Kopi Sumsel

Kopi Sumsel dan Rahasia Stamina K.H. Tol'at Wafa Ahmad di Usia 67 Tahun

Kamis (12/2/2026) sore, angin dari Danau Telok Putih berembus pelan. Udara terasa lembab setelah diguyur hujan.

Penulis: Eko Adia Saputra | Editor: Slamet Teguh
Tribunsumsel.com/Eko Adia Saputro
Kopi Sumsel dan Rahasia Stamina K.H. Tol'at Wafa Ahmad di Usia 67 Tahun 

Oleh: Eko Adia Saputro (Manajer Liputan Tribun Sumsel)

TRIBUNSUMSEL.COM - Kamis (12/2/2026) sore, angin dari Danau Telok Putih berembus pelan. Udara terasa lembab setelah diguyur hujan.

Di salah satu sudut Pondok Pesantren Raudhatul Ulum Sakatiga, suasana terasa sejuk—bukan hanya karena pepohonan, tapi juga karena cara tuan rumah menyambut tamu.

Saya bersama Sudarwan (Manajer Online Sripoku.com), tim videografer: Abriansyah Liberto, Rizki, dan Agung Dwipayana, diterima langsung oleh mudir Ponpes RU, K.H. Tol'at Wafa Ahmad. Saya sering mendengar namanya juga membaca literatur tetang perjuangannya mengelola pesantren. Tapi ini pertama kalinya saya bertemu Kiai Wafa secara lansung.

Kami memiliih Kiai Wafa sebagai narasumber podcast untuk program "Cerita Para Kiai".

Usai podcast, obrolan kami berlanjut santai. Secangkir kopi mengepul, disusul pempek kapal selam yang tak lagi hangat. Dari percakapan ringan itulah, potret keseharian seorang Kiai Wafa terasa begitu manusiawi.

Baca juga: Jelang Musim Panen, Harga Kopi di Empat Lawang Rp 55 Ribu Perkilo, Petani Berharap Bisa Rp 70 Ribu

Baca juga: The First Brew Grand Opening Coffee House And Resto Kopi Lapan, Resmi Dibuka

Kopi Dempo dan Harga Diri Sumsel

Di antara tegukan kopi, Kiai Wafa bercerita tentang kesukaannya pada kopi.

“Kalau saya minumnya Kopi Dempo. Minum kopi bagus, lebih baik tanpa gula,” ujarnya sambil tersenyum.

Yang ia maksud adalah kopi dari kaki Gunung Dempo di Pagar Alam—wilayah yang sejak lama dikenal sebagai salah satu sentra kopi Sumatera Selatan (Sumsel).

Sumsel sendiri termasuk daerah penghasil kopi terbesar di Indonesia. Daerah seperti OKU Selatan, Muara Enim, Lahat, Pagaralam, Empatlawang, hingga OKU menyumbang produksi kopi robusta dan arabika dalam jumlah besar. Namun, menurut Kiai Wafa, nama besar itu belum sepenuhnya sejalan dengan popularitas merek kopi Sumsel di tingkat nasional.

“Sumsel ini penghasil kopi besar, tapi belum cukup dikenal. Harusnya kita bangga dan ikut mempromosikan,” katanya.

Bagi Kiai Wafa, kopi bukan sekadar minuman. Ia adalah identitas, sekaligus kebanggaan daerah. Menikmati kopi tanpa gula, menurutnya, adalah cara menghargai rasa asli—seperti menghargai jati diri.

67 Tahun, Masih Main Bola 2×45 Menit

Yang mengejutkan bukanlah cuma soal kopi, melainkan stamina.

Di usia 67 tahun, Kiai Wafa mengaku masih rutin bermain sepakbola dengan durasi penuh, yakni 45 menit x 2. 

“Saya masih sering main. Happy dan masih sanggup,” katanya ringan.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved