OPINI
Mengenang Bambang Utoyo: KASAD yang Kenyang dengan Medan Perjuangan
Dalam catatan sejarah Perang Kemerdekaan Sumatera Selatan, sejak dari awalnya sudah tercatat sebagai seorang patriotis, herois,dan nasionalis.
Letkol Bambang Utoyo sesudah perang lima hari lima saat cease fare, pasukan TNI harus mundur puluhan KM dari Palembang dan dimulailah masa gerilyah.
Di Awal Geriliya tersebutlah tangan Bambang Utoyo putus dan terburai karena granat tangan, di Mangunjaya, Prabumulih, Sumatera Selatan. Insiden itu terjadi ketika Letkol Bambang tengah melakukan uji coba granat tangan hasil karya para pejuang rakyat yang dibuat di Jambi.
Ketika itu, sistem persenjataan Tentara Nasional Indonesia dan para pejuang masih sangat terbatas. Sementara, para penjajah sudah memiliki alat peralatan persenjataan yang modern dalam menghadapi para pejuang Indonesia.
Namun nahas, ketika melakukan uji coba granat tangan hasil buatan para pejuang rakyat, granat itu meledak sebelum dilempar. Insiden itu sontak membuat panik para prajurit di bawah komando Letkol Bambang Utoyo. Asap hitam pun melambung tinggi ke udara, suara teriakan Letkol Bambang menggema di tengah kesunyian hutan belantara, darahpun bercucuran dari tangan kanan, dada.
Insiden ledakan granat ini terjadi di hadapan anak buahnya. Suasana jadi panik yang membuat para anak buahnya langsung memberikan pertolongan seadanya. Kemudian Letkol Bambang dibawa menuju Muara Beliti menggunakan perahu untuk menghindari patroli pasukan militer Belanda.
Sepanjang perjalanan, Letkol Bambang Utoyo harus menahan rasa sakit akibat serpihan granat yang maha dahsyat itu. Bahkan, dalam perjalanan menuju Muara Beliti, Letnan dr, Ibnu Sutowo mengoperasi/memotong tangan Letkol Bambang Utoyo dengan gergaji sebanyak tiga kali, karena sudah mulai membusuk.
Setelah dioperasi, Bambang Utoyo terus memimpin geriliya melawan Belanda dengan markasnya berpindaah-pindah hingga akhir 1949 – saat dimana Belanda mengakui kedaulatan Indonesia dalam bentuk RIS. Terakhir, sebelum KMB, mako pasukan Letkol Bambang Utoyo berada di Nanjungan, Pesemah Air Keruh.
Hebatnya, insiden ledakan granat tersebut tidak menurunkan moril perjuangan Bambang Utoyo. Insiden itu justru semakin membakar semangat para prajurit TNI yang mendampingi Letkol Bambang Utoyo di kesatuannya.
Ketika ditawarkan untuk berobat, maka Bambang Utoyo menyampaikan, “perjuangan ini masih membutuhkan aku. Untuk itu saya akan tetap memimpin perjuangan ini sampai tuntas”.
Hal yang sama pernah disampaikan Jenderal Sudirman Ketika Presiden Sukarno menawarkannya untuk berobat. Perjuangan Letkol Bambang Utoyo pun berlanjut, sampai pada akhirnya pada tanggal 5 September 1952, dia mengajukan pensiun dini dengan pangkat Kolonel sebagai Panglima TT II Sriwijaya.
Ternyata, perjalanan karier militer Bambang Utoyo tidak berhenti sampai di situ. Pemerintah kembali memanggil Bambang Utoyo dan mengaktifkannya kembali dalam kedinasan militer dengan menjabat sebagai Panglima TT II Sumatera Selatan karena usulan Gubernur Sumatera Selatan, Dr.M.Isa.
Sebagaimana A.H. Nasution yang menjabat Kasad untuk kedua kalinya dalam rangka meredam konflik diinternal Angkatan Darat, maka Bambang Utoyo juga menjabat sebagai Panglima Teritorium Sriwijaya kedua kalinya untuk meredam konflik diinternal TT II Sriwijaya.
Setelah menjabat kedua kalinya sebagai Panglima TT II Sriwijaya, pemerintah pusat meminta kesediaan Kolonel Bambang Utoyo sebagai Kasad. Menyadari suasana kebathinan diinternal Angkatan Darat, tawaran pemerintah tersebut ditolak secara terang-terangan oleh putra Tuban ini.
Namun setelah beberapa kali utusan Presiden Sukarno datang ke Palembang menemui Bambang Utoyo, akhirnya dengan terpaksa tawaran itu diterimanya. Sampai pada akhirnya, Presiden Soekarno melantik Kolonel Bambang Utoyo sebagai KSAD di Istana Negara menggantikan Jenderal Mayor Bambang Sugeng.
Disamping tidak dilantik di Mabesad, selama lebih kurang 4 bulan menjabat Kasad, Bambang Utoyo tidak diperkenankan berkantor di Mabesad oleh Wakasad Zulkifli Lubis. Pemboikotan oleh internal AD membuat Bambang Utoyo tidak nyaman menjabat Kasad.
Bambang Utoyo
Jenderal Bambang Utoyo
Opini Tribun Sumsel
Mengenang Bambang Utoyo: Kasad yang Kenyang dengan
Tribunsumsel.com
Tribunnews.com
| De Facto Korupsi Masih Berkuasa, De Jure Negara Harus Menang |
|
|---|
| Kaya Bersama dan Beretika: Mengawal kebijakan BUMN Ekspor dan Reformasi Tata Kelola Sumber Daya Alam |
|
|---|
| Lini Masa Kurs Dolar Sejak Masa Orde Baru dan Memaknai Kurs Dolar Bagi Orang Desa |
|
|---|
| Menguatkan Pembangunan Daerah melalui Solusi Nyata dan Berkelanjutan |
|
|---|
| Dari Kandang ke Aplikasi: Wajah Baru Qurban di Indonesia |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/sumsel/foto/bank/originals/Opini-bambang-utoyo.jpg)