Berita Palembang

Kerajinan Sulam Angkinan di Kampung Sunan, Pertahankan 15 Motif dan Tradisi Pakaian Adat Palembang 

Sulam Angkinan ini dikerjakan secara manual oleh para remaja dan ibu rumah tangga (IRT) yang dianggap penting untuk mempertahankan seni budaya dan

Penulis: Mat Bodok | Editor: Kharisma Tri Saputra
SRIPOKU.COM/MAT BODOK
KUKU KELABANG - Ketua Kelompok Kampung Sunan Sulam Angkinan Ayu, menunjukan Sulam Angkinan motif Kuku Kelabang, untuk taplak meja. 

TRIBUNSUMSEL.COM - Kerajinan Sulam Angkinan di Kampung Sunan Jalan Mayor Zen, Lorong Tanjungan Kelurahan Sei Lais Kecamatan Kalidoni Kota Palembang, Sabtu (30/9/2025).

Sulam Angkinan ini dikerjakan secara manual oleh para remaja dan ibu rumah tangga (IRT) yang dianggap penting untuk mempertahankan seni budaya dan tradisi pakaian adat Kota Palembang Sumatera Selatan (Sumsel), sejak jaman kesultanan.

Kain berbahan dasar beludru dan lainnya itu, dengan diperindah corak benang emas membuat belasan motif memang khas kesultanan pertama hingga sekarang ini terus kita lestarikan sampai turun temurun.

Memiliki 15 motif, pertama kuku kelabang,  sulur-sulur, papan-papan, lima jari, burung-burung, kembang-kembang, kipas lurus, kipas miring, bunga Siti Fatimah, bunga putri kembang dadar, biji pala, motif ombak-ombak yang dibuat di gandik, dan selendang, serta sarung bantal, tanjak, taplak meja, dan souvenir.

"Saya ini sudah keturunan yang ke enam setelah orang tua saya, untuk melestarikan Sulam Angkinan untuk tetap melestarikan kain Sulaman Angkinan secara mandiri sebelum dapat perhatian pemerintah dan sponsor," kata Ayu Ketua Kelompok Kampung Sunan Angkinan.

Mengapa baru sekarang Sulam Angkinan melejit, terkenal di Kelurahan Sei Lais Kecamatan Kalidoni Kota Palembang ini, karena dulu banyak orang beranggapan wilayah Sei Lais sangat teksas, ekstrim kriminalitasnya.

Sehingga, sponsor dan sentuhan Pemerintah Kota (Pemkot) Palembang dan Pemprov Sumsel, sangat kurang. Namun, keadaan sekarang sangat jauh berbeda, karena masyarakat Sei Lais juga ingin maju dan berkembang sesuai kebutuhan di jaman kemajuan sekarang ini.

"Alhamdulillah, sekarang anggapan yang negatif terhadap Sei Lais drastis berubah, sehingga banyak perhatian dari Pemkot dan Pemprov Sumsel, serta pihak perbankan yang peduli ingin memajukan masyarakat di Kecamatan Kalidoni di ujung perkotaan," tutur Ayu sembari menunjukan salah satu kepedulian pihak Bank Sumsel Babel telah membangunkan gerbang Kampung Sunan Sulam Angkinan dan Galeri.

Panjang lebar Ayu, ini suatu tanda baik untuk kedepan dari Kelompok Kampung Sunan Angkinan menuju sukses dalam berkarya melestarikan budaya dan pakaian adat asli Palembang.

Dibeberkan Ayu, untuk Sulam Angkinan ini sudah ada sejak zaman pertama kesultanan Palembang, dirinya selaku keturunan dari orang tua untuk terus melestarikan Sulam Angkinan dengan mengajak warga terus belajar membuat kerajinan tradisional secara manual.

"Saya ini sama saja membuka lapangan kerja bagi ibu-ibu yang belum ada pekerjaan, untuk membantu penghasilan suami mereka sebagai pekerja petani," ujar Ayu untuk pendapatan mereka disini sesuai dengan penjualan Sulam Angkinan.

Semakin banyak pemesan, pembeli tentunya membuat pengrajin Sulam Angkinan binaannya tersenyum karena bisa mendapat hasil lebih cepat. "Untuk penghasilan mereka sesuai dengan pemesanan," jelasnya.

Ketika ditanya ada berapa motif dari Sulam Angkinan tadi, Ayu menyebutkan ada 15 motif, pertama kuku kelabang,  sulur-sulur, papan-papan, lima jari, burung-burung, kembang-kembang, kipas lurus, kipas miring, bunga Siti Fatimah, bunga putri kembang dadar, biji pala, motif ombak-ombak yang dibuat di gandik, selendang, sarung bantal, tanjak, taplak meja, dan souvenir.

Ayu berharap kerjasama yang erat kepada Pemerintah Kota dan Pemerintah Provinsi Sumsel, untuk mewajibkan kepada seluruh Instansi pemerintah dan lembaga serta masyarakat untuk menekankan agar selalu membawa Sulam Angkinan ke setiap acara resmi maupun penyambutan tamu.

"Saya berharap penuh dukungan pemerintah dan lembaga serta masyarakat dalam melestarikan Sulam Angkinan ini ada di tanjak yang digunakan setiap Laki-laki, dan ada di pasang di gandik untuk dipakai perempuan, serta selendang sebagai penyambut tamu undangan yang hadir," harap Ayu.

Mengenai harga jual Sulam Angkinan di Kampung Sunan, tentunya sangat terjangkau bagi masyarakat Sumsel. "Kain Sulam Angkinan ini sudah merambah ke luar Kota Palembang, Jakarta dan Kota besar lainnya," tandasnya untuk baju sepasang pengantin yang sudah jadi sudah dipesan oleh Kabupaten Muara Enim.

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved