Berita UMKM

Kopi Seduh Vespa, Kedai Kopi Unik di Jantung Kota Palembang Jadi Magnet Anak Muda

Sebuah kedai kopi unik bernama "Kopi Seduh Vespa" hadir dan langsung mencuri perhatian, terutama di kalangan anak muda Palembang.

SRIPOKU/SYAHRUL HIDAYAT
KOPI SEDUH VESPA -- Barista Kopi Seduh, Eko Agustiawan dengan Vespanya dijadikan etalase meracik kopi di pinggir Jalan Sudirman pada malam hari, sibuk melayani pecinta kopi, Minggu (11/5/2025). Selain ngopi pengunjung juga bisa bermain gaple dan catur. SYAHRUL HIDAYAT 

TRIBUNSUMSEL.COM, PALEMBANG -- Gemerlap lampu malam di sepanjang Jalan Jenderal Sudirman kini memiliki daya tarik baru. 

Sebuah kedai kopi unik bernama "Kopi Seduh Vespa" hadir dan langsung mencuri perhatian, terutama di kalangan anak muda Palembang.

Bagaimana tidak, kedai kopi ini menyulap sebuah Vespa klasik menjadi etalase kopi yang menarik dan tempat meracik minuman.

Kesederhanaan yang dipadukan dengan keunikan ini menjadikannya andalan baru untuk menghabiskan malam sembari menikmati secangkir kopi.

Beroperasi sejak tahun 2022, ide awal pendirian kedai Kopi Seduh Vespa ini tercetus dari keinginan seorang Eko Agustiawan, sang barista, untuk menciptakan ruang berkumpul yang asyik bagi anak-anak muda.

Berbekal latar belakang sebagai seorang barista, Eko menawarkan beragam pilihan kopi, mulai dari Robusta yang menjadi favorit hingga Arabica yang diracik khusus.

Harga yang bersahabat, hanya Rp 10.000 per cangkir, semakin menarik minat para pengunjung.

Selain kopi, tersedia juga pilihan minuman lain seperti maca, cokelat, green tea, dan Thai tea.

"Yang paling banyak dicari memang Robusta," ujar Eko saat ditemui di kedainya.

Ia menambahkan bahwa kedai kopi ini ramai pengunjung, terutama saat akhir pekan dan malam Sabtu, di mana penjualan bisa mencapai lebih dari 100 cup.

Kedai ini buka setiap hari mulai pukul 20.00 hingga 02.00 dini hari.

"Di sini setiap malam banyak yang jual kopi di sepanjang Jalan Sudirman," ungkap Eko.

Salah satu keunggulan Kopi Seduh Vespa adalah penggunaan biji kopi asli dari kebun sendiri di Pagaralam.

Hal ini diungkapkan oleh Eko sebagai strategi untuk menekan biaya pembelian biji kopi, terutama saat harga di pasaran cenderung naik.

"Jadi, lumayan bisa mengurangi biaya," katanya sambil ditemani sang istri yang juga membuka lapak makanan ringan seribuan di samping kedai.

Halaman
12
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved