Banjir di Muratara

Banjir di Muratara, Walhi Sumsel Ungkap Faktor Penyebab, Hutan Kritis Hingga Aktivitas Pertambangan

Walhi Sumsel menilai banjir dahsyat beberapa kabupaten di Sumsel khususnya Muratara karena dirusak manusia, hutan kritis hingga aktivitas pertambangan

TRIBUN SUMSEL/RAHMAT AIZULLAH
Walhi Sumsel menilai banjir dahsyat beberapa kabupaten di Sumsel khususnya Muratara karena dirusak manusia, hutan kritis hingga aktivitas pertambangan. Tampak warga terdampak banjir di Muratara membuat dapur darurat urunan masak, Jumat (12/1/2024). 

TRIBUNSUMSEL.COM, PALEMBANG - Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Daerah Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) menilai terjadinya banjir yang dahsyat di beberapa Kabupaten di Sumsel khususnya di Musi Rawas Utara (Muratara) tak terlepas dari kondisi alam yang saat ini sedang kritis.

Menurut Direktur Eksekutif Walhi Sumsel Yuliusman, banyak faktor yang menyebabkan kondisi alam saat ini kritis karena dirusak oknum manusia.

Kondisi hutan yang kritis hingga aktivitas pertambangan adalah faktor penyebab dari bencana banjir saat ini. 

"Terkait banjir di Muratara, melihatnya banyak pesepektifnya itu kita lihat Ulu dan Ilirnya. Nah, kalau bicara penyebab banyak faktor tapi melihat landscape alamnya itu pada sangat level kritis, hutan gundul dan rusak, belum lagi pembukaan perkebunan lahan disepanjang sungai, " kata Yuliusman, Jumat (12/1/2024).

Diterangkannya, tak dipungkiri hal itu juga sebagian faktor pemicu banjir, karena dianggap tidak ada lagi daerah penyangga yang bentul- betul berfungsi sebagai fungsi alami.

"Belum lagi aktivitas- aktivitas lainnya yang berkontribusi pada pengundulan lahan baik hutan dan HGU, itu jadi banyak faktor," paparnya.

Baca juga: BPBD Muba Evakuasi Puluhan Santri Terdampak Banjir, Bangunan Ponpes Terendam 1,5 Meter

Meski begitu, Yuliusman menyatakan jika melihat penyebab banjir bandang Muratara itu satu sisi saja, tapi banyak sisi lain yang dijadikan, sehingga sungai tidak berfungsi semestinya.

Termasuk juga, kondisi hutannya saat ini juga dianggap tidak berfungsi sebagai mestinya, karena kondisinya sangat kritis sehingga memicunya banjir terjadi.

"Pertambangan juga satu faktor itu dan kita melihat tidak bisa satu sisi. Taoi secara faktual dilapangan kondisinya sudah tidak bisa mampu lagi fungsinya sebagai penduking fungsi alam sendiri. Karena ada aktivitas pertambangan, perkebunan, ada pengundulan hutan, pembalakan liar dan sebagainya, " pungkas Yuliusman.

Banjir Besar Tahun 1995

Banjir di Muratara hingga hari ini belum surut, Jumat (12/1/2023). 

Musibah Banjir di Muratara merendam puluhan desa kelurahan dalam wilayah 6 kecamatan.

Banjir yang terjadi kali ini disebut-sebut seperti peristiwa 30 tahun silam yang terulang kembali. 

"Terakhir banjir seperti ini sekitar 30 tahun lalu, kalau tidak salah tahun 1992 dan tahun 1995," kata Camat Rupit, Mukhtaridi, Jumat (12/1/2024). 

Senada diungkapkan Sa'ban, warga ibukota Muara Rupit, membenarkan banjir besar yang terjadi kali ini menyamai peristiwa tahun 1995. 

Halaman
1234
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved