Kopi Sumsel
Kopi Arabika Yellow Asli Kota Pagar Alam, Diberi Nama Raden Kuning yang Kini Berpotensi Mendunia
Ludi kini tengah gencar mengenalkan jenis kopi pertama di tanah besemah, yakni Arabika Yellow atau Kopi Yellow dengan nama Raden Kuning.
TRIBUNSUMSEL.COM - Tim Jelajah Kopi Sumsel berkesempatanberbincang dengan Walikota Pagar Alam Ludi Oliansyah pada Rabu (14/05/2025) di Desa Langur Indah, Kel. Agung Lawangan, Kac. Dempo Utara, Kota Pagar Alam, Sumsel.
Ludi kini tengah gencar mengenalkan jenis kopi pertama di tanah besemah, yakni Arabika Yellow atau Kopi Yellow dengan nama Raden Kuning.
Nama Raden Kuning merupakan identitas khas Kota Pagar Alam, yang mana pertama kali ditemukan tanaman kopi kuning dekat dengan situs tokoh Pagar Alam bernama Raden Kuning.
Tak hanya sekadar nama, Raden Kuning memiliki ciri khas buah masak berwarna kuning keemasan dan rasanya manis.
Kini Raden Kuning merupakan salah satu produk unggulan Kota Pagar Alam yang diharapkan dapat meningkatkan perekonomian lokal dan menjadi identitas khas Kota Pagar Alam yang dibrandrol dengan harga fantastis.
Bahkan berdasarkan keterangan dari masyarakat yang mengembangkan budidaya kopi kuning ini, harga jualnya sudah di atas Rp 1 juta per kilogram.
Ludi mengatakan Kopi Raden Kuning diharapkan dapat menarik perhatian pecinta kopi di seluruh Indonesia dan internasional serta menjadi destinasi wisata kuliner yang menarik di Kota Pagaralam, untuk mencicip langsung buah kopi yang manis.
“Untuk masyarakat Pagar Alam pecinta kopi, khususnya anak anak muda ini, petani kopi belajarlah menanam kopi itu dari hati dengan hati yang tulus. Karena kita semua berharap apa yang kami tanam, dapat membuahkan hasil yang baik, karena tanaman ini makhluk hidup juga yang punya hati, nanti kita dukung dengan pelatihan jadi petani baru dapat ilmunya, nama raden kuning ini juga kita sertifikasi jadi identitas Pagar Alam” kata Ludi.
Petani kopi Raden Kuning Rusi Siruadi mengatakan dirinya memiliki misi menjaga bibit kopi kuning asli Pagar Alam, meski tantangannya saat ini satu batang Raden Kuning sedikit menghasilkan buah.
“Harapan kami seperti tanam pagar itu harus diuji coba untuk tanam bibit arabika kopi kuning ini, karena buah ini manis, kami pun petani ini sebelum panen kadang udah keduluan sama luwak liar”, kata Rusi.

Baca juga: Pemuda di Lahat Pilih Resign Dari Perusahaan Tambang, Kini Sukses Bangun Kedai Kopi Serambi Bean
Baca juga: Menjaga Kopi Semendo Arabika dengan Tradisi Adat Tunggu Tubang
Sistem Tanam Pagar
Sementara itu tanam pagar merupakan metode budidaya kopi yang dilakukan dengan penanaman secara teratur dan padat.
Tanaman kopi ditempatkan berjajar dengan jarak sekitar 1 meter antara satu tanaman dengan tanaman lainnya pada setiap barisnya.
Metode ini memberikan keuntungan dalam hal pengaturan penanaman yang efisien.
Dengan cara menanam kopi secara berjajar dan padat, petani dapat mengoptimalkan penggunaan ruang, menghasilkan tingkat produktivitas yang lebih tinggi tanpa harus melakukan perluasan area tanam.
Sempat Anjlok, Harga Kopi di Pagar Alam Naik Lagi, Petani Sumringah Mulai Jual Hasil Simpanan Panen |
![]() |
---|
Sempat Turun Jauh, Harga Kopi di Empat Lawang Kini Naik Lagi Hingga Rp 55 Ribu Perkilo |
![]() |
---|
Harga Kopi di Empat Lawang Kini Perlahan Kembali Naik, Meski Masih di Bawah Rp 50 Ribu Perkilo |
![]() |
---|
Hasilkan 56 Ribu Ton Pertahun, Bursah Zarnubi Ingin Kopi Robusta Lahat Tembus Pasar Internasional |
![]() |
---|
Tingkatkan Daya Saing, Pemkab Lahat Gelar Bimtek Bagi Petani dan UMKM Kopi |
![]() |
---|
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.