PPG Kemenag

4 Contoh Studi Kasus PPG 2025 Kemenag Batch 4 PDF, Media Pembelajaran, LKPD, Strategi dan Penilaian

Referensi 4 Contoh Studi Kasus PPG 2025 Kemenag Batch 4 PDF, Media Pembelajaran, LKPD, Strategi dan Penilaian. Uji kompetensi 17-18 Januari 2026.

Penulis: Vanda Rosetiati | Editor: Vanda Rosetiati
Tribunsumsel.com/Grafis/Vanda Rosetiati
STUDI KASUS PPG 2025 - Grafis ilustrasi Contoh Studi Kasus PPG 2025 Kemenag Batch 4, Media Pembelajaran, LKPD, Strategi dan Penilaian. Referensi bagi Bapak/Ibu mahasiswa PPG Kemenag Batch 4 2025. 

TRIBUNSUMSEL.COM - Contoh studi kasus Pendidikan Profesi Guru (PPG) 2025 berikut bisa dijadikan referensi bagi Bapak/Ibu guru peserta PPG Kemenag Batch 4 2025. 

Uji pengetahuan menjadi bagian dari Uji Kompetensi Mahasiswa PPG atau UKMPPG peserta PPG Transformasi Daljab 2025 Batch 4 dijadwalkan 17 dan 18 Januari 2025. 

Ada dua tipe soal mungkin dikeluarkan Panitia  Penyelenggara UPPPG 2025 yakni tipe pilihan ganda dan tipe uraian studi kasus.

Untuk soal uraian studi kasus, peserta ujian diharuskan menulis uraian minimal 350 kata maksimal 500 kata. 

Tribunsumsel.com kali ini menyajikan 4 Contoh Studi Kasus PPG 2025 Kemenag Batch 4, Media Pembelajaran, LKPD, Strategi dan Penilaian dari akun scribd ArieIswanto nomor 906385548 diakses Sabtu, 10 Januari 2026.

Tersedia juga file format PDF siap unduh di akhir artikel. 

___________

4 Contoh Studi Kasus PPG 2025 Kemenag Batch 4, Media Pembelajaran, LKPD, Strategi dan Penilaian


A. MASALAH MEDIA PEMBELAJARAN

1. Apa masalah yang pernah dihadapi?

Salah satu masalah utama yang pernah saya hadapi dalam penggunaan media pembelajaran adalah keterbatasan sarana teknologi di sekolah. Tidak semua ruang kelas dilengkapi dengan proyektor, speaker, atau jaringan internet yang memadai. Ketika saya ingin menampilkan materi dalam bentuk video atau presentasi interaktif, kendala teknis sering muncul, seperti listrik padam atau sinyal internet yang lemah. Kondisi ini tentu menghambat kelancaran pembelajaran.

Masalah lain adalah kurangnya kompetensi sebagian guru, termasuk saya pada awalnya, dalam menguasai media pembelajaran berbasis digital. Meskipun sudah tersedia perangkat tertentu, penggunaannya belum maksimal karena keterbatasan keterampilan dalam mengoperasikan
aplikasi, mengedit materi, atau mengintegrasikan media dengan strategi pembelajaran. Akibatnya, pembelajaran menjadi monoton dan siswa kurang termotivasi untuk aktif.

Selain itu, tidak semua media sesuai dengan karakteristik dan kebutuhan siswa. Ada kalanya media terlalu kompleks untuk dipahami atau justru terlalu sederhana sehingga tidak menantang siswa. Kesesuaian antara media, materi, dan tingkat pemahaman siswa menjadi tantangan tersendiri.
Jika media tidak tepat, tujuan pembelajaran sulit tercapai meskipun guru sudah berusaha menyampaikan materi dengan baik.

2. Bagaimana mengatasi masalah yang dihadapi?

Untuk mengatasi keterbatasan fasilitas, saya mulai memanfaatkan media alternatif yang lebih sederhana namun tetap kreatif. Misalnya, saya membuat poster, alat peraga, atau menggunakan benda nyata dari lingkungan sekitar sebagai sarana belajar. Selain itu, saya menyiapkan materi dalam bentuk offline, seperti video yang sudah diunduh sebelumnya, sehingga tetap bisa digunakan meskipun tanpa koneksi internet. Hal ini membuat pembelajaran tetap berjalan lancar meskipun sarana teknologi terbatas.

Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved