Bus ALS Kecelakaan di Muratara
Tekad Merantau Demi Rumah Impian, Rani dan Aldi Sempat Dilarang Pergi Sebelum Laka Maut di Muratara
Pasangan suami istri Aldi Sulistiawan (26) dan Rani (24), beserta balitanya, Bela(1,8), menjadi korban tewas dalam kecelakaan maut bus ALS di Muratara
Penulis: Aggi Suzatri | Editor: Weni Wahyuny
Ringkasan Berita:
- Hambali kehilangan putrinya, menantu, dan cucu pertamanya yang masih balita.
- Pasangan suami istri Aldi Sulistiawan (26) dan Rani (24), beserta balitanya, Bela (1,8), menjadi korban tewas hendak merantau ke Pekanbaru untuk bekerja.
- Kepergian Aldi dan Rani sempat tertunda 2 kali.
TRIBUNSUMSEL.COM - Pasangan suami istri Aldi Sulistiawan (26) dan Rani (24), beserta balitanya, Bela (1,8), menjadi korban tewas dalam kecelakaan maut bus ALS di Muratara, Sumatra Selatan.
Di balik tragedi kebakaran hebat tersebut, terselip kisah memilukan tentang perjuangan Aldi dan Rani, keluarga muda yang ingin hidup mandiri.
Hambali, orang tua dari Rani, tampak tegar meski raut kesedihan mendalam tak bisa disembunyikan saat tiba di Rumah Sakit Bhayangkara Palembang, Kamis (7/5/2026).
Ia mengaku kehilangan tiga anggota keluarga sekaligus dalam satu peristiwa: putrinya, menantu, dan cucu pertamanya yang masih balita.
Hambali menceritakan bahwa perjalanan anak dan menantunya menuju Pekanbaru, Riau, adalah untuk merantau demi membangun masa depan yang lebih baik.
Baca juga: Jerit Histeris Istri Sopir Bus ALS Menunggu Kepulangan Suami, Sempat Tak Percaya Jadi Korban Tewas
Rani dan Aldi memiliki tekad kuat untuk membangun rumah hasil jerih payah mereka sendiri di Lampung.
"Dia izin ingin usaha, hidup mandiri untuk membina rumah tangga. Katanya tidak mau terlalu merepotkan orang tua. Ingin punya rumah dari keringat sendiri," kenang Hambali kepada Tribunsumsel.com, Kamis (7/5/2026).
Kepergian mereka sebenarnya sempat meninggalkan keberatan di hati Hambali.
Pasalnya, ia bersama anggota keluarga lain sudah mulai menyicil bahan bangunan seperti semen dan pasir untuk membangunkan rumah bagi Rani di kampung halaman.
Namun, karena tekad sang anak yang begitu kuat untuk bekerja di perkebunan kelapa sawit di Riau karena ajakan saudara, ia akhirnya luluh dan memberikan izin.
"Itu mau tidak mau (diizinkan) karena anak itu tekadnya benar-benar mau usaha, jadi kami izinkan walaupun berat hati," kata Hambali.
"Padahal aku sama kakak aku sudah patungan belikan pasir, semen, kubuat batako, kami bersihkan lokasinya. Setelah kami bersihkan, dia malah izin ingin merantau," sambungnya.
Perjalanan maut ini ternyata sempat tertunda hingga dua kali.
Sedianya, keluarga kecil ini berangkat pada hari Minggu menggunakan bus yang berbeda.
Mereka sempat tertinggal bus pertama karena perjalanan menuju loket terhambat oleh perlintasan kereta api.
| Update Kecelakaan Bus ALS di Muratara,Polisi Masih Periksa Intensif Kernet Bus yang Jadi Saksi Kunci |
|
|---|
| Kondisi Ngadiono Korban Selamat Bus ALS Terus Membaik, Luka Bakar Sisa 15 Persen |
|
|---|
| Semua Jenazah Korban Lakalantas Bus ALS vs Truk Tangki Sudah Teridentifikasi, 4 Dipulangkan Hari Ini |
|
|---|
| Sisa 3 Jenazah Belum Teridentifikasi, Tim DVI Polda Sumsel Pastikan Hasil Tes DNA Selesai Jumat |
|
|---|
| Detik-detik Menegangkan Evakuasi Truk Tangki Laka Maut VS Bus ALS di Muratara, Nyaris Makan Korban |
|
|---|