OPINI

Belajar dari Ekspor Kopi: Mendongkrak UMKM Sumatera Selatan Menembus Pasar Dunia

Dengan basis lebih dari 2 juta UMKM, Sumsel memiliki modal struktural yang kuat, jika orkestrasi ini dijaga konsisten dan direplikasi secara disiplin

Tayang: | Diperbarui:
Editor: Lisma Noviani
Istimewa
DUKUNG UMKM --Kepala Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Sumsel, Arifin Susanto. 

Oleh: Arifin Susanto
Penulis adalah Kepala OJK Provinsi Sumatera Selatan

Ringkasan Berita:
 
* Jumlah pelaku UMKM di Sumsel diperkirakan telah melampaui 2,5 juta unit, menyumbang sekitar 60 persen terhadap PDRB daerah serta menyerap sekitar 70 persen tenaga kerja.
 
* Pelaku usaha membutuhkan lebih dari sekadar modal kerja, lebih dari itu butuh orkestrasi ekosistem yang utuh.
 
* Belajar dari ekspor kopi, upaya untuk mendongkrak UMKM Sumatera Selatan ke kancah dunia diperlukan dengan cara menciptakan nilai tambah melalui ekonomi kreatif dan digitalisasi. 

 

 

TRIBUNSUMSEL.COM -- Orkestrasi ekosistem yang menghubungkan pembiayaan, digitalisasi, dan akses pasar menjadi kunci transformasi lebih dari 2,5 juta UMKM di Sumatera Selatan.

UMKM selama ini menjadi fondasi utama ekonomi Sumatera Selatan. Namun di tengah dinamika ekonomi yang semakin kompetitif, pendekatan pengembangan UMKM tidak bisa lagi bersifat parsial. Yang dibutuhkan adalah orkestrasi ekosistem yang terhubung end-to-end—mulai dari pembiayaan, produksi, hingga akses pasar global.

Data menunjukkan skala UMKM Sumatera Selatan sangat signifikan. Jumlah pelaku UMKM diperkirakan telah melampaui 2,5 juta unit, menyumbang sekitar 60 persen terhadap PDRB daerah serta menyerap sekitar 70 persen tenaga kerja. Di sisi lain, UMKM yang tercatat formal baru sekitar 546 ribu unit yang menunjukkan masih terdapat ruang besar untuk peningkatan formalitas dan penguatan kapasitas usaha.

Besarnya populasi ini adalah kekuatan sekaligus tantangan. Tanpa integrasi yang kuat, sebagian UMKM akan tetap berada pada skala subsisten dengan produktivitas terbatas. Karena itu, peran sektor jasa keuangan perlu direposisi secara lebih strategis.

 

UMKM Butuh Bukan Sekadar Modal Kerja

Selama ini dukungan terhadap UMKM kerap dipersepsikan identik dengan penyaluran kredit.  Pendekatan ini tentu penting, tetapi pengalaman empiris menunjukkan bahwa pembiayaan tanpa penguatan ekosistem sering menghasilkan pertumbuhan yang rapuh.

Memang, kinerja kredit UMKM Sumsel Tahun 2025 membaik dibandingkan Tahun 2024, tercermin dari Total penyaluran Kredit UMKM tercatat sebesar Rp42,04 triliun yang disalurkan kepada 674.632 debitur UMKM. Pertumbuhan Kredit UMKM 2025 lebih baik dibandingkan kredit nasional.  Namun kredit hanyalah salah satu elemen dalam rantai penguatan UMKM.

Pelaku usaha membutuhkan lebih dari sekadar modal kerja. Mereka memerlukan kepastian pasar, peningkatan kualitas produk, efisiensi logistik, digitalisasi proses bisnis, serta mitigasi risiko usaha. Dengan kata lain, yang dibutuhkan adalah orkestrasi ekosistem yang utuh.

Selama ini, dalam pola bisnis UMKM yang masih relatif tradisional, peran industri jasa keuangan berjalan sendiri-sendiri. Perbankan fokus menyalurkan kredit, fintech hadir memberi pinjaman modal kerja yang lebih cepat, sementara asuransi membantu melindungi risiko usaha.

Peran tersebut tentu penting, tetapi ke depan sudah waktunya diperluas. Industri jasa keuangan perlu naik kelas—tidak hanya sebagai pemberi pembiayaan, tetapi juga sebagai agregator yang menghubungkan UMKM dengan pasar dan rantai pasok, sebagai orchestrator yang menyinergikan ekosistem usaha secara menyeluruh, serta sebagai risk mitigator yang membantu pelaku UMKM mengelola risiko bisnis dengan lebih matang dan berkelanjutan.

Belajar dari Ekspor Kopi

Pendekatan ekosistem mulai menunjukkan hasil konkret di Sumatera Selatan melalui pengembangan kopi. Selama bertahun-tahun, petani kopi menghadapi persoalan klasik: rantai distribusi panjang dan nilai tambah yang tipis.
Intervensi berbasis ekosistem kemudian dilakukan melalui penguatan kelompok tani, kurasi kualitas, pembiayaan terintegrasi, kehadiran off-taker, serta fasilitasi akses ekspor. Pendekatan kolaboratif ini mulai mengubah struktur nilai yang diterima pelaku usaha di hulu.

Hingga saat ini, ekspor kopi Sumatera Selatan telah berlangsung secara kontinyu lebih dari 15 kali pengiriman ke berbagai negara tujuan. Keberhasilan ekspor ini bukan sekadar angka, melainkan bukti bahwa pembiayaan yang terhubung dengan rantai nilai UMKM mampu melompat dari pasar lokal menuju pasar global.

Meski progres terlihat, sejumlah tantangan mendasar masih perlu diatasi. Tingkat formalitas UMKM masih relatif rendah dan sebagian besar pelaku usaha masih berada pada skala mikro. Di sisi lain, adopsi digital belum merata, baik dalam pencatatan keuangan maupun pemasaran.

Belajar dari ekspor kopi, upaya untuk mendongkrak UMKM Sumatera Selatan ke kancah dunia diperlukan dengan cara menciptakan nilai tambah melalui ekonomi kreatif dan digitalisasi. 

Beragam produk lokal—mulai dari kopi specialty, kuliner olahan, kriya, hingga fesyen—memiliki potensi untuk diposisikan sebagai produk bernilai premium.

Terdapat tiga pengungkit utama yang perlu dipercepat.

 Pertama, penguatan story telling dan origin branding local. Kopi Robusta Semendo atau Raden Kuning Arabica Pagar Alam misalkan, lebih menjual daripada hanya menjual kopi tanpa asal daerah kopinya.

Kedua, standardisasi dan quality assurance.

Ketiga, digitalisasi end-to-end yang mencakup pembayaran digital, digital marketing, pembiayaan berbasis data, serta integrasi logistik.

Agar transformasi berjalan terpadu, beberapa langkah prioritas perlu dipercepat: mereplikasi model ekosistem berbasis komoditas unggulan contohnya kopi, melakukan scaling-up supply chain financing, mempercepat digital onboarding UMKM, memperkuat kemitraan off-taker dan agregator ekspor, serta memperkuat peran Lembaga strategis seperti OJK, BI dan Dinas UMKM & Koperasi Sumsel sebagai regional orchestrator.

Dengan basis lebih dari dua juta UMKM, Sumatera Selatan memiliki modal struktural yang kuat. Jika orkestrasi ini dijaga konsisten dan direplikasi secara disiplin, UMKM Sumatera Selatan berpotensi tidak hanya menjadi penopang ekonomi daerah, tetapi juga motor baru ekspor nasional.(*)

Baca juga: Forketas Sumsel Bakal Gelar Jambore UMKM 2026, Targetkan 1.500 Pengunjung Per Hari

Baca juga: Kopi Sumsel dan Rahasia Stamina K.H. Tolat Wafa Ahmad di Usia 67 Tahun

Baca juga: OPINI - Peluang Ekonomi dalam Budaya Gen Z, Americano tak Sepahit Menjadi Pengangguran

Baca juga: Kopi Pagar Alam Tembus Pasar Internasional, Wali Kota Minta Petani Tingkatkan Kualitas

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved