalan: Seperempat Abad Sejak Berlaku UU tentang Pemerintah Daerah |
|
|---|
| Menakar Kesalehan Sosial Sebagai Rapor Utama Pendidikan: Refleksi Hardiknas 2026 |
|
|---|
| Hujan tak Pernah Ingkar Janji, Butuh Keberanian dalam Mengubah Pengelolaan Kota Terkait Banjir |
|
|---|
| Dari Kerinci ke OKU Selatan: Warisan Kopi Indonesia untuk Dunia |
|
|---|
| Purbaya Effect di Tengah Tiga Kegelapan Ekonomi |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/sumsel/foto/bank/originals/opini-euforia-ramadan.jpg)