Kopi Sumsel
Menjaga Kopi Semendo Arabika dengan Tradisi Adat Tunggu Tubang
Daerah semendo memang dikenal dengan penghasil kopi robusta, kini terdapat potensi kopi arabika yang cukup menjanjikan.
TRIBUNSUMSEL.COM, MUARA ENIM - Sumatera Selatan merupakan penghasil kopi terbesar di Indonesia dengan menyumbang sekira 26 persen dari total produksi kopi nasional.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatatkan tahun 2022, Sumsel memproduksi 212,4 ribu ton kopi, salah satunya dari sentra perkebunan kopi Muara Enim.
Tim Jelajah Kopi Sumatera Selatan (Sumsel) menelusuri Desa Cahaya Alam, Kecamatan Semendo Darat Ulu, Kabupaten Muara Enim, Senin (12/5/2025).
Daerah semendo memang dikenal dengan penghasil kopi robusta, kini terdapat potensi kopi arabika yang cukup menjanjikan.
Semendo berada di ketinggian antara 800 hingga 1.400 MDPL dengan luas perkebunan kopi sekira 23.000 hektar.
Baca juga: Tukang Seduh Gencar Angkat Kopi Asli Sumsel Agar Lebih Dikenal Luas
Di lahan ini, tumbuh kopi Semendo arabika berkualitas tinggi dengan rasa yang khas, sedikit keasaman dan aroma seperti gula aren, serta sedikit rasa buah.
Syaripudin, penggiat kopi Semendo menemani Tim Penjelajah Kopi Sumsel menelusuri perkebunan kopi di Desa Cahaya Alam.
Ia menjelaskan kopi arabika berpotensi mendunia, bahkan brand kopi asal Amerika Serikat pernah meminta pada Syaripudin langsung tanpa perantara untuk menyediakan pasokan biji kopi Semendo arabika dalam jumlah besar sekitar ratusan ton dengan berkala.
Namun, hati nurani seorang penggiat kopi seperti Syaripudin bergejolak.
Ia lebih memilih membagi produksi kopi Semendo arabika dengan mendahulukan warga lokal dan pengusaha kecil serta menyebar terlebih dahulu secara nasional, kemudian mengekspor tidak dalam jumlah besar.
Karena 80 % warga lokal memang hidup dari kopi bahkan Semendo memiliki tradisi dalam menjaga warisan kopi sejak abad ke-19.
Baca juga: Kopi Seduh Vespa, Kedai Kopi Unik di Jantung Kota Palembang Jadi Magnet Anak Muda
TUNGGU TUBANG
Tunggu Tubang merupakan tradisi yang diwariskan oleh nenek moyang Semendo pada anak perempuan tertua dalam keluarga untuk diberikan amanah mengurus warisan berupa tanah, rumah, dan sawah, serta kebun kopi harus terkelola dengan baik.
Begitu seriusnya masyarakat Semendo menjaga kopi sejak lampau hingga hari ini.
Bahkan masyarakat Semendo saat ini gencar pada sistem petik merah dengan proses panen buah kopi merah cherry yang memiliki kualitas paling baik.
Dengan keseriusan warga Semendo mengelola kopi ini, Syaripudin percaya kopi Semendo sebagai permata di dunia kopi akan bertahan lama hingga kopi Sumatera Selatan mendunia. (agg)
Baca berita lainnya di Google News
Bergabung dan baca berita menarik lainnya di saluran WhatsApp Tribunsumsel.com
| Harga Kopi Empat Lawang Merosot ke Rp45 Ribu, Petani Harap Bisa Tembus Rp70 Ribu Seperti Tahun Lalu |
|
|---|
| Harga Kopi di Empat Lawang Kini Rp51 Ribu per Kilo, Petani Berharap Bisa Tembus Rp70 Ribu per Kilo |
|
|---|
| Masuk Masa Panen, Harga Kopi di Empat Lawang di Bawah Rp50 Ribu, Padahal Tahun Kemarin Rp70 Ribu/Kg |
|
|---|
| Kopi Arabika Raden Kuning Jadi Identitas Pagar Alam, Pemkot Upayakan Sertifikasi Indikasi Geografis |
|
|---|
| Harga Kopi di Empat Lawang Anjlok Hingga Rp 45 Ribu Perkilo, Para Petani Kini Harap-harap Cemas |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/sumsel/foto/bank/originals/kopi-semendo-tradisi-tunggu-tubang.jpg)