OPINI
Dari Kandang ke Aplikasi: Wajah Baru Qurban di Indonesia
Digitalisasi seharusnya membantu memperluas manfaat qurban, bukan menghilangkan sisi kemanusiaannya. Jangan hanya berhenti sebagai transaksi digital
Oleh: Prof. Dr. Diah Natalisa, M.B.A
Akademisi & Pengamat Perilaku Konsumen
TRIBUNSUMSEL.COM -- Menjelang Idul Adha, suasana khas mulai terasa di berbagai sudut kota di Indonesia. Lapak-lapak penjualan sapi dan kambing bermunculan di tepi jalan.
Di kota Palembang, di kawasan Jakabaring, Plaju, hingga KM 5, masyarakat mulai mendatangi kandang-kandang qurban untuk memilih hewan terbaik. Aroma rumput basah, suara tawar-menawar, dan keramaian pembeli menjadi pemandangan yang hampir selalu hadir setiap tahun.
Namun, ada yang berbeda dalam beberapa tahun terakhir. Hari ini, sebagian masyarakat tidak lagi datang langsung ke kandang. Mereka cukup membuka aplikasi di telepon genggam.
Hewan qurban bisa dipilih melalui marketplace, media sosial, bahkan siaran langsung TikTok atau Instagram. Pembayaran dilakukan secara digital, dokumentasi penyembelihan dikirim lewat video, dan laporan distribusi diterima melalui WhatsApp.
Qurban perlahan berpindah dari kandang ke aplikasi.
Perubahan ini menunjukkan bagaimana digitalisasi telah mengubah perilaku masyarakat, termasuk dalam menjalankan ibadah. Teknologi tidak lagi hanya memengaruhi cara orang bekerja atau berbelanja, tetapi juga cara masyarakat mengekspresikan nilai sosial dan religiusitasnya.
Kemudahan Layanan Kecepatan Akses
Dalam perspektif perilaku konsumen (consumer behavior), keputusan berqurban hari ini tidak lagi semata dipengaruhi faktor kebutuhan spiritual, tetapi juga oleh kemudahan layanan, kecepatan akses, dan pengalaman digital yang ditawarkan platform.
Masyarakat urban, terutama generasi muda, semakin terbiasa dengan budaya “satu klik”. Apa pun ingin serba cepat, praktis, dan efisien, termasuk dalam urusan ibadah.
Tidak mengherankan jika layanan qurban digital semakin berkembang. Beberapa lembaga kini menawarkan fitur lengkap: pemilihan hewan secara daring, cicilan pembayaran, live report penyembelihan, hingga sertifikat digital qurban.
Dalam ilmu services marketing, fenomena ini menunjukkan bahwa kualitas layanan tidak lagi hanya diukur dari produk utama, tetapi juga dari pengalaman pelanggan (customer experience).
Parasuraman, Zeithaml, dan Berry melalui konsep SERVQUAL menjelaskan bahwa kepercayaan, responsivitas, dan jaminan layanan menjadi faktor penting dalam membangun kepuasan konsumen.
Karena itu, lembaga qurban digital berlomba membangun transparansi. Dokumentasi penyembelihan dikirim cepat, distribusi ditampilkan di media sosial, dan laporan dibuat sedetail mungkin. Semua dilakukan untuk membangun rasa percaya di tengah minimnya interaksi fisik.
Di Indonesia, fenomena ini menarik karena masyarakat sesungguhnya memiliki budaya sosial yang kuat dalam tradisi qurban. Di banyak kampung, qurban bukan hanya ritual ibadah, tetapi juga ruang kebersamaan. Ada gotong royong saat penyembelihan, pembagian daging, hingga interaksi sosial yang mempererat hubungan warga.
Di beberapa wilayah perkotaan dan sekitarnya, masyarakat bahkan masih menjadikan momentum qurban sebagai ajang silaturahmi keluarga besar.
Idul Adha 1447 H
Hari Raya Idul Adha 1447 Hijriyah
Dari Kandang ke Aplikasi Wajah Baru Qurban di Indo
Prof Diah Natalisa
prof dr diah natalisa mba
Opini Tribun Sumsel
Tribunsumsel.com
Tribunnews.com
| Rupiah Tembus Rp 17.600 per Dolar AS, Akankah Krismon Terulang Lagi? Apa yang Harus Kita Lakukan? |
|
|---|
| Hubungan Erat Perekonomian Indonesia dan Pekerja Migran Indonesia |
|
|---|
| Otonomi Daerah di Persimpangan Jalan: Seperempat Abad Sejak Berlaku UU tentang Pemerintah Daerah |
|
|---|
| Menakar Kesalehan Sosial Sebagai Rapor Utama Pendidikan: Refleksi Hardiknas 2026 |
|
|---|
| Hujan tak Pernah Ingkar Janji, Butuh Keberanian dalam Mengubah Pengelolaan Kota Terkait Banjir |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/sumsel/foto/bank/originals/opini-diah-natalisa-ttq-kurban.jpg)