Berita OKI
Kisah Putri Seriang Kuning, Makamnya Diyakini Tertua dan Terpanjang di Kabupaten OKI
Petilasan atau makam Seriang Kuning yang berada di Kelurahan Kedaton, Kecamatan Kayuagung konon diyakini sebagai makam tertua dan terpanjang di OKIm
Penulis: Winando Davinchi | Editor: Shinta Dwi Anggraini
Ditengah kisah mereka, tiba-tiba kampung tersebut dilanda musibah bencana alam. Berangkat dari hal tersebut, Ayah Putri Sri Ayu hawatir kalau anaknya satu - satunya ikut hanyut dibawa air.
"Puyang Haji Hasan dikenal memiliki kesaktian mampu menahan arus air yang deras. Sehingga wilayah kekuasaan mereka terhindar dari arus air yang begitu dahsyat. Mendengar wilayah itu terhindar dari banjir besar, beberapa penduduk dari luar daerah berdatangan," tuturnya.
Akibatnya pendatang tersebut memutuskan untuk menetap menjadi penduduk kampung, dan tidak mau meninggalkan kampung.
"Singkat cerita, Ayah Putri Sri Ayu ini mengumpulkan para keluarga serta beberapa kerabatnya, untuk membahas daerah tempat tinggal terutama ingin menjadikan daerah itu sebagai daerah kekuasaan, yang berarti ada yang harus menjadi pemimpin," terangnya.
Selanjutnya, mereka juga mulai mencari nama yang pantas disematkan untuk daerah itu.
Setelah beberapa bulan, tokoh yang memiliki ilmu sakti dalam kampung tersebut saling membantu mendirikan bangunan sederhana yang dijadikan istana.
"Kala itu, mereka menyebutnya sebagai Keraton. Setelah daerah itu dijadikan kekuasaan kecil yang bernama Keraton, maka daerah itu berkembang menjadi pusat perdagangan," bebernya.
Dikatakan jika pusat perdagangan menjadi maju, Ayah Putri Sri Ayu lantas mengadakan rapat kembali bersama sahabatnya Puyang Haji Hasan, Puyang Haji Husin, dan Puyang Haji Muhammad Amin.
"Mereka berkumpul untuk membicarakan rencana mereka, ingin mendirikan perkampungan yang mana diberinama daerah Kuto Rajo,"
"Daerah Kuto Rajo itu, dijadikan sebagai daerah tempat berkumpulnya para tamu raja - raja dari berbagai kerajaan kecil di negeri Andalas serta tanah Jawa," tandasnya.

Pesatnya perkembangan daerah kekuasaan mereka, memotivasi Ayah Putri Sri Ayu, untuk mengutus salah seorang putra kelahiran daerah Jawa yang bemama Raden Sidokerso.
"Utusan ini dikirim untuk menghuni sebuah daerah baru, dan daerah itu lantas diberi nama Sido Kerso yang diartikan mereka sebagai daerah yang akan menjadi pusat pertemuan persidangan," terangnya.
Daerah Sido Kerso ini lalu dijadikan tempat pengadilan. Setelah daerah pengadilan dibangun, orangpun berdatangan untuk menguji peradilan itu.
"Puyang Haji Hasan memberi amanat bahwa di daerah itu harus dihuni oleh orang yang pandai memecahkan permasalahan, serta orang yang pintar bersilat lidah yang mampu mempertahankan kebenaran dan peradilan suatu permasalahan," katanya.
Suatu hari, tersiar kabar bahwa akan ada para perampok datang mengacau, yang datang dari daerah seberang pulau.