PPG Kemenag

Contoh Studi Kasus PPG 2025 Tentang Penilaian, Minimal 350 Kata, PPG Kemenag Batch 4 2025

Contoh Studi Kasus PPG 2025 tentang Penilaian, minimal 350 kata. Referensi mahasiswa guru peserta PPG Kemenag Batch 4 2025.

Penulis: Vanda Rosetiati | Editor: Vanda Rosetiati
Tribunsumsel.com/Grafis/Vanda Rosetiati
STUDI KASUS PPG 2025 - Grafis ilustrasi Contoh Studi Kasus PPG 2025 Tentang Penilaian, Minimal 350 Kata. Referensi bagi Bapak/Ibu mahasiswa PPG Kemenag Batch 4 2025. 

TRIBUNSUMSEL.COM - Contoh studi kasus Pendidikan Profesi Guru (PPG) 2025 tentang Penilaian  berikut bisa dijadikan referensi bagi Bapak/Ibu guru peserta PPG Kemenag Batch 4 2025. 

Uji pengetahuan menjadi bagian dari Uji Kompetensi Mahasiswa PPG atau UKMPPG peserta PPG Transformasi Daljab 2025 Batch 4 dijadwalkan 17 dan 18 Januari 2025. 

Ada dua tipe soal mungkin dikeluarkan Panitia  Penyelenggara UPPPG 2025 yakni tipe pilihan ganda dan tipe uraian studi kasus.

Untuk soal uraian studi kasus, peserta ujian diharuskan menulis uraian minimal 350 kata maksimal 500 kata. 

Tribunsumsel.com kali ini menyajikan contoh Kasus PPG 2025 Tentang Penilaian diolah dari laman ArieIswanto nomor 906385548 diakses Kamis, 8 Januari 2026. 

___________

Contoh Studi Kasus PPG 2025 Tentang Penilaian PPG Kemenag Batch 4 2025

 

1. Apa Masalah yang Pernah Dihadapi?

Masalah utama yang pernah saya hadapi dalam penilaian pembelajaran adalah kecenderungan penilaian yang terlalu berfokus pada aspek kognitif semata. Banyak instrumen penilaian yang hanya mengukur kemampuan mengingat dan menjawab soal, sementara aspek afektif dan psikomotorik kurang diperhatikan. Akibatnya, hasil penilaian tidak mencerminkan kemampuan siswa secara utuh, dan potensi mereka dalam hal sikap serta keterampilan sering terabaikan.

Selain itu, kesulitan muncul ketika harus membuat instrumen penilaian yang valid dan reliabel. Menyusun rubrik penilaian, terutama untuk aspek keterampilan dan sikap, bukanlah hal yang mudah. Terkadang indikator yang dibuat terlalu umum, sehingga hasil penilaian menjadi
subjektif dan tidak konsisten antar siswa. Hal ini menimbulkan ketidakpuasan baik dari siswa maupun orang tua.

Masalah lain adalah beban administrasi penilaian yang cukup tinggi. Guru harus menilai banyak siswa dengan berbagai jenis instrumen, mulai dari tes tertulis, observasi, hingga penilaian proyek. Proses ini memakan waktu dan energi yang cukup besar, sehingga terkadang penilaian tidak dilakukan secara maksimal. Akibatnya, ada kemungkinan hasil penilaian tidak sepenuhnya akurat dan kurang bermanfaat sebagai dasar perbaikan pembelajaran.

 

2. Bagaimana Mengatasi Masalah yang Dihadapi?

Untuk mengatasi masalah tersebut, saya mulai mengembangkan instrumen penilaian yang lebih beragam, mencakup aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik. Saya tidak hanya menggunakan tes tertulis, tetapi juga menambahkan penilaian berbasis proyek, presentasi, portofolio, serta observasi sikap sehari-hari siswa. Dengan cara ini, penilaian menjadi lebih komprehensif dan mencerminkan kemampuan siswa secara menyeluruh.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved