Liputan Khusus Tribun Sumsel

Rekening Nasabah Bank Sering Bobol, Berikut Analisa Pengamat Ekonomi Sumsel Dr Sri Rahayu -2

Pengamat ekonomi Sumsel dari UMP Dr Sri Rahayu mengatakan, jika sering terjadipembobolan rekening nasabah di bank, patut dicurigai adanya orang dalam.

Editor: Vanda Rosetiati
DOK TRIBUN SUMSEL
Pengamat ekonomi Sumsel dari UMP Dr Sri Rahayu mengatakan, jika sering terjadi pembobolan rekening nasabah di bank, patut dicurigai adanya orang dalam. 

TRIBUNSUMSEL.COM, PALEMBANG - Pengamat ekonomi Sumsel dari Universitas Muhammadiyah Palembang (UMP) Dr Sri Rahayu SE MM mengatakan, jika sering terjadinya pembobolan rekening nasabah di bank, patut dicurigai adanya orang dalam itu sendiri.

"Mengingat, yang bisa membobol rekening bank pastinya yang mengerti sistem bank itu. Jadi patut dicurigai keterlibatan orang dalam itu sendiri, " kata Sri.

Dengan begitu, perbankan yang ada dalam perekrutan Sumber Daya Manusianya (SDM), harus dilakukan ketat dan memiliki moral. Kemudian harus ada evaluasi setiap 2 sampai 3 tahun.

"Karena kejahatan ini memang dilakukan orang pintar sebenarnya, kalau orang bodoh tidak bisa masuk sistem itu, dia menguasai sistem dan orang dalam yang bisa bobolnya. Jadi bagian SDM bank itu perlu lebih memperhatikan lagi bagaimana kualitas SDM dalam penerimaan, dan dalam pekerjaan," ucapnya.

Sebab tidak bisa diawal penerimaan saja dilakukan pengawasan dan ia bagus karjanya, tapi bisa saja ia mempersiapkan diri dengan mengikuti pelatihan dimana akhirnya lolos saat ujian. Setelah bekerja ia memiliki kesempatan untuk melakukan kejahatan.

"Namun, ketika dalam kantor tidak ada pembinaan moral tadi, karena dia melihat kondisi banyak uang dan bisa memindahkan. Terkadang niatnya itu begini, sebentar saya pakai dulu uang nasabah, apalagi dana mendep ada peluang kesempatan bagi mereka karena nasabah jarang monitor. Karena ia merasa pintar jadi kebiasaan yang jadi kebiasaan jahat, sehingga perlu keimanan orang di bank itu juga, " paparnya.

Ditambahkan Sri, kalau dikatakan pembobolan dilakukan orang luar, pastinya ada yang mengajari dan memahami sistem perbankan itu. Bisa saja orang itu adalah mantan pegawai di sana yang sudah dipecat.

"Saya tetap menyalahkan pihak bank, mungkin dia bercerita, atau pegawai diskor atau dipecat, dan ia punya keahlian seperti itu. Jadi kalau ada masalah karyawan harusnya bukan pemecatan yang tepat dilakukan pihak perbankan, justru apabila karyawan itu tidak bersalah dengan diberhentikan ia pasti sakit hati. Nah, dia punya ilmu dan bukan dia melakukannya tapi orang lain mengajari dan ia berkelompok untuk balas dendam, " paparnya.

Dirinya menyarankan pihak perbankan, untuk mengantisipasi pembobolan rekening nasabah ke depannya perekrutan SDM yang unggul harus ketat dan memperhatikan tahapan lainnya yang benar mulai psikologis, wawancara, termasuk evaluaai per 2 sampai 3 tahun bagi karyawannya, tergantung kebijakan perusahan.

"Tidak semua pegawai bank punya akses membuka dan harus ada kepercayaan orang tertentu, seperti di minimarket ada orang- orang tertentu yang memiliki akses masuk ke sistem contohnya supervisor, dan jika berurusan lebih dalam sdperti perubahan PIN harus ada penanggung jawab sendiri, " tandasnya.

Sementara untuk langkah- langkah yang perlu dilakukan dan perlu diantisipasi nasabah bank, agar rekening tabungannya tidak dibobol orang, ia menyarankan agar sang nasabah untuk merahasiakan nomor PIN nya dan rutin menggantinya setiap berapa bulan sekali.

"Nasabah jangan pernah berikan PIN ke seseorang termasuk ke keluarganya sendiri bila perlu, nantinya kalau dikasih tahu akan dikasih tahu juga ke orang lain. Kadang- kadang, karena berteman dengan anaknya bisa diketahui orang lain, dan itu bisa jadi sumber kejahatan. Termasuk antisipasi lainnya dengan sering ganti PIN untuk lebih aman, " pungkasnya. (arf)

Baca berita lainnya langsun dari google news

Silakan gabung di Grup WA TribunSumsel

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved