Siswa di Banyuasin Berharap MBG

LIPSUS : "Kami Juga Ingin Makan Bergizi Gratis", Harapan Siswa di Pulau Terluar Banyuasin -1

Namun, di tengah masifnya pelaksanaan program di wilayah daratan, ironi pahit dirasakan oleh siswa-siswa yang tinggal di wilayah perairan.

Tayang: | Diperbarui:
Penulis: M. Ardiansyah | Editor: Slamet Teguh
Tribunsumsel.com
INFO GRAFIS - "Kami Juga Ingin Makan Bergizi Gratis", Harapan Siswa di Pulau Terluar Banyuasin 

Ringkasan Berita:- Siswa di kawasan terpencil yang hanya bisa diakses via jalur air, hanya bisa menjadi penonton program MBG.
- Para orang tua siswa bekerja sebagai buruh hingga nelayan yang perekonomiannya tak menentu.
- Fakta di lapangan menunjukkan bahwa jangkauan MBG di Banyuasin masih jauh dari merata.

 

TRIBUNSUMSEL.COM, BANYUASIN—Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digalakkan Presiden Prabowo Subianto telah menjadi angin segar bagi ribuan pelajar di Kabupaten Banyuasin.

Namun, di tengah masifnya pelaksanaan program di wilayah daratan, ironi pahit dirasakan oleh siswa-siswa yang tinggal di wilayah perairan.

 Terutama di kawasan terpencil yang hanya bisa diakses via jalur air, mereka hanya bisa menjadi "penonton" bagi program yang sangat mereka harapkan.

Keresahan ini terekam jelas dari SDN 10 Banyuasin II, Desa Tanah Pilih, sebuah desa terluar di Kabupaten Banyuasin yang berbatasan langsung dengan Provinsi Jambi. Melalui sebuah rekaman video yang diterima Tribun Sumsel, Sabtu (18/10/2025), dua siswi kelas 5 menyuarakan harapan tulus mereka.

"Bapak Presiden Prabowo, kami dari siswa SD 10 Banyuasin II, Desa Tanah Pilih, juga ingin merasakan MBG seperti anak-anak yang berada di kota," ungkap mereka.

Harapan ini bukan tanpa alasan. Rata-rata orang tua dari 111 siswa di SDN 10 Banyuasin II berprofesi sebagai buruh hingga nelayan dengan pendapatan yang tidak menentu, bahkan terganggu saat cuaca buruk. Kondisi ini membuat asupan gizi bergizi bagi anak-anak menjadi sangat krusial dan mendesak.

Kepala Sekolah SDN 10 Banyuasin II, Nellyana, membenarkan kebutuhan mendesak ini. "Pekerjaan dari siswa-siswi kami tidak ada yang tetap, rata-rata buruh, nelayan, atau berkebun... Program MBG dari Presiden Prabowo, kami rasa sangat perlu bagi anak-anak kami," ujarnya.

Ia menambahkan, siswa-siswinya kerap bertanya mengapa mereka belum mendapat MBG seperti sekolah lain di kota, dan pihak sekolah hanya bisa menjawab untuk "menunggu."

Belum Merata

Fakta di lapangan menunjukkan bahwa jangkauan MBG di Banyuasin masih jauh dari merata. Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Banyuasin, Aminuddin, mengungkapkan, dari total 793 sekolah (SD dan SMP) di Banyuasin, baru 203 sekolah yang saat ini sudah terlayani atau menerima manfaat MBG.

Pelayanan MBG saat ini terpusat di beberapa kecamatan daratan seperti Talang Kelapa, Banyuasin III, Rambutan, Muara Sugihan, Banyuasin I, dan Tanjung Lago. Sedangkan sekolah di wilayah perairan sama sekali belum terjamah. Total siswa SD dan SMP di Banyuasin mencapai 165.370 siswa. Itu artinya, masih ada sekitar 590 sekolah atau 103.075 siswa SD dan SMP yang belum merasakan manfaat program ini.

Pemerintah Kabupaten Banyuasin mengakui perlunya pemerataan, terutama untuk wilayah perairan. Sekretaris Daerah Banyuasin, H. Erwin Ibrahim, menjelaskan bahwa Pemkab telah berupaya mengajukan pembangunan dapur MBG kepada Badan Gizi Nasional (BGN).

"Dari 10 titik yang diajukan, hanya empat yang disetujui," tutur Erwin. Empat titik yang disetujui tersebut adalah Kantor Camat Muara Padang (Desa Sumber Makmur), Kantor Camat Muara Telang (Desa Telang Jaya), Kelurahan Kedondong Raye (Kecamatan Banyuasin III), dan Kantor Pengelola KTM (Desa Mulya Sari Tanjung Lago).

Meski pembangunan menggunakan aset Pemkab, pengelolaan dapur akan langsung di bawah BGN. Erwin berharap agar BGN dapat menambah titik dapur MBG, termasuk di wilayah perairan, demi mengakomodasi seluruh anak di Banyuasin.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved