Kopi Sumsel
Kisah Owner Kopi Limas, Rela Banting Setir dari Pegawai Kantoran, Kini Lebarkan Sayap ke Luar Sumsel
Di balik label "Kopi Limas" yang mulai dikenal penikmat kopi, tersimpan dedikasi Iqbal dalam memahami seluk beluk dunia perkopian.
Penulis: Syahrul Hidayat | Editor: Shinta Dwi Anggraini
Seiring waktu, Iqbal memperluas jaringan pertemanannya dan berguru pada para ahli kopi yang berpengalaman.
Ia belajar teknik roasting dari nol, bahkan pengalaman pertamanya menggunakan kuali menjadi kenangan lucu tersendiri.
"Asapnya banyak, capek, hangat sedikit, mutung, banyak yang gosong pula," cerita Iqbal, mengenang masa-masa awal belajar menyangrai kopi dengan peralatan sederhana seperti kuali dan kendi, sebelum akhirnya beralih ke alat yang lebih modern seperti GLpro tapi manual.
Maret 2023 menjadi titik balik ketika Iqbal dan keluarga memutuskan untuk fokus sepenuhnya pada Kopi Limas.
Pemasaran digencarkan, produksi ditingkatkan, dan kolaborasi dengan berbagai pihak mulai dijalin.
Keputusan untuk berhenti dari pekerjaan kantoran diambil Iqbal setelah Lebaran tahun ini demi mencurahkan seluruh perhatiannya pada pengembangan Kopi Limas.
"Karena saya sambil bekerja, ekspansi usaha belum terlalu besar. Baru Lebaran kemarin saya memutuskan untuk berhenti dan fokus usaha kopi ini. Sekarang lagi terus memasarkan agar banyak yang mencoba dan mengenal rasa dari Kopi Limas," tuturnya.
Untuk menjaga kualitas bahan baku, Iqbal menjalin kemitraan dengan petani kopi robusta di Pagar Alam dan belajar langsung dari prosesor dan roaster berpengalaman yang bernama Kak Dedy.
Dari beliaulah, Iqbal menemukan cara roasting yang benar.
Dimulai dengan alat sederhana berkapasitas 800 gram, Iqbal terus bereksperimen hingga mendapatkan hasil yang memuaskan dan disukai oleh teman-teman serta relasi pabrik tempat dia bekerja dahulu.
"Alhamdulillah, teman-teman mulai senang dan repeat order. Mereka mulai penasaran dan ketagihan, 'ada kopi lagi tidak, kita sangraikan lagi untuk mereka, kita giling sendiri'," kenang Iqbal.
Seiring dengan peningkatan permintaan, Iqbal dan keluarga menambah peralatan produksi.
Kini, mereka telah memiliki mesin sangrai berkapasitas lebih besar yang bahkan dirakit sendiri dengan bantuan tukang las.
Mesin tersebut dilengkapi dengan lubang intip untuk memantau warna biji kopi dan terhubung dengan alat ukur suhu digital.
"Suhu saat sangrai kopi itu idealnya 209 derajat Celsius," jelas Iqbal.
| Kopi Arabika Raden Kuning Jadi Identitas Pagar Alam, Pemkot Upayakan Sertifikasi Indikasi Geografis |
|
|---|
| Harga Kopi di Empat Lawang Anjlok Hingga Rp 45 Ribu Perkilo, Para Petani Kini Harap-harap Cemas |
|
|---|
| Mendekati Masa Panen, Harga Kopi di Empat Lawang Malah Turun Jadi Rp 50 Ribu Perkilo |
|
|---|
| Kopi Sumsel dan Rahasia Stamina K.H. Tol'at Wafa Ahmad di Usia 67 Tahun |
|
|---|
| Jelang Musim Panen, Harga Kopi di Empat Lawang Rp 55 Ribu Perkilo, Petani Berharap Bisa Rp 70 Ribu |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/sumsel/foto/bank/originals/Kopi-Limas-Rahasia-Kenikmatan-Kopi-Bubuk.jpg)