OPINI
Lini Masa Kurs Dolar Sejak Masa Orde Baru dan Memaknai Kurs Dolar Bagi Orang Desa
Pelemahan kurs rupiah justru memengaruhi ketahanan pangan dan industri manufaktur melalui kenaikan harga pupuk, bahan baku, dan barang modal.
Oleh: Dr. Sukanto, S.E., M.Si
Dosen Jurusan Ekonomi Pembangunan FE UNSRI
TRIBUNSUMSEL.COM -- Sejak hampir lima tahun terakhir, dolar begitu perkasa terhadap berbagai mata uang global, terutama rupiah. Rupiah seolah kehilangan napas menghadapi apresiasi dolar AS.
Oleh karena itu, banyak pihak mengkhawatirkan bahwa penguatan dolar akan menghambat laju pertumbuhan ekonomi nasional. Kekhawatiran ini tentu beralasan karena Indonesia memiliki pengalaman pahit saat krisis moneter (krismon) yang bermula dari tergerusnya nilai tukar rupiah.
Saat ini, nilai dolar telah bergerak jauh di atas asumsi kurs rupiah dalam APBN 2026 sebesar Rp16.500 per dolar AS sehingga sebagian pihak menganggap terdapat gejala yang serupa dengan kondisi tahun 1998.
Walaupun demikian, perlu disadari bahwa fundamental ekonomi pada kedua periode tersebut sangat berbeda. Pada 1997–1998, rupiah terdepresiasi hingga 690 persen, sedangkan pada periode Mei 2025–Mei 2026 pelemahannya mencapai 10,77 % .
Meski demikian, kewaspadaan tetap diperlukan karena penguatan dolar yang dibayangi ketidakpastian global dan krisis BBM dapat memicu kekalutan investor, mendorong terjadinya pelarian modal (capital flight), dan semakin menekan nilai tukar rupiah. Lantas, mengapa kurs dolar begitu menarik perhatian?
Lini Masa Kurs Dolar
Penulis sengaja mengungkapkan jejak dolar selama beberapa dekade yang menunjukkan tren semakin menguat terhadap rupiah sehingga memberikan kesan seolah-olah rupiah tidak berdaya. Disadari bahwa mata uang sebagai “komoditas” sangat ditentukan oleh demand dan supply.
Ketika permintaan dolar meningkat, nilainya akan naik yang tercermin dari menguatnya mata uang tersebut. Kilas balik dari masa ke masa menunjukkan bahwa setiap terjadi ketidakstabilan global dan meningkatnya ketidaknyamanan pelaku ekonomi di dalam negeri, cenderung muncul fenomena capital flight, yaitu upaya mengamankan aset dalam bentuk dolar sehingga permintaan terhadap dolar meningkat.
Simak saja nilai tukar rupiah pada masa Orde Lama yang masih berada di kisaran Rp3,80 per dolar AS. Pada masa Orde Baru, nilai tukar rupiah mengalami berbagai fluktuasi yang tajam. Sebelum badai krisis moneter, nilai tukar dolar AS masih bertahan di kisaran Rp2.000/US$.
Akan tetapi, menjelang pertengahan 1997, prahara kurs rupiah terjadi. Bermula dari aksi spekulasi G. Soros dengan memborong dolar, permintaan terhadap dolar meningkat sehingga mendorong penguatan tajam dolar dan depresiasi rupiah tidak terelakkan. Puncaknya terjadi pada Juni 1998 ketika dolar AS mencapai rekor tertinggi sepanjang sejarah saat itu, yaitu Rp16.650/US$, yang berimplikasi pada krisis multidimensi dan berujung pada tumbangnya rezim Orde Baru.
Pada era reformasi, di bawah pemerintahan Presiden B.J. Habibie, rupiah berhasil menguat hingga Rp6.500/US$ menjelang akhir 1999. Selanjutnya, nilai tukar rupiah bertahan pada rentang Rp8.900–Rp10.200 per dolar AS pada masa pemerintahan Megawati.
Pada masa pemerintahan Presiden SBY, Indonesia menghadapi dampak krisis finansial global akibat krisis subprime mortgage di AS pada 2007 sehingga nilai tukar rupiah berada di kisaran Rp9.000–Rp10.000 per dolar AS. Gejala depresiasi rupiah berlanjut, di mana pada 2009 nilai tukar dolar AS bergerak pada rentang Rp11.800–Rp12.000.
Selanjutnya, selama 10 tahun terakhir rupiah tidak pernah lagi berada di bawah Rp10.000/US$, dan pada akhir Mei 2026 rupiah semakin tertekan hingga menyentuh Rp17.700/US$. Benarkah fenomena menguatnya dolar menguntungkan masyarakat desa yang merupakan basis pertanian?
Dolar dan Wajah Desa
Belakangan depresisasi rupiah selain dikhawatirkan banyak kalangan, ada pula yang menuturkan ada berkah bagi masyarakat desa. Untuk memahaminya, model Mundell-Fleming menjelaskan konsekuensi yang dihadapi negara dengan perekonomian terbuka dan sistem nilai tukar mengambang.
Perekonomian terbuka ditandai oleh adanya perdagangan internasional, salah satunya melalui kegiatan ekspor dan impor, sehingga depresiasi nilai tukar akan berdampak langsung pada kedua sisi tersebut.
Kurs Dolar
rupiah terhadap dolar AS
Memaknai Kurs Dolar Bagi Orang Desa
Opini Tribun Sumsel
Tribunsumsel.com
Tribunnews.com
Pengamat Ekonomi Universitas Sriwijaya Sukanto
Sukanto Unsri
| Menguatkan Pembangunan Daerah melalui Solusi Nyata dan Berkelanjutan |
|
|---|
| Dari Kandang ke Aplikasi: Wajah Baru Qurban di Indonesia |
|
|---|
| Rupiah Tembus Rp 17.600 per Dolar AS, Akankah Krismon Terulang Lagi? Apa yang Harus Kita Lakukan? |
|
|---|
| Hubungan Erat Perekonomian Indonesia dan Pekerja Migran Indonesia |
|
|---|
| Otonomi Daerah di Persimpangan Jalan: Seperempat Abad Sejak Berlaku UU tentang Pemerintah Daerah |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/sumsel/foto/bank/originals/opini-makna-kurs-dolar-bagi-orang-desa.jpg)