Berita Travel

Sudah Ada Sejak 50 Tahun Lalu, Kerajinan Gerabah di Kedaton OKI Masih Eksis Hingga Kini

Disini juga masih terdapat puluhan orang yang membuat kerajinan gerabah, Rata-rata usaha kerajinan gerabah adalah usaha warisan dari orang tua.

Tayang:
Penulis: Winando Davinchi | Editor: Slamet Teguh
Tribunsumsel.com/ Winando Davinchi
Ali pengusaha gerabah asal Kelurahan Kedaton saat menunjukkan tungku masak yang terbuat dari tanah liat pada Jum'at (20/9/2024) sore. 

TRIBUNSUMSEL.COM, KAYUAGUNG -- Tidak lekang zaman, kerajinan gerabah yang sudah dilakukan turun menurun oleh masyarakat Kelurahan Kedaton, Kecamatan Kayuagung, Kabupaten Ogan Komering Ilir, Sumatera Selatan masih tetap eksis hingga kini.

Kerajinan gerabah dipercaya sudah ada sejak masa Kerajaan Sriwijaya silam, dikarenakan pembuatannya masih memakai bahan tradisional tanah liat dan pasir yang dikreasikan jadi alat kebutuhan rumah tangga.

Disini juga masih terdapat puluhan orang yang membuat kerajinan gerabah.

Rata-rata usaha kerajinan gerabah adalah usaha warisan dari orang tua dan kakek neneknya.

"Saya masih ingat sejak kecil diajarkan oleh orangtua untuk membuat kerajinan gerabah. Sekarang saya sudah generasi ketiga dan usaha dijalani 50 tahun," kata Ali pengusaha gerabah asal Kedaton pada Jum'at (20/9/2024) sore.

Olahan kerajinan yang terbuat dari tanah liat dan campuran pasir ini dapat dijadikan kendi, tabung uang, gentong, tuyu, kran atau tungku, singkup atau kekap, tutup anglu dan sebagainya. 

"Total ada sekitar 10 jenis kerajinan yang bisa dibuat. Biasanya keluarga besar secara bersama-sama mengisi waktu di siang hari untuk membuatnya," ungkapnya.

Menurutnya setiap minggunya bisa menghasilkan 150-200 gerabah kering siap jual.

Dengan harga jual kepada pengepul atau agen yang bervariatif sesuai dengan jenisnya.

"Teruntuk kerajinan jenis mainan anak-anak seperti ulekan, tungku masak dan kuali dijual sekitar Rp 2.000 sampai Rp 5.000 perbuah," 

"Sedangkan tungku besar harga jual ulekan besar, tukat (tutup bolu), bolong tutup alat masak kendi dan lain-lain dijual mulai dari Rp 10.000 sampai Rp 17.000 paling mahal," jelasnya.

Baca juga: Uniknya Jembatan Penghubung Desa Penyandingan-Seriguna OKI, Ditutupi Atap, Dibangun Sejak 1957

Baca juga: Menikmati Keindahan Jembatan Gantung Warna-warni di OKI, Hubungkan Taman Beladas dan Rumah Limas

Masih kata Ali, bahwa pendapatan yang diperoleh para pengrajin tidak menentu. Tergantung cuaca panas (proses penjemuran).

"Rata-rata perhari membuat sampai 50 buah tutup masak, 10 tungku, karena yang bekerja hanya 4 orang. Maka seminggu dapat sekitar 400 gerabah yang kalau dijual bisa menghasilkan uang antara Rp 300 ribu sampai Rp 500 ribu," papar Ali.

"Kalau untuk pembeli langsung datang kesini, ada dari Kayuagung, Indralaya, Palembang bahkan Bangka Belitung yang membeli dalam jumlah banyak," imbuhnya.

Dijelaskan untuk proses pembuatan kerajinan tangan ini cukup panjang, mulai persiapan untuk pembelian tanah liat dan pasir.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved