Berita UMKM

Melimpah di Ogan Ilir, Daun Ketapang Hingga Kulit Jengkol Bisa Jadi Bahan Pewarna Alami Kain Tenun

Daun ketapang, daun senduduk, daun ceri, kulit mahoni, hingga kulit jengkol bisa dipolah menjadi bahan pewarna alami untuk tenun seperti songket.

Tayang: | Diperbarui:
Tribunsumsel.com/Agung Dwipayana
FOTO BERSAMA - Emak-emak di Indralaya berfoto bersama usai kegiatan workshop, Kamis (29/1/2026). Kegiatan tersebut mengangkat kearifan lokal melalui seni pewarna alam. 

Ringkasan Berita:
  • Daun ketapang, daun senduduk, daun ceri, kulit mahoni, hingga kulit jengkol bisa diolah menjadi bahan pewarna alami
  • Kain tenun yang biasa dikreasikan menggunakan bahan pewarna alam di antaranya songket, gebeng dan jumputan
  • Owner Serasi Songket di Indralaya, Risma Handayati mengajak masyarakat menggunakan bahan pewarna alami karena ketersediannya yang melimpah

TRIBUNSUMSEL.COM, INDRALAYA -- Emak-emak di Indralaya, Ogan Ilir, dipersiapkan untuk menjadi produsen kain tenun menggunakan pewarna alam. 

Bahan pewarna alam sangat melimpah di Indralaya dan daerah-daerah lainnya di Ogan Ilir.

Seperti disampaikan owner Serasi Songket di Indralaya, Risma Handayati.

Ia mengatakan bahwa bahan-bahan alam yang sangat mudah ditemukan di antaranya daun ketapang, daun senduduk, daun ceri, kulit mahoni, hingga kulit jengkol.

"Bahan pewarnaan alam yang ada di sekitar Indralaya ini berlimpah. Tinggal kita yang menggalinya," kata Risma pada workshop yang dihadiri ibu-ibu di Indralaya, Kamis (29/1/2026).

Dijelaskannya, kain tenun yang biasa dikreasikan menggunakan bahan pewarna alam di antaranya songket, gebeng dan jumputan.

Baca juga: Polres Ogan Ilir Laksanakan Kegiatan Binrohtal, Tingkatkan Keimanan Personel

Proses pembuatan kain tenun menggunakan pewarna alam lebih lama dibanding pewarna sintetis.  

"Untuk mewarnai kain tenunnya itu butuh waktu. Karena proses pewarnaan alam itu tergantung dari cuaca, sehingga terkadang warna menjadi tidak rata. Jadi, pengrajin mesti mengulang-ulang proses pencelupan kain ke cairan warna," jelas Risma.

Dalam proses pewarnaan, pengrajin bisa bereksperimen.

Seperti menentukan kombinasi warna yang diaplikasikan pada kain tenun.

Ada beberapa keunggulan pewarna alam dibanding pewarna sintetis.

Di antaranya tidak mengakibatkan iritasi atau alergi di kulit, khususnya bagi yang punya alergi terhadap bahan sintetis.

Pewarna alam cenderung lebih awet, fashionable dan kombinasi warna yang dihasilkan, sulit untuk ditiru.

Kain tenun dengan warna alam juga sudah banyak diakui lebih elegan dibanding warna sintetis.

"Maka tidak heran kalau kain tenun pakai pewarna alam harganya bisa dua hingga tiga kali lebih mahal dibanding produk serupa yang menggunakan pewarna sintetis," tutur Risma.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved