Breaking News

OPINI

Rupiah Tembus Rp 17.600 per Dolar AS, Akankah Krismon Terulang Lagi? Apa yang Harus Kita Lakukan?

Secara psikologis, ketika mata uang rupiah melemah tajam, biasanya isu yang dicemaskan adalah flashback ke bayang-bayang trauma Krisis Moneter 1998. 

Tayang:
Editor: Lisma Noviani
LISMA/GRAFIS/CANVA
RUPIAH ANJLOK -- Rupiah terhadap dolar AS terus anjlok dalam beberapa hari terakhir, apa yang harus dilakukan, opini Dosen FE Unsri Sabam Syahputra Manurung, S.Sos, M.Si. 

Oleh : Sabam Syahputra Manurung, S.Sos, M.Si

Dosen Ekonomi Pembangunan Fakultas Ekonomi Universitas Sriwijaya

TRIBUNSUMSEL.COM --  Pendar monitor perdagangan valuta asing selalu didominasi warna merah sepanjang dua minggu terakhir. Rupiah menembus Rp17.679 per dolar AS, tertinggi sepanjang Sejarah kita.

Tekanan hebat terhadap nilai tukar Rupiah bukan lagi sekadar prediksi di atas kertas atau peringatan normatif dari para ekonom, tetapi sudah benar-benar nyata di hadapan kita.

 Angka Rp17.600 tersebut seketika menjadi "Hantu Kepanikan" di sektor ritel dan bahkan menggentayangi daya beli masyarakat.

Di pusat perbelanjaan misalnya, harga barang-barang elektronik impor mulai merangkak naik, sementara para importir pangan, pakaian, plastik, dan bahan baku obat-obatan tengah bersiap menghitung ulang margin usaha mereka yang kian menipis tanpa harus menaikkan harga jual produk.

Kuatnya dolar AS saat ini seolah menjelma menjadi teror tak kasat mata yang secara perlahan menggerogoti tabungan dan daya beli masyarakat hingga berpotensi memicu inflasi di tingkat akar rumput.

Bayang-bayang Krismon 1998

Secara psikologis, ketika mata uang rupiah melemah tajam, biasanya isu yang dicemaskan adalah flashback ke bayang-bayang trauma Krisis Moneter 1998. 

Memori tentang kejatuhan rezim yang dramatis, antrean panjang warga demi satu liter minyak goreng dan kebutuhan pangan, kerusuhan sosial di sudut-sudut kota, hingga kolapsnya sistem perbankan nasional dalam sekejap.

Trauma struktural akibat depresiasi mata uang yang parah adalah luka sejarah mendalam yang belum sepenuhnya sembuh dalam memori ekonomi Indonesia, sehingga gejolak sekecil apa pun pada kurs dolar akan langsung memicu alarm bahaya di benak publik.

Namun, di sinilah dekonstruksi mitos dan edukasi utama harus diluruskan. Kurs dolar dengan angka sebesar itu sebenarnya bukan "Hantu" yang harus kita takuti secara berlebihan, karena situasi hari ini sama sekali berbeda dengan tahun 1998.

Saat ini benteng pertahanan ekonomi kita jauh lebih kokoh. Jika tahun 1998 industri keuangan kita rapuh akibat rasio kredit bermasalah (non-performing loan/NPL) yang kurang ditata dengan baik, hari ini rata-rata rasio kecukupan modal (CAR) perbankan nasional kita masih sangat kuat, di 25,09 persen pada Maret 2026, point dan berada jauh di atas batas aman internasional yakni di 14,7 % .

Posisi ini memberikan bantalan bagi bank untuk siap menghadapi potensi gejolak global, fluktuasi nilai tukar, serta kenaikan harga bahan baku impor.

Begitu pula dengan utang swasta; jika dulu korporasi berutang dalam dolar secara serampangan tanpa lindung nilai, sekarang regulasi Bank Indonesia sangat ketat dalam mewajibkan praktik hedging. 

Kemudian, dari aspek inflasi misalnya, pada tahun 1998 inflasi kita tembus 77,6 % yang membuat hampir seluruh kebutuhan pokok terus meningkat. Sementara inflasi kita di sepanjang lima tahun terakhir tertinggi ada di 8?n pada April 1016 ada di titik 2,42 % . 

Waspada Tantang Internal dan Eksternal

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved