OPINI
Mengenang Bambang Utoyo: KASAD yang Kenyang dengan Medan Perjuangan
Dalam catatan sejarah Perang Kemerdekaan Sumatera Selatan, sejak dari awalnya sudah tercatat sebagai seorang patriotis, herois,dan nasionalis.
Oleh: Kolonel TNI (Purn) Drs. Jeni Akmal
(Penulis Sejarawan Militer, Pernah staf Pengajar di IAIN RF Palembang, dan Unhan)
TRIBUNSUMSEL.COM -- Awalnya saya kaget membaca adanya berita tentang rencana pengusulan Jenderal Purn TNI. Bambang Utoyo sebagai pahlawan nasional.
Saya pikir tadinya Bambang Utoyo sudah tercatat sebagai pahlawan nasional, karena memang dalam catatan sejarah Perang Kemerdekaan Sumatera Selatan, sejak dari awalnya sudah tercatat sebagai seorang patriotis, herois,dan nasionalis.
Hal yang sama juga disampaikan oleh sejarawan, Prof. DR. Anhar Gonggong kepada saya dikediamannya kepada saya. Militansi patriotis, herois dan nasionalis Bambang Utoyo sebetulnya tidak hanya tumbuh dari medan perjuangan Sumatera Selatan, melainkan juga dari orang tuanya yang senantiasa keluar masuk penjara Belanda.
Karena memang “buntungnya” tangan kanan Bambang Utoyo merupakan resiko dari sebuah perjuangan melelahkan pada Perang Kemerdekaan. Makanya, saat tangan kanannya mulai membusuk, Kolonel Bambang Utoyo tetap memimpin “Perang Lima Hari Lima Malam ”. Seperti Jenderal Sudriman, walau sakit paru-paru parah, tetap memimpin perang gerilyah yang berpindah-pindah.
Perjuangan Bambang Utoyo
Siapa yang tidak kenal dengan nama besar Jenderal TNI (hor) Bambang Utoyo? Seorang prajurit TNI Angkatan Darat kelahiran kota Tuban, Jawa Timur pada tanggal 20 Agustus 1920 itu merupakan sosok yang sangat menentukan dalam perjalanan, pertumbuhan dan perkembangan organisasi TNI AD.
Tidak hanya itu, suami dari Siti Nurani yang sama-sama pejuang ini juga merupakan pemimpin perjuangan perang kemerdekaan di Sumatera Selatan yang saat itu meliputi wilayah Bengkulu, Jambi, Lampung dan Bangka Belitung.
Kegigihannya dalam memimpin perjuangkan kemerdekaan Indonesia, serta semangat nasionalismenya yang tinggi telah mengantarkan Bambang Utoyo sampai puncak karir militernya di kesatuan TNI AD.
Bambang Utoyo merupakan Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) ke-4 yang diangkat langsung oleh Presiden RI Soekarno, pada tanggal 27 Juni 1955 dengan pangkat Mayor Jenderal. Karena sempat ada pro-kontra ketika Presiden RI Ir.Soekarno mengangkat Bambang Utoyo menjadi KSAD.
Bagaimana tidak, Bambang Utoyo pertama kali memasuki dunia militer melalui Gyugun. tercatat sebagai prajurit yang dilatih melalui Pusat Pendikan dan Latihan Gyugun Pagar Alam.
Pengetahuan dan pengalamannya yang diperoleh dari Lembaga Pendidikan dan Latihan Gyugun Pagar Alam ini adalah modal berharga bagi semangat dan militansi pengabdian seorang Bambang Utoyo Bambang Utoyo merupakan gerilyawan yang berjuang di Sumatera Selatan dan bertekad untuk membebaskan bangsa Indonesia dari belenggu para penjajah.
Dalam satu peristiwa, ketika Bambang Utoyo menjabat sebagai Panglima Divisi Garuda II dengan pangkat Letnan Kolonel, Bambang Utoyo dipercaya untuk memimpin perang Lima Hari Lima Malam di Sumatera Selatan melawan kolonial Belanda. Saat itu, kepemimpinan Bambang Utoyo dimedan juang sangat ditakuti pihak lawan dan disegani pihak kawan.
Perang panjang dan melelahkan melawan kolonial Belanda di Kota Palembang dan sekitarnya itu telah membawa dia beserta pasukannya keluar dari Kota Palembang, dan memaksanya untuk bergerilya bersama sejumlah front-front perjuangan masyarakat local keluar masuk hutan belantara.
Bambang Utoyo beserta pasukannya terpaksa meninggalkan Palembang karena Belanda meminta pasukan Indonesia agar mengosongkan kota Palembang dan mundur hingga 20 kilometer.
Sebagai Panglima Divisi Garuda II, Letkol Bambang Utoyo benar-benar menunjukkan jiwa kepemimpinan dan militansinya di hadapan para anak buahnya.
Insiden Granat Meledak Putuskan Tangan Bambang Utoyo
Bambang Utoyo
Jenderal Bambang Utoyo
Opini Tribun Sumsel
Mengenang Bambang Utoyo: Kasad yang Kenyang dengan
Tribunsumsel.com
Tribunnews.com
| De Facto Korupsi Masih Berkuasa, De Jure Negara Harus Menang |
|
|---|
| Kaya Bersama dan Beretika: Mengawal kebijakan BUMN Ekspor dan Reformasi Tata Kelola Sumber Daya Alam |
|
|---|
| Lini Masa Kurs Dolar Sejak Masa Orde Baru dan Memaknai Kurs Dolar Bagi Orang Desa |
|
|---|
| Menguatkan Pembangunan Daerah melalui Solusi Nyata dan Berkelanjutan |
|
|---|
| Dari Kandang ke Aplikasi: Wajah Baru Qurban di Indonesia |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/sumsel/foto/bank/originals/Opini-bambang-utoyo.jpg)