Karhutla Sumsel
13 Titik Hotspot Berlevel Tinggi Terpantau di PALI, BPBD Kini Gencarkan Patroli
BMKG memperkirakan puncak musim kemarau akan terjadi pada Juli hingga Agustus, yang turut meningkatkan risiko kebakaran hutan secara drastis.
Penulis: Apriansyah Iskandar | Editor: Slamet Teguh
TRIBUNSUMSEL.COM, PALI - Ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) mulai menghantui Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI), Sumatera Selatan.
Berdasarkan data dari Balai Pengendalian Perubahan Iklim dan Kebakaran Hutan dan Lahan (PPIKHL) Sumsel, peningkatan jumlah titik hotspot mulai terlihat sejak akhir Juni 2025, dan kondisi terus memburuk saat memasuki awal Juli.
Wilayah Kabupaten PALI menjadi salah satu wilayah dengan peningkatan jumlah titik hotspot secara signifikan, dimana terdapat sebanyak 13 titik hotspot berlevel “high” terdeteksi tersebar di wilayah Kecamatan Talang Ubi, Penukal, dan Abab.
BMKG memperkirakan puncak musim kemarau akan terjadi pada Juli hingga Agustus, yang turut meningkatkan risiko kebakaran hutan secara drastis.
Hal ini menjadi ancaman nyata bagi ekosistem, masyarakat, serta aktivitas ekonomi lokal di sektor perkebunan dan pertanian.
Untuk meredam potensi karhutla, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten PALI telah mengambil beberapa langkah strategis.
Dalam beberapa waktu terakhir, BPBD aktif melakukan pendekatan preventif dengan menyasar desa-desa yang masuk kategori rawan.
Seperti Desa-Desa yang berbatasan dengan kawasan hutan produksi, wilayah yang memiliki lahan gambut mudah terbakar dan beberapa titik yang memiliki rekam jejak karhutla.
Baca juga: Titik Hotspot Mulai Terdeteksi di Empat Lawang, Masyarakat Diajak Untuk Bersama Cegah Karhutla
Baca juga: BPBD Banyuasin Sebut Belum Muncul Titik Hotspot di Banyuasin, Pemkab Tetap Minta Antisipasi Karhutla
Kepala BPBD PALI, Ahmad Hidayat, menegaskan bahwa pihaknya akan mengedepankan edukasi kepada masyarakat guna mencegah praktik pembukaan lahan dengan cara dibakar.
“Kami mengimbau seluruh masyarakat agar bersama-sama mencegah terjadinya kebakaran hutan dan lahan di wilayah PALI. Pencegahan jauh lebih efektif daripada penanggulangan. Mari kita jaga lingkungan dan keselamatan bersama,” kata Ahmad Hidayat, Senin (7/7/2025).
BPBD PALI juga memperkuat sinergi lintas sektor untuk menghadapi musim kemarau dengan membentuk relawan Desa Tangguh Bencana (Destana).
Selain itu, pihaknya juga melibatkan aparat desa sebagai pengawas titik api dan kelompok tani lokal untuk pengendalian lahan secara berkelanjutan serta intansi terkait dalam pemetaan wilayah risiko tinggi.
Patroli lapangan juga diperluas dengan sistem rotasi harian, dan pemantauan cuaca dilakukan secara berkala untuk mengantisipasi potensi pergerakan titik panas baru.
Ahmad Hidayat optimistis, dengan kesiapsiagaan yang dimulai sejak dini dan kolaborasi bersama masyarakat. Kabupaten PALI bisa menekan angka karhutla secara signifikan tahun ini.
“Edukasi adalah investasi jangka panjang. Kalau masyarakat paham dan ikut menjaga, insya Allah kita bisa bebas dari karhutla di tahun ini,” ujarnya.
Baca Berita Tribunsumsel.com Lainnya di Google News
Ikuti dan Bergabung Dalam Saluran Whatsapp Tribunsumsel.com
| 34 Hotspot Muncul di Sumsel Pada Awal Juni 2026, Muara Enim Terbanyak |
|
|---|
| Semak Belukar Mulai Terbakar, Warga Lubuklinggau Diimbau Siaga Karhutla, ini Wilayah Rawan Kebakaran |
|
|---|
| Tercatat Ada 542 Hotspot di Sumsel Selama Bulan Mei 2026, Lahat Tertinggi |
|
|---|
| Jelang Kemarau 2026, Polres OKU Timur Cek Kesiapan Antisipasi Karhutla di Perkebunan |
|
|---|
| Kebakaran Lahan Terjadi di Dekat Kantor Kejari Ogan Ilir, Kobaran Api Ancam Para Pengendara |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/sumsel/foto/bank/originals/13-Titik-Hotspot-Berlevel-Tinggi-Terpantau-di-PALI-BPBD-Kini-Gencarkan-Patroli.jpg)