Kebakaran Hutan dan Lahan

Budidaya Nanas di Lahat Gambut OKI Sukses, Petani Sekarang Bingung Pemasaran Hasil Panen

Sekarang kesulitan memasarkan hasil panen, sehingga solusi saat ini menjajakan buah nanas di pinggir jalan dan pihak tengkulak

Budidaya Nanas di Lahat Gambut OKI Sukses, Petani Sekarang Bingung Pemasaran Hasil Panen
Sripo/ Mat Bodok
Budidaya buah nanas di lahan gambut di wilayah Sepucuk Kayuagung dan Kecamatan Pedamaran Kabupaten Ogsn Komering Ilir (OKI), selain menjadi salah satu upaya pencegahan terjadinya kebakaran hutan dan lahan (Karhutla), kegiatan ini juga menjadi alternatif mata pencaharian untuk meningkatkan perekonomian masyarakat. 

TRIBUNSUMSEL.COM, KAYUAGUNG-Budidaya buah nanas di lahan gambut di wilayah Sepucuk Kayuagung dan Kecamatan Pedamaran Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) menjadi upaya pencegahan terjadinya kebakaran hutan dan lahan (Karhutla).

kegiatan ini juga menjadi alternatif mata pencaharian untuk meningkatkan perekonomian masyarakat.

Data yang himpun, budidaya nanas yang telah dilakukan sejak tahun 2015 lalu, dijalankan oleh sejumlah kelompok tani yang dibina langsung oleh personil Kodim 0402 OKI, yakni Serda Sutrasno yang juga Bhabinsa Desa Menang Raya, Kecamatan Pedamaran, dengan modal awal yang dikucurkan oleh Badan Restorasi Gambut (BRG).

Baca: Penghuni Rutan Martapura Terlalu Banyak, 23 Narapidana Tergabung Gelombang 1 Dipindah ke Palembang

"Alhamdulillah berhasil, sekarang sudah bisa panen, satu hektarnya bisa menghasilkan 30.000-40.000 buah Nanas, dimana buah ini rasanya manis dan enak. Untuk harga bervariasi antara Rp 1.000 sampai Rp 3.000/buah," ujar Serda Sutrasno kepada wartawan, Selasa (14/8/2018).

Menurut Sutrasno, saat ini pihaknya masih kesulitan dalam memasarkan hasil panen, sehingga solusi yang dilakukan yakni menjajakan buah nanas tersebut di pinggir jalan dan pihak tengkulak di Jakarta, Bandung dan Bengkulu yang memang beberapa kali telah membeli nanas hasil budidaya di lahan gambut OKI tersebut.

Baca: Begini Cara Dapatkan Kuota 25 GB Telkomsel Hanya dengan Bayar Rp 90.000,Cuma Hari Ini

"Ya cuma harganya memang rendah, karena tengkulak tersebut harus mengeluarkan biaya angkut yang cukup tinggi untuk membawa buah nanas ini hingga ke Jakarta, Bandung dan Bengkulu," terangnya.

Eko Mustanto selaku Ketua Kelompok Tani Budidaya Nanas, berharap event besar di Palembang yakni Asian Games dapat menjadi salah satu ajang pemasaran buah nanas OKI ini bagi para tamu dan peserta Asian Games.

"Sempat kami tawarkan kepada Panitia Lokal di Palembang, agar nanas ini bisa menjadi salah satu panganan tamu undangan dan produk yang dipasarkan di sana, namun sampai saat ini belum ada kabar selanjutnya," jelasnya seraya menuturkan, jika harga memang sesuai, pihaknya mampu mensuplai 2.000 buah/hari.

Baca: Cara Bekurban Lebih Mudah, Dompet Dhuafa Sumsel Buka Layanan Online dan Jemput Donasi Kurban

Ditanya mengenai luas lahan, Eko menjelaskan lahan yang telah ditanami nanas dan sudah panen seluas 380 ha (Sepucuk dan Cintajaya), 8 ha lahan yang sedang ditanami dan 70 ha akan ditanami.

"Pengolahan lahannya kita masih manual, sedangkan untuk penyemprotan kita lakukan saat tanaman ini akan berbuah," tukasnya.

Kondisi yang ada saat ini, lanjutnya, budidaya nanas ini alhamdulillah dapat membantu masyarakat yang tergabung dalam kelompok tani untuk meningkatkan perekonomian mereka. "Sejak masa tanam hingga panen membutuhkan waktu 14 bulan, dan sekali tanam bisa hingga 8 kali panen, jadi hasilnya lumayan untuk peningkatan ekonomi kita," pungkasnya. (SP/Mat Bodok)

Editor: Wawan Perdana
Sumber: Sriwijaya Post
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help