Liputan Khusus Tribun Sumsel
Kasus Arisan Online, Analisa Pengamat Ekonomi Sumsel Sri Rahayu: Dianggap jadi Solusi -3
Kasus arisan online masih banyak terjadi di Sumsel, analisa pengamat ekonomi Sumsel Sri Rahayu.
TRIBUNSUMSEL.COM, PALEMBANG - Kasus arisan online masih banyak terjadi di Sumatera Selatan (Sumsel). Bahkan meskipun sudah banyak korban arisan online, nyatanya masih ada saja masyarakat yang menjadi korban arisan online.
Menurut Pengamat Ekonomi Sumsel Sri Rahayu, arisan ini dianggap suatu kebutuhan, untuk pemecahan masalah atau jadi solusi terkait dana.
"Kenapa orang-orang berani arisan sampai besar-besar, karena semakin besar nominal arisannya akan semakin banyak juga dana yang didapat dari arisan," kata Sri Rahayu.
Sri Rahayu yang juga sebagai Direktur Program Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Palembang ini mencotohkan, misal arisannya Rp 10 juta kalau 20 orang bisa dapat Rp 200 juta.
"Jadi arisan ini dianggap menjadi solusi untuk mengatasi masalah terkait kebutuhan dana. Dapat duit nunggu sekian bulan tanpa bunga, seperti menabung dan sekali dapat besar," cetusnya.
Baca juga: Arisan Online Jerat Para Ibu, Kriminolog Stihpada Palembang Ungkap Korban Terbuai Bunga di Awal -2
Menurutnya, arian ini ada cerita singkat peralihannya, awalnya dengan arisan tujuannya orang-orang bisa bertemu dan bersilaturahmi. Namun memang kalau ketemu sudah main di fashion, konsumsi dan lain-lain.
Belum lagi kesibukan sehari-hari, yang tidak memungkinkan untuk bertemu.
Akhirnya terjadilah pergeseran dan munculah ide arisan online. Uang tetap dapat, dan silaturahminya bisa nanti-nanti saja.
"Hal inilah yang dilihat oleh orang-orang yang tidak bertanggungjawab dan manfaat ini sebagai suatu peluang yang tidak baik," ungkapnya.
Sebab, kalau secara online kan status bandar atau orang yang dipercaya mengumpulkan uang arisan tidak diketahui, bahkan modalnya juga nggak tahu ada atau tidak.
"Hanya bermodalkan kepercayaan, saja yang akhirnya terjadi seperti itu. Masalahnya orang-orang yang pernah ketipu ini beranggapan bahwa tidak perlu ketemu langsung, tidak perlu menyiapkan pakaian, konsumsi dan lain-lain jadi lebih memilih arisan online," katanya.
Menurut Sri Rahayu, masih banyaknya masyarakat yang tertipu itu karena ada juga kemampuan yang mengkoordinir arisan itu yang bisa berpengaruh. Bisa dengan iming-iming atau apapun. Bisa juga dengan mengaet orang-orang yang dikenal dulu, kemudian dilimpahkan ke yang lain.
"Awalnya tahu orangnya bisa dipercaya, kemudian dilimpahkan ke orang lain. Lalu namanya manusia berpikir coba-coba, pikirannya kalau nggak senang nggak usah store karena kenal juga nggak, akhirnya adalah yang jadi korban," katanya.
Sri Rahayu berpesan, kalaupun mau arisan online harus ketemu dulu diawal. Kalau sudah ketemu nggak yakin, ya nggak usah lanjut ke arisan online.
"Sebenarnya kalau arisan online, siapa yang mau mengawasi!! Paling kalau barang yang dilihat tokonya ada tidak, tapi kalau berupa uang susah juga mau memantaunya," tutupnya.(nda)
Baca berita lainnya langsung dari google news
Silakan gabung di Grup WA TribunSumsel
Liputan Khusus Tribun Sumsel
Lipsus Arisan Online Jerat Para Ibu
Aku Lokal Aku Bangga
Menatap 2023
Lokal Bercerita
berita palembang
Pemilik Kafe Kopi di Palembang Tertolong Momen Buka Bersama, Harga Kopi Tembus Rp 52 Ribu Per Kg -3 |
![]() |
---|
Harga Kopi Rp 52 Ribu Per Kg Termahal Sepanjang Sejarah, Kini Ramai-ramai Beli Emas -2 |
![]() |
---|
LIPSUS : Bisnis Kafe Kopi Gulung Tikar, Harga Kopi Tembus Rp 52 Ribu Per Kg -1 |
![]() |
---|
Pajak Hiburan 40-75 Persen Berlaku Bakal Matikan Usaha, GIPI Sumsel Ajukan Gugatan ke MK -2 |
![]() |
---|
LIPSUS: Pengunjung Karaoke Kaget Tarif Naik, Pajak Hiburan 40-75 Persen Berlaku -1 |
![]() |
---|
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.