Gua Harimau: Jejak Peradaban Masa Lampau di Sumatra Selatan

Gua Harimau secara administratif berada di Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU), tepatnya di lereng Bukit Karang Sialang,

Editor: Sri Hidayatun
DOKUMENTASI
Foto pengunjung di Situs Gua Harimau (Dokumentasi BPK Wilayah VI, 2023) 

TRIBUNSUMSEL.COM- Tak banyak yang mengira bahwa Sumatra Selatan memiliki jejak peradaban prasejarah nan memukau.

Jejak itu berbaur dengan alam dan menyatu dengan kehidupan masyarakat berbilang masa. Saat ini, catatan kehidupan masa lampau ribuan tahun silam itu dikenal dengan sebutan Gua Harimau.

Mentari Halimun

Pamong Budaya Ahli Pertama Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah VI

Gua Harimau secara administratif berada di Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU), tepatnya di lereng Bukit Karang Sialang, di kawasan hutan karst Desa Padang Bindu, Kecamatan Semidang Aji.

Dari ibu kota kabupaten, jika ingin menuju ke lokasi gua, pengunjung masih harus menempuh ± 35 kilometer.

Lokasi gua berada pada ketinggian ± 164 mdpl dengan kemiringan lereng 40⁰. Bentuk gua berupa ceruk besar dengan arah hadap tenggara, dan termasuk pada kategori gua yang terkena sinar matahari terbit.

Gua Harimau merupakan salah satu gua hunian masa prasejarah yang di dalamnya banyak ditemukan tinggalan berupa alat batu, bekal kubur, gerabah, alat logam, tulang manusia (ekofak), maupun lukisan pada dinding gua.

Karena kekayaan tinggalan yang dimilikinya, pada tahun 2019 Gua Harimau telah ditetapkan sebagai Situs Cagar Budaya Peringkat Nasional melalui Surat Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 224/P/2019.

Jejak Tinggalan Sejarah di Situs Gua Harimau

Gua Harimau ditemukan pada tahun 2008 atas laporan dari penduduk desa bernama Ferdi. Kala itu Pusat Penelitian Arkeologi Nasional melakukan survei di kawasan perbukitan karst Padang Bindu. Setelah laporan temuan tersebut, secara masif dilakukan penelitian hingga tahun 2016.

Pentingnya Gua Harimau sebagai situs prasejarah terlihat dari temuan-temuan spektakuler dengan kelengkapan dan kekayaan tinggalan yang sangat jarang ditemukan di situs lainnya di Indonesia.

Bahkan, bisa dikatakan bahwa kronologi hunian di Gua Harimau merupakan yang terpanjang dengan sekuens lapisan budaya terlengkap yang ditemukan sejauh ini di Sumatra.

Dari hasil penanggalan radiometri dari lapisan terdalam ekskavasi yang dilakukan, diketahui bahwa lapisan hunian awal berusia sekitar 22.000 tahun dan lapisan teratas di sekitar abad awal Masehi, yaitu sekitar tahun 164 ± 36 M.

Data hasil ekskavasi yang dilakukan hingga tahun 2016 telah ditemukan sebaran kubur dari 81 individu. Dari ciri-ciri fisik individu yang ditemukan, disimpulkan bahwa individu-individu tersebut tergolong pada dua ras yang berbeda; yaitu ras australomelanesid dan ras mongoloid.

Halaman
123
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved