Karhutla Sumsel

Lipsus : 25 Hotspot Kepung Sumsel, BMKG Ingatkan Ancaman Kemarau Transisi & Potensi Cuaca Ekstrem 

Alarm kewaspadaan terhadap ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Provinsi Sumatra Selatan (Sumsel) resmi berbunyi. 

Tayang:
Penulis: Fajri Ramadhoni | Editor: Slamet Teguh
Dokumen/NotebookLM
ILUSTRASI - 25 Hotspot Kepung Sumsel, BMKG Ingatkan Ancaman Kemarau Transisi & Potensi Cuaca Ekstrem  
Ringkasan Berita:
  • BMKG Sumsel mendeteksi 25 titik panas berstatus kepercayaan sedang di sejumlah daerah dan 2 titik panas berstatus tinggi di Musi Banyuasin.
  • Luas karhutla Januari–April 2026 mencapai 182,54 hektare, dengan wilayah terparah di Muratara (53,2 hektare), sementara Muba dan daerah lain juga mengalami kebakaran lahan.
  • Pemda memperkuat langkah antisipasi melalui patroli, pembentukan Masyarakat Peduli Api, pemetaan zona rawan, serta kolaborasi dengan perusahaan dan aparat untuk mencegah karhutla meluas.

 

TRIBUNSUMSEL.COM, PALEMBANG — Alarm kewaspadaan terhadap ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Provinsi Sumatra Selatan (Sumsel) resmi berbunyi. 

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Sumsel mengeluarkan peringatan dini seiring masuknya musim kemarau di Bumi Sriwijaya. Berdasarkan pantauan citra satelit terbaru, puluhan titik panas (hotspot) dengan tingkat kepercayaan sedang hingga tinggi mulai mengepung sejumlah wilayah kabupaten/kota.

Kasi Observasi, Data, dan Informasi BMKG Sumsel, Sinta Mediany, mengungkapkan bahwa saat ini terdeteksi ada 25 titik panas dengan tingkat kepercayaan sedang hingga tinggi yang tersebar di beberapa kabupaten/kota.

"Tingkat kepercayaan sedang sebanyak 25 titik hotspot terpantau di Kabupaten OKI, Ogan Ilir, Musi Rawas Utara (Muratara), Musi Rawas, Muara Enim, Lahat, dan Prabumulih. Sementara untuk tingkat kepercayaan tinggi, ada dua titik yang berada di Kabupaten Musi Banyuasin (Muba)," ujarnya saat dikonfirmasi, Kamis (4/6/2026).

Sinta menambahkan, data satelit ini tetap perlu diverifikasi secara langsung di lapangan (ground check). Sebab, satelit menangkap radiasi panas secara umum yang tidak hanya bersumber dari karhutla, melainkan bisa juga dipicu oleh kebakaran permukiman atau aktivitas warga yang membakar tumpukan sampah.

Luas Karhutla Januari–April 2026 Tembus 182 Hektare

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Sumatera Selatan selama Januari hingga April 2026 mencapai 182,54 hektare. Dari delapan daerah yang terdampak, Kabupaten Musi Rawas Utara (Muratara) menjadi wilayah dengan luas karhutla terbesar, yakni mencapai 53,2 hektare.

Kepala Balai Pengendalian Kebakaran Hutan Kementerian Kehutanan Wilayah Sumatera, Ferdian Kristanto, mengatakan data tersebut berdasarkan hasil analisa citra satelit yang dihimpun melalui sistem Sipongi dan masih bersifat rekapitulasi sementara.

"Luas karhutla pada Januari-April 2026 di Sumsel berdasarkan perhitungan karhutla periode Januari-April hasil analisa citra satelit oleh Kemenhut, BRIN dan Kementerian Lingkungan Hidup mencapai 182,54 hektare,” kata Ferdian, Jumat (29/5/2026).

Ia menjelaskan, terdapat delapan daerah di Sumsel yang mengalami karhutla sepanjang empat bulan pertama tahun ini. Wilayah terluas terjadi di Kabupaten Musi Rawas Utara (Muratara) dengan total 53,2 hektare lahan terbakar.

Selanjutnya, kebakaran lahan juga terjadi di Musi Banyuasin (Muba) seluas 33,1 hektare, Muara Enim 31,9 hektare, Ogan Ilir 27,5 hektare, OKI 20 hektare, Banyuasin 9,4 hektare, Lahat 6 hektare dan OKU Selatan 1,4 hektare.

Menurut Ferdian, lahan yang terbakar didominasi tanah mineral dengan luas mencapai 181,4 hektare, sedangkan lahan gambut tercatat 1,1 hektare yang berada di wilayah Muba.

“Lahan yang terbakar didominasi tanah mineral seluas 181,4 hektare dan gambut 1,1 hektare. Luasan karhutla di lahan gambut itu terjadi di Muba,” ujarnya.

Ferdian menambahkan, luas karhutla pada Januari-April 2026 lebih tinggi dibandingkan dua tahun terakhir. Pada periode yang sama tahun 2024, luas karhutla tercatat 144,2 hektare, sedangkan pada 2025 hanya mencapai 5 hektare.

Meski demikian, angka karhutla tahun ini masih lebih rendah dibandingkan 2022 yang mencapai 485,1 hektare dan 2023 sebesar 995,3 hektare.

40 Titik Panas Sempat Terdeteksi di Muratara

Lonjakan titik panas sempat terjadi di Kabupaten Musi Rawas Utara (Muratara). Kepala BPBD Muratara, Hasbi Hasidqi, menyampaikan bahwa pada Jumat (29/5/2026) lalu, wilayahnya sempat mencatat hingga 40 titik panas dalam satu hari. Kemunculan titik panas tersebut diduga kuat berasal dari aktivitas pembukaan lahan perkebunan oleh warga dengan cara dibakar.

"Kemarin hotspot sempat tinggi, ada sekitar 40 titik. Namun setelah itu langsung turun ke angka lima titik, artinya api cepat padam. Kemungkinan skalanya kecil seperti pembakaran lahan kebun yang setelah selesai langsung mati," ungkap Hasbi, Kamis (4/6/2026).

Saat ini, sisa titik panas mayoritas terpantau di wilayah Kecamatan Rawas Ilir. Hasbi menjelaskan, hampir seluruh kecamatan di Muratara masuk kategori rawan karhutla karena kondisi vegetasi yang cenderung mengering. Beberapa wilayah seperti Rawas Ilir,

Nibung, Karang Dapo, dan Rupit bahkan memiliki hamparan lahan gambut yang berpotensi meningkatkan risiko kebakaran yang sulit dipadamkan.

BPBD Muratara kini tengah menyiapkan surat edaran kesiapsiagaan mengingat wilayahnya sedang berada dalam fase transisi dari musim hujan ke musim kemarau. Terlebih, adanya ancaman fenomena iklim ekstrem El Nino yang diprediksi terjadi pada rentang Juni hingga Agustus 2026.

"Kami berkolaborasi dengan perusahaan-perusahaan yang beroperasi di wilayah Muratara, meminta titik koordinat konsesi mereka agar bersama-sama siaga melakukan antisipasi," tegas Hasbi.

Baca juga: Antisipasi Karhutla, BPBD OKU Timur Pantau Titik Panas Lewat Aplikasi Sipong

Baca juga: Semak Belukar Mulai Terbakar, Warga Lubuklinggau Diimbau Siaga Karhutla, ini Wilayah Rawan Kebakaran

Di Muba, Kebakaran Lahan Nyaris Merembet ke Perumahan

Ancaman karhutla secara riil sudah mulai terjadi di Kabupaten Musi Banyuasin (Muba). Sebanyak 1 hektare lahan semak belukar di sekitar Perumahan Kurma Village, Jalan Sekayu-Muara Teladan, Kelurahan Balai Agung, Kecamatan Sekayu, hangus terbakar pada Rabu (3/6/2026) sekitar pukul 18.50 WIB.

Kebakaran tersebut sempat memicu kepanikan luar biasa bagi warga sekitar karena posisi kobaran api berada sangat dekat dengan area perumahan.

Kepala BPBD Muba, Marko Susanto, menyatakan bahwa setelah menerima laporan dari warga, pihaknya langsung menerjunkan tim piket beserta armada pemadam ke lokasi kejadian guna melakukan lokalisasi api.

"Saat tim menuju lokasi, api mulai membesar. Prioritas utama kami saat itu adalah memastikan lidah api tidak merambat ke permukiman dan membahayakan masyarakat," kata Marko.

Setelah berjibaku melawan kobaran api selama kurang lebih 1,5 jam, tim BPBD Muba akhirnya berhasil memadamkan api secara total pada pukul 20.30 WIB. Penyebab pasti kebakaran lahan semak belukar ini masih dalam tahap penyelidikan petugas di lapangan.

Banyuasin Petakan Zona Hijau dan Bentuk 153 MPA

Berbeda dengan wilayah tetangga, Kabupaten Banyuasin sejauh ini dilaporkan masih bersih dari sebaran titik panas. Kendati demikian, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Banyuasin enggan gegabah dan memilih mencuri start dalam melakukan langkah pencegahan dini.

Bupati Banyuasin, Dr. H. Askolani, langsung mengumpulkan para pimpinan perusahaan perkebunan kelapa sawit yang beroperasi di wilayahnya guna menyamakan persepsi dan kesiapsiagaan menghadapi musim kemarau.

"Langkah pencegahan sejak dini harus dilakukan agar kebakaran hutan dan lahan di Banyuasin dapat dieliminasi. Koordinasi antara pemerintah daerah, TNI, Polri, Manggala Agni, korporasi perkebunan, dan masyarakat harus diperkuat," tegas Askolani seusai menggelar pertemuan, Kamis (4/6/2026).

Sebagai langkah konkret, Pemkab Banyuasin melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) telah membagi wilayah kabupaten menjadi beberapa zona taktis. Zona-zona ini akan menjadi posko pusat pergerakan tim untuk memantau, memonitor, dan melakukan tindakan pemadaman cepat (quick response) jika sewaktu-waktu muncul titik api.

"Pencegahan dini tidak boleh kendor. Pemkab Banyuasin juga sudah membentuk Masyarakat Peduli Api (MPA) di 153 desa sebagai garda terdepan di tingkat tapak yang akan langsung bergerak bersinergi dengan TNI, Polri, dan Manggala Agni," pungkas Askolani.

 

 

Baca berita Tribunsumsel.com lainnya di Google News

Ikuti dan bergabung dalam saluran whatsapp Tribunsumsel.com

Sumber: Tribun Sumsel
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved