Berita OKI
Hidup Dikelilingi Kebun Sawit, Warga OKI Masih Kesulitan Dapat Minyak Goreng
Sebanyak 412.720 hektare lahan di OKI merupakan perkebunan kelapa sawit, warga setempat masih kesulitan dapat minyak goreng.
Penulis: Winando Davinchi | Editor: Vanda Rosetiati
TRIBUNSUMSEL.COM, KAYUAGUNG - Menelisik data Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Sumatera Selatan di tahun 2020 lalu, dari total luas wilayah Kabupaten Ogan Komering Ilir 19.023,47 kilometer persegi (km²), sebanyak 412.720 hektare lahan di OKI merupakan perkebunan kelapa sawit.
Luasan ini sekaligus menjadikan Bumi Bende Seguguk sebagai daerah yang memiliki kebun sawit terluas nomor urut pertama di Provinsi Sumatera Selatan. Kabupaten OKI juga penghasil minyak sawit mentah atau crude palm oil terbesar di Sumsel.
Meskipun dikelilingi perkebunan kelapa sawit, saat ini mayoritas masyarakat dihadapkan kesulitan mendapatkan minyak goreng baik di pasar-pasar maupun toko swalayan.
"Sangat tidak masuk akal, kita hidup dikelilingi kebun kelapa sawit. Tetapi minyak goreng hilang dari peredaran dan sulit didapatkan sejak seminggu terakhir," ujar Lisa warga Desa Serigeni, Kecamatan Kayuagung, Jum'at (25/2/2022) siang.
Sementara itu, seorang pedagang minyak goreng di Pasar Kayuagung, Yanto mengatakan masih kesulitan mendapatkan stok minyak goreng dari agen.
"Memang dari distributor sudah kekosongan stok, kalaupun ada pembelian sangat dibatasi," ungkap Yanto.
Dirinya juga belum bisa menjual minyak goreng sesuai dengan harga eceran tertinggi (HET) yang telah ditetapkan. Dikarenakan tidak mendapatkan jatah minyak goreng subsidi yang disalurkan oleh pemerintah.
"Barangnya nggak pernah sampai di sini. Mungkin sudah sampai pasar cuma datangnya sedikit jadi seolah-olah ada," ujarnya.
Menurutnya, banyak pembeli yang tidak mendapatkan minyak goreng curah maupun kemasan, karena ketersediaan barangnya sedikit.
Baca juga: BREAKING NEWS: Perudapaksa Mahasiswi Berprestasi di OKU Ditembak Mati Polisi, Buron 29 Hari
Dikonfirmasi terpisah Wakil Bupati OKI, H. M. Djakfar Shodiq membenarkan bahwa wilayah yang dipimpinnya merupakan daerah penghasil minyak mentah terbesar di Sumsel.
"Memang kalau daerah kita ini penghasil sawit yang terbesar di Sumsel. Tapi karena OKI belum bisa (tidak memiliki pabrik-red) mengelola langsung CPO menjadi minyak goreng. Jadi inilah kendalanya," terang Shodiq.
"Semisal ada pabrik pengolahan tersebut, sudah pasti kebutuhan masyarakat akan terpenuhi dan minyak goreng tidak mungkin langka seperti sekarang," tambahnya.
Terlepas dari itu, pihaknya akan mendorong dinas perdagangan untuk sesegera mungkin turun ke lapangan dan menggelar sidak.
"Seperti kita ketahui memang di beberapa daerah ditemukan penimbunan minyak goreng. Tetapi Alhamdulillah di Kayuagung sendiri tidak ada sampai sekarang," katanya.
Selain itu, Shodiq juga akan menyampaikan kepada pemerintah pusat untuk meminta penambahan stok minyak goreng.
"Semoga secepatnya bisa normal kembali," tutupnya.
Baca berita lainnya langsung dari google news.