Refleksi Maulid Nabi Muhammad SAW

Sudah Pantaskah Kita Mengaku Umat Rasulullah?

HARI ini, kita kembali memperingati, mengenang lagi Maulid Nabi Muhammad Salallahualaihi wassalam.

Tribunsumsel
Maulid Nabi 

Sunnah mempunyai 2 arti, yang pertama, sunnah adalah suatu pekerjaan yang jika dikerjakan dapat pahala dan jika ditinggalkan tidak apa-apa.

Yang kedua, sunnah adalah suatu pekerjaan yang diulang-ulang terus menerus. Makanya ada juga yang namanya ”sunnatullah”, yaitu suatu kejadian yang selalu diulang-ulang oleh Allah, misalnya: kelahiran seorang bayi manusia harus didahului dengan proses pembuahan di dalam rahim. Itu adalah sunnatullah, selalu seperti itu diulang-ulang terus oleh Allah sampai akhir zaman.

Contoh lainnya, yaitu jika suatu negeri banyak terjadi kezaliman, yang kaya tidak peduli dengan yang miskin, maka Allah akan menimpakan azab bencana pada negeri itu, itulah sunnatullah, sampai akhir zaman akan terjadi dan diulang-ulang terus oleh Allah.
Demikian yang difirmankan Allah di dalam Q.S Ali-Imran(3):137,
”Sesungguhnya telah berlalu sebelum kamu sunnah-sunnah Allah; Karena itu berjalanlah kamu di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana akibat orang-orang yang mendustakan”.

Perilaku dan Tutur Kata Nabi Muhammad

Allah menjelaskan perilaku Nabi Muhammad SAW dalam Al Quran QS Al A’raf (203): Dan apabila kamu tidak membawa suatu ayat Al Quran kepada mereka berkata “Mengapa tidak kamu buat sendiri ayat itu?” Katakanlah: “Sesungguhnya aku hanya mengikut apa yang diwahyukan dari Tuhanku kepadaku. Al Quran ini adalah bukti-bukti yang nyata dari Tuhanmu, petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman”.
Perilaku Rasulullah Adalah Alquran

Jadi saudara-saudaraku yang mengaku sebagai ummat Muhammad, Allah sendiri bilang bahwa Nabi Muhammad s.a.w hanya mengikuti wahyu, yaitu Al-Qur’an.

Bahkan perlu diketahui, bahwa Nabi Muhammad s.a.w tidak akan pernah berani keluar dari Al-Qur’an, seperti termaktub di dalam Q.S Al-Haqqah(69):41-47 yang terjemahannya:

”Dan Al Quran itu bukanlah perkataan seorang penyair. Sedikit sekali kamu beriman kepadanya. Dan bukan pula perkataan tukang tenung. Sedikit sekali kamu mengambil pelajaran daripadanya. Ia adalah wahyu yang diturunkan dari Tuhan semesta alam. Seandainya dia (Muhammad) (berani) mengada-adakan sebagian perkataan atas (nama) Kami, niscaya benar-benar Kami pegang dia pada tangan kanannya [1509]. Kemudian benar-benar Kami potong urat tali jantungnya. Maka sekali-kali tidak ada seorang pun dari kamu yang dapat menghalangi (Kami), dari pemotongan urat nadi itu”.

Nabi Muhammad sendiri sekali-kali tidak pernah mengatakan dan berbuat yang di luar Al-Qur’an. Nabi Muhammad tidak pernah mengarang Hadits yang diluar Al-Qur’an. Hadits Nabi Muhammad adalah Al-Qur’an itu sendiri. Maka sangat benar ketika Aisyah r.a ditanya: ”Bagaimana perilaku Rasulullah?” Aisyah r.a menjawab: ”Perilaku Rasulullah adalah Al-Qur’an”.

Patutkah Kita Mengaku Umat Nabi?

Halaman
1234
Editor: Prawira Maulana
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved